Lanjut ke konten

2 Balita Ini Cangkok Hati untuk Selamatkan Nyawa dari Cengkeraman Atresia Bilier

06/10/2019

Hidupgaya – Kedua bocah balita itu tertawa riang. Tak tampak jika keduanya pernah memiliki penyakit langka yang membuat keduanya harus menjalani cangkok hati demi menyelamatkan nyawa. Sherlyn Aurellia dan David Huang, nama balita dari Pontianak, Kalimantan Barat, merupakan pasien penyakit langka yang menyerang bayi, atresia bilier.

Keduanya memiliki gejala yang sama saat bayi, buang air warna pucat, kulit dan mata kekuningan serta badan kurus malnutrisi. Sebelum cangkok hati, kondisi kedua anak ini – yang ketika itu masih bayi, nyaris tidak tertolong. Keduanya buang air besar berupa darah.

Untuk selamatkan nyawanya, Sherlyn harus menjalani cangkok hati di usia 1 tahun dengan donor hati ibunya, yang memiliki kecocokan 85%. Sedangkan, David (keduanya bukan kakak adik) juga harus menjalani cangkok hati untuk selamatkan nyawa. Biaya yang dikeluarkan miliaran rupiah untuk menjalani prosedur penggantian hati yang dilakukan di Rumah Sakit Universitas Nasional Taiwan (NTUH).

Atresia bilier merupakan penyakit langka, berupa gangguan saluran empedu pada bayi baru lahir. Saluran empedu mengalami gangguan maka empedu tidak bisa mengalir keluar dari hati, sehingga menyebabkan gangguan serius pada organ ini, hingga hati kehilangan fungsinya.

Laman kesehatan WebMD menyebut, umumnya atresia bilier paling sering ditemukan terjadi di antara usia 2 hingga 4 minggu setelah kelahiran. Gejala khas yang muncul antara lain perubahan warna kulit menjadi kekuningan yang tak kunjung membaik setelah disinar atau dipaparkan sinar matahari. Anak dengan atresia bilier juga kurus namun perutnya bengkak. Menurut pakar cangkok hati dari NTUH, Prof Ming-Chih Ho,  perut membuncit dan badan yang kurus memang sekilas terlihat seperti malnutrisi. Tapi yang membedakan, pada penyakit ini perut buncit hanya salah satu tanda, dan bukan tanda utama. “Anak dengan atresia bilier umumnya buncit perut karena fungsi hati mengalami kelainan sehingga nutrisi sulit diserap,” ujar Prof Ho dalam acara temu media Taiwan Medical Miracles yang dihelat di Jakarta, Sabtu (5/10).

Di Indonesia diperkirakan ada 2000 hingga 3000 anak dengan atresia bilier. Di Taiwan, kata Prof Ho, jumlahnya mencapai 10 ribu anak. Anak atresia bilier bisa ditangani dengan tindakan medis, yaitu prosedur Kasai.

“Pada dasarnya penanganan atresia bilier akan disesuaikan dengan kondisinya. Bila memungkinkan bayi dengan atresia bilier akan dioperasi untuk mengatasi kondisi ini. Prosedur Kasai biasanya dilakukan untuk mengatasi atresia bilier,” ujar Prof Ho.

Pada prosedur Kasai, bagian usus disambungkan ke hati, sehingga cairan empedu mampu mengalir langsung dari hati ke usus. Operasi ini bekerja paling baik jika dilakukan saat bayi berusia kurang dari 2 bulan. Angka keberhasilan sekitar 80% jika dilakukan pada bayi dengan usia kurang dari 3 bulan.

Namun tak selamamya ptosedur Kasai sukses. Pada Sherlyn, prosedur ini gagal sehingga solusi akhir adalah cangkok hati untuk.menggantikan fungsi hati yang rusak.

Prof Ho menambahkan, pasien atresia bilier yang menjalani cangkok hati peluang hidupnya cukup besar. “Pasien cangkok hati di Taiwan ada yang sudah mencapai 30 tahun,” ujarnya.

Keluarga Sherlyn dan David memilih Taiwan untuk cangkok hati dengan pertimbangan harga. Biaya rata-rata perawatan medis di Taiwan biasanya seperlima dari layanan yang sebanding di Eropa dan AS. Di Asia, katakan Singapura, untuk cangkok hati menelan biaya Rp3 miliar, sementara si Taiwan hanya sepertiganya, yaitu Rp1,2 miliar.

Kilas Industri Medis Taiwan

Industri medis Taiwan tergolong maju dengan inovasi medis, teknologi, peralatan terbaru dan memiliki profesional medis terlatih.

Rumah sakit di Taiwan terus meningkatkan standar perawatan dan saat ini ada 13 rumah sakit terakreditasi Joint Commission International (JCI) di Taiwan. Menurut angka dari Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan di Taiwan, lebih dari 420.000 pasien di luar negeri telah menerima perawatan di Taiwan pada 2018 dan lebih dari sepertiga pasien ini berasal dari Asia Tenggara.

Rumah Sakit Universitas Nasional Taiwan (NTUH) adalah salah satu rumah sakit terkemuka di Taiwan. Sistem perawatan kesehatan NTUH memiliki lima rumah sakit cabang yang berlokasi di seluruh pulau. Rumah sakit utama, yang berada di Taipei, memiliki lebih dari 2.600 tempat tidur dan menawarkan beragam layanan khusus dan subspesialisasi.

Sejalan dengan kebijakan diplomatik pemerintah, sejak 2012, NTUH telah mencurahkan upaya untuk membangun kerja sama dengan Indonesia di bidang medis dan rumah sakit. Dengan menandatangani MOU kolaborasi, NTUH berbagi pengetahuan dan keterampilan medis melalui pengaadaan simposium medis, menerima staf medis mereka untuk program pelatihan in-house.

Hingga saat ini NTUH telah menandatangani perjanjian kerja sama resmi dengan 5 rumah sakit besar di Indonesia. Lebih dari 100 profesional medis telah berkunjung ke NTUH untuk menerima pelatihan. (HG)

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: