Lanjut ke konten

Rokok Elektrik Kini Dikenai Cukai. Apakah Prospeknya Bakal Cerah?

25/03/2019

Hidupgaya – Indonesia tampaknya menjadi pasar potensial untuk rokok elektrik. Data Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APV) menyebut, sejak masuk pasar Indonesia pada 2010 hingga 2018, penggunanya sudah mencapai 1,2 juta orang. Rokok elektrik disebut-sebut sebagai ‘pilihan lebih aman’ bagi mereka yang tak mau memiliki ketergantungan nikotin seperti halnya rokok konvensional.

Seperti kita tahu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan sedang berupaya mengumpulkan pundi-pundi uang melalui cukai. Tak terkecuali, rokok elektrik di Tanah Air juga dikenai tarif cukai turut mendukung legalitas industri ini dengan menerapkan tarif cukai. Penerimaan negara dari hasil cukai liquid rokok elektrik boleh dibilang lumayan, selama periode Oktober-Desember 2018 mencapai besaran Rp200 miliar.

Banyak perokok konvensional beralih atau mencoba rokok elektrik karena dianggap menjadi solusi berhenti merokok. Organisasi Keseharan Dunia (WHO) pada 2018 menyebut, sebanyak 30,4% perokok aktif di Indonesia pernah mencoba berhenti merokok, namun hanya 9,596% yang berhasil. Rokok elektrik hampir dua kali lebih efektif dalam membantu perokok berhenti dibandingkan yang lainnya, demikian menurut riset New England Journal of Medicine. Sementara riset Public Health England (2018) menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektrik risikonya lebih rendah 95% dibandingkan rokok konvensional.

American Cancer Society bahkan menyerukan bahwa rokok elektrik seharusnya dipertimbangkan sebagai sebuah solusi untuk mengurangi risiko kanker yang disebabkan oleh rokok tembakau. Laporan New England Journal of Medicine yang dirilis pada 30 Januari 2019 menyebut bahwa rokok elektrik dapat menjadi terapi bagi perokok konvensional dalam mengurangi penggunaan nikotin.

Dengan semangat inilah, salah satu produsen liquid vapor kelas dunia, Nasty Worldwide, berkolaborasi dengan produsen vapor Tanah Air, HEX, melalui PT NCIG Indonesia Mandiri (NIM), mendesain dan menciptakan rokok elektrik jenis baru yang dipandang lebih praktis dan slim. Dalam mendukung industri lokal, NIM juga menggaet PT YNOT Kreasi Indonesia (YKI) untuk produksi e-liquid dan pengepakan catridge (N Pod) NCIG.

Nasty Worldwide sebagai pemilik NCIG Indonesia, sudah membangun bisnis vape ini sejak 2015. Perusahaan asal Malaysia ini, produknya Nasty Juice, telah tersebar di 72 negara meliputi Amerika, Eropa dan Asia. CEO NCIG International, Shariffuddin Bujang, mengatakan kapasitas produksi NCIG Internasional mencapai sekitar 10 juta N Pod dan 150 ribu liter e-liquid per bulan.

Menurut Shariffuddin, brewer lokal Indonesia – khususnya HEX – sudah dapat menghasilkan liquid berkualitas dunia. “Dengan kualitas yang dihasilkan dan jaringan distribusl HEX yang tersebar di kota-kota besar Indonesia, membuat kami yakin kolaborasi Nasty dengan Hex mampu memenuhi kebutuhan pengguna rokok elektrik di Indonesia,” ujarnya optimistis.

Roy Lefrans, Presiden Direktur PT NCIG Indonesia Mandiri, mengatakan, dengan kehadiran NCIG, konsumen rokok mempunyai pilihan untuk menikmati rokok dengan cara yang lebih maju. NCIG melihat ini sebagai peluang untuk memberikan pilihan baru lewat produknya yang bebas TAR.

NCIG akan dibanderol dengan kisaran harga Rp600 ribu dan akan tetap dipasarkan secara ketat untuk konsumen dewasa sesuai batas usia merokok atau di atas 18 tahun.  (HG)

From → Money Talks

One Comment
  1. Aku juga perokok lho ?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: