Jalankan Sustainable Fashion, Jangan Boros Belanja Baju

Hidupgaya – Siapa pernah dengar istilah sustainable fashion? Umumnya orang mengaitkan istilah sustainable fashion dengan pemahaman ramah lingkungan yang terhubung dengan industri mode itu sendiri. 

Data menyebut, industri fesyen menyumbang sekira 92 juta ton sampah di dunia setiap tahunnya. Jumlah yang sangat fantastis ini tak lain karena meningkatnya sifat konsumtif masyarakat dalam berbelanja produk fesyen seiring dengan membanjirnya produk di pasar dengan harga terjangkau atau sebutlah murah.

Sustainable fashion merupakan sebuah praktik mode yang beretika, yang diusung untuk menjaga lingkungan demi penyelamatan Bumi dari sampah yang tidak terurai sekaligus melindungi para pekerja pabrik dari perilaku tak bertanggung jawab produsen pakaian yang mengaplikasikan konsep fast fashion (produksi pakaian dalam jumlah banyak dengan harga murah, yang umumnya mempekerjakan buruh dengan upah rendah).

Demi mengejar harga murah, banyak fast fashion menggunakan bahan tekstil sintetis yang tidak mudah terurai oleh lingkungan, atau memakai pewarna kimia secara sembrono sehingga limbahnya membahayakan lingkungan.

Bicara tentang praktik fesyen yang beretika, desainer senior Taruna Kusmayadi mengatakan bukan semata terkait dampaknya terhadap lingkungan. “Sustainable fashion itu mencakup semua spek di fesyen, misalnya mencakup upah tenaga kerja. Layak apa nggak. Sustainable fashion juga bukan cuma menjual produk dengan harga murah. Percuma juga menjual produk murah namun bisnisnya nggak sustain, nggak bisa menggaji karyawan dengan layak,” kata desainer yang biasa disapa Nuna dalam talkshow di IG Live Nina Nugroho Solution bertajuk ‘Sustainable Fashion di Era New Normal’ yang dihelat baru-baru ini.

Nuna menyoroti, banyak dari pekerja pabrik tidak mendapatkan hak layak, misalnya lingkungan pekerjaan yang aman hingga upah yang sangat rendah, tidak sebanding dengan jam kerja. “Ini bukan sustainable fashion,” ujarnya.

Perilaku konsumen yang gemar belanja dan gonta-ganti pakaian, atau membeli pakaian murah yang cepat rusak – dan akhirnya dibuang – juga bukan bagian dari perilaku sustainable fashion. “Konsumen bisa menerapkan sustainable fashion dengan berinvestasi pada pakaian dengan model timeless, membeli busana berkualitas tinggi yang tahan lama hingga betahun-tahun lamanya, dan kreatif padu padan,” ujarnya.

Cara lain adalah pilih busana ramah ingkungan yang mudah terurai misalnya katun, linen, sutra atau wol sehingga tidak menimbulkan limbah yang berbahaya bagi lingkungan. “Baju seken yang tidak lagi dipakai bisa diberikan ke saudara, atau jual saja sebagai baju bekas layak pakai. Di Korea sebagai kiblat mode Asia, baju bekas layak pakai ini dijual di flea market. Dan banyak peminatnya,” beber desainer yang juga penasihat Indonesian Fashion Chamber (IFC).

Nuna menandaskan, untuk menjalankan sustainable fashion bukan berarti kita harus mengubah isi lemari secara frontal. “Mulailah melakukan mix and match baju lama, dan memberikan baju yang tak lagi terpakai ke orang lain yang membutuhkan, dan bijak dalam belanja busana, jangan semata ikut tren dan alasan murah,” saran Nuna.

Untuk kesempatan khusus, sewa saja baju yang hanya sesekali dikenakan. “Cara ini bisa menghemat anggaran membeli pakaian baru sekaligus mengurangi sampah pakaian lama yang harus dibuang,” ujar Nuna.

“Atau bisa juga tetap membeli baju khusus, namun jangan hanya dipakai sekali. Pakai di kesempatan lain dengan gaya yang berbeda, atau jual sebagai baju bekas layak pakai. Ini merupakan sustainable fashion yang bisa dilakukan oleh konsumen,” tandas Nuna. (HG)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s