20 Tahun Perjalanan Wujud Kecintaan terhadap Wastra Nusantara

Hidupgaya – Kecintaan terhadap wastra Nusantara dibuktikan desainer fesyen Wignyo Rahadi dengan konsisten mengangkat inspirasi dari motif kain tradisional dengan sentuhan modern agar dapat diterima oleh lintas generasi. Selama 20 tahun desainer ini konsisten mengangkat wastra Nusantara dalam setiap desainnya.

Wignyo konsisten mengembangkan desain dan teknik kerajinan tenun ATBM (alat tenun bukan mesin) yang menghasilkan ragam kreasi baru seperti anyaman bintik, salur bintik, dan benang putus. Awal-awal mengenalkan ATBM, Wignyo mengaku sempat dicibir dan ditentang sejumlah desainer, juga pemerintah daerah. “Alasannya ATBM tidak orisinal, beda dengan alat tenun tradisional gedogan yang memang sudah lama dipakai untuk menghasilkan kain tenun,” ujar Wignyo dalam temu media terbatas yang berlangsung di butik Tenun Gaya di bilangan Cipete, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Ulos Sibolga by Wignyo (dok. ist)

Alat tenun gedogan merupakan alat tenun tradisional, pada bagian ujung dipasang pada pohon/tiang rumah atau pada suatu bentangan papan dengan konstruksi tertentu dan bagian ujung lainnya diikatkan pada badan penenun yang duduk di lantai. “Hari gini siapa yang mau memakai alat yang ribet ini? Banyak generasi muda yang tidak mau meneruskan tradisi tenun karena dipandang ribet. Dengan adanya ATBM, menenun jadi lebih cepat dengan hasil tak kalah bagus,” ujar Wignyo.

Terbukti dengan ATBM, Wignyo berhasil melakukan inovasi dengan menciptakan beragam motif, dengan ciri khas etnik kontemporer yang unik dan berbeda dengan yang lain. Tak hanya berkreasi dengan tenun ATBM yang dituangkan dalam bentuk kain, sarung, dan selendang, perancang busana yang memiliki pengetahuan dalam olah benang ini menciptakan rancangan berupa ready to wear (busana siap pakai) seperti blus, gaun, busana pria hingga  kebaya kontemporer.

Desain dan  motif pada kain perajin hasil binaannya memiliki ciri khas kuat, tidak kaku dan lebih mudah diterima pasar, sehingga tidak mengherankan karya busana Wignyo unjuk gigi di pameran maupun pergelaran bukan hanya dalam negeri, namun juga melanglang buana ke Perancis, Rusia, Dubai, Jepang, Thailand, dan Filipina.

Untuk bisa sukses dan konsisten menekuni wastra Nusantara selama 20 tahun, diakui Wignyo tak bisa berjalan sendiri. Untuk itulah ia terbuka untuk bekerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah, korporasi swasta, dan asosiasi atau lembaga swadaya masyarakat, antara lain Bank Indonesia, Dewan Kerajinan Nasional (Derkanas), dan Cita Tenun Indonesia (CTI) dalam memberdayakan dan meningkatkan ketrampilan terkait tenun dan desain para perajin di sejumlah daerah.

“Butuh kolaborasi. Jadi tidak bekerja sendiri,” kata Wignyo seraya menyebut ragam wastra Nusantara yang telah direvitalisasi dan dikembangkan dari hasil kolaborasi dengan berbagai pihak, antara lain  Tenun Masalili, Tenun Buton dan Tenun Wakatobi dari Sulawesi Tenggara, Tenun Pringgasela dan Songket Sumbawa dari Nusa Tenggara Barat, Tenun Tanimbar dari Maluku, Songket Sambas dan Tenun Lunggi dari Kalimantan Barat, Ulos dan Songket dari Sibolga-Sumatera Utara, Kain Tapis dari Lampung, Tenun Baduy dan Batik Lebak dari Banten, Batik Betawi, Batik Pringmas dari Banyumas, Bordir Tasikmalaya dan Lhokseumawe.

Dorong Destinasi Wisata Daerah

Sebagai upaya turut mendorong pengembangan dan penguatan potensi usaha produk fashion sekaligus pariwisata daerah di Indonesia, Wignyo menampilkan koleksi rancangannya dengan menggunakan hasil pengembangan kain tradisional dalam pergelaran busana berlokasi  di destinasi wisata bersejarah yang menjadi unggulan daerah tersebut.

“Tenun Masalili yang ditampilkan di Taman Bakau di Kendari, Sulawesi Tenggara. Ulos  ditampilkan di Pulau Musala di Sibolga, Sumatera Utara.  Sedangkan Batik Betawi yang diperagakan di Pasar Seni Ancol, Jakarta, Tenun Baduy dan Batik Lebak diperagakan di Benteng Speelwijk di Banten, dan Batik Jambi ditampilkan di Candi Muaro Jambi,” beber Wignyo yang juga tergerak untuk membina kerajinan lokal sebagai cenderamata khas di destinasi wisata.

Menurutnya, jika cenderamata itu diberi nilai tambah maka akan meningkatkan perekonomian wilayah setempat. “Topi misalnya tak hanya sekadar tampil apa adanya, tapi juga dimodifikasi agar lebih cantik. Atau manfaatkan bahan yang memang sudah ada di wilayah wisata, misalnya batok kelapa bisa diubah menjadi kerajinan bernilai tambah yang lebih artistik,” beber Wignyo.

Dedikasi Wignyo untuk melakukan pengembangan kerajinan tenun secara berkelanjutan berhasil menuai berbagai apresiasi dari tingkat nasional hingga internasional, antara lain penghargaan UNESCO Award of Excellence for Handicrafts in South-East Asia and South Asia 2012 untuk produk selendang pengembangan motif Rang-rang dari Nusa Penida, Bali. Desainer ini juga diganjar World Craft Council Award of Excellence for Handicrafts in South-East Asia and South Asia 2014 untuk produk selendang pengembangan motif Tabur Bintang – Sumatera Barat dan produk selendang pengembangan motif Ulos Ragidup – Sumatera Utara. Adiwastra Nusantara juga memberinya penghargaan  pada 2018 kategori Selendang Tenun Katun dengan judul Tapis Motif Belah Ketupat.

Komitmen Wignyo dalam membina para pengrajin tenun di berbagai daerah mendapat penghargaan dari Pemerintah berupa UPAKARTI kategori Jasa Pengabdian pada bidang usaha pengembangan industri tenun di tahun 2014. Sedangkan Pengembangan industri tenun yang dilakukan di Sukabumi, Jawa Barat mendapat penghargaan One Village One Product (OVOP) bintang 4 dari Kementerian Perindustrian di tahun 2015.

Busana rancangan Wignyo banyak dikenakan oleh pejabat negara, antara lain Presiden Joko Widodo dan Iriana Joko Widodo, mantan presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan Ani Yudhoyono (almarhum) beserta keluarga besar. Mantan wapres Jusuf Kalla dan Mufidah Jusuf Kalla serta menteri kabinet termasuk yang kerap mengenakan karya Wignyo dengan  keunikannya. “Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew dan Lee Hsien Loong juga memakai koleksi saya. Dan mereka hafal dengan garis rancang yang khas. Tidak hanya pejabat Indonesia, pejabat negara tetangga juga suka dengan koleksi Tenun Gaya (merek yang dibesarkan Wignyo),” ujarnya.

Karya Wignyo juga dipercaya sebagai seragam sejumlah instansi dan acara, di antaranya seragam panitia dan tamu kehormatan acara Trade Expo Indonesia (TEI) sejak 2012 hingga 2020. “Ini promo yang sangat menarik. Orang menjadi lebih kenal Wignyo dan Tenun Gaya. Mereka bisa datang ke butik, memilih kain dan langsung menjahitnya sesuai keinginan,” imbuh Wignyo.

Busana karya Wignyo Rahadi dengan motif Tenun Peringgasela saat show di Jepang (dok. ist)

Di sela aktivitas yang padat, Wignyo terlibat aktif di sejumlah asosiasi, antara lain Indonesian Fashion Chamber (IFC) sebagai National Vice Chairman bidang Institution Relations periode 2019-2024, Dewan Kerajinan Nasional (DEKRANAS) sebagai Staf Ahli periode 2019-2024, Dekranasda DKI Jakarta sebagai Tim Perencanaan Strategis periode 2020-2022, Dewan IKRA Indonesia periode 2020-2022, Dewan Serat Indonesia periode 2020-2024, dan Traditional Textile Arts Society of South East Asia bidang Research & Development periode 2017–2022. Sebelumnya menjabat sebagai Ketua Harian Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) periode 2015-2016.

Wignyo berharap bahwa apa yang dilakukannya dapat juga dilakukan oleh para desainer lain  sebagai bentuk melestarikan sekaligus mengangkat kembali kain tradisional Indonesia.  “Indonesia kaya sekali akan kain-kain tradisional, sayang banget kalau bukan kita yang mengangkat, siapa lagi. Pasar yang menggunakan kain tradisional masih terbuka luas,” tandas Wignyo. (HG)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s