Lanjut ke konten

Investasi dengan Duit Recehan Sekarang Bisa, Begini Caranya

07/03/2019

Hidupgaya – Jangan buang-buang duit recehan karena bisa jadi sarana investasi loh. Duit recehan bisa buat investasi? Bisa. Dan dengan duit recehan itu kita bisa mengakses instrumen investasi reksa dana. Keren kan?

Sayangnya, belum banyak masyarakat yang paham bahwa investasi tak selalu membutuhkan modal besar. Hal inilah yang menjadi salah satu hambatan ebagian orang untuk mulai melakukan investasi sebagai suatu kebiasaan. Padahal kalau dilihat potensinya, jumlah penduduk Indonesia yang merupakan pasar potensial investasi, khususnya di mutual fund alias reksa dana, sangat besar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, hingga Mei 2018 terdapat 190,5 juta penduduk berusia 15 tahun ke atas di Indonesia. Dari jumlah tersebut, hanya 17,8 persen atau sekitar 33,9 juta penduduk yang setidaknya memiliki satu rekening bank.

Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menyebut, sampai dengan Juli 2018, jumlah investor reksa dana di Indonesia baru mencapai sekitar 820.000 orang. Tingkat inklusi keuangan yang masih rendah ini akhirnya membuat masyarakat kehilangan banyak peluang, terutama dalam mempersiapkan masa depan.

Salah satu hambatan orang tidak melirik reksa dana sebagai salah satu instrumen investasi lebih karena tidak memahami dengan baik. Ini berbeda dengan produk perbankan yang lebih dikenal luas.

Melinda N. Wiria, Chief Executive Officer Raiz Invest Indonesia, mengatakan belum banyak masyarakat yang tahu bahwa sebenarnya investasi bisa dimulai dari jumlah uang kecil -alias recehan – tanpa harus mengubah gaya hidup mereka. Berinvestasi tanpa mengubah gaya hidup tampaknya menjadi hal menarik, karena generasi milenial yang baru mulai bekerja lebih banyak menghabiskan duit mereka untuk membayar cicilan atau kebutuhan hidup.

“Uang receh yang didapatkan dari kembalian belanja setiap hari bisa masuk sebagai dana investasi. Biasanya, banyak yang hanya menyimpan uang receh tersebut di dalam stoples atau celengan, dan seiring berjalannya waktu, tanpa terasa uang yang terkumpul ternyata cukup signifikan jumlahnya. Berinvestasi dengan uang receh, dengan kata lain, sebenarnya memungkinkan mereka untuk mewujudkan mimpi mereka,” kata Melinda di sela-sela temu media menandai peluncuran aplikasi Raiz di Jakarta, baru-baru ini.

Ada apa dengan aplikasi Raiz? Dengan aplikasi ini, pengguna dapat mengumpulkan uang receh dan menginvestasikannya secara otomatis di pasar modal. Diluncurkan dengan nama Acorns di Australia pada Februari 2016, aplikasi ini kemudian berganti nama menjadi Raiz Invest pada April 2018. Menurut George Lucas, CEO of Raiz Invest Australia, hingga Januari 2019, aplikasi Raiz di Australia telah diunduh sebanyak lebih dari satu juta kali dan memiliki lebih dari 175.000 pengguna aktif.

Lucas mengatakan, d Australia, Raiz telah menjadi game changer khususnya bagi kaum milennial dalam menciptakan kebiasaan berinvestasi. “Aplikasi Raiz sangat cocok bagi siapa pun yang belum memahami investasi atau tidak tahu bagaimana caranya untuk mulai berinvestasi. Aplikasi ini meningkatkan kesadaran serta membuka kesempatan untuk berinvestasi, khususnya di kalangan generasi muda. Selain itu, aplikasi ini juga mendidik masyarakat tentang keuntungan berinvestasi secara teratur dalam jumlah kecil,” urainya.

Setelah sukses di Australia, Raiz berekspansi ke Asia Tenggara, dengan Indonesia sebagai negara tujuan ekspansi pertamanya. Di Indonesia, Raiz Invest memposisikan diri sebagai produk yang memberikan pengalaman langsung bagi masyarakat untuk belajar tentang literasi keuangan dan inklusi keuangan.

Cara kerja aplikasi Raiz Invest adalah dengan mengumpulkan uang receh pengguna yang diperoleh dari selisih pembelanjaan. Saat mereka mendaftarkan diri di Raiz, pengguna dapat menghubungkan kartu debit dan/atau e-wallet yang mereka miliki.

Setiap kali pengguna berbelanja dengan kartu debit atau dompet elektronik tersebut, Raiz akan melakukan pembulatan ke atas terhadap setiap transaksi ke kelipatan Rp5.000 terdekat, dan ketika pembulatan yang terkumpul mencapai Rp10.000, maka jumlah tersebut akan diinvestasikan secara otomatis ke reksa dana.

Misalnya, bila pengguna berbelanja Rp23.000, maka akan dibulatkan menjadi Rp25.000 sehingga yang diambil untuk membeli instrumen reksa dana hanya Rp2.000. Bila belanja Rp14.999, Raiz hanya membulatkan Rp15.000 sehingga hanya Rp1 yang diambil untuk investasi.

Saldo yang diambil lama-lama akan terkumpul sampai Rp 10.000 untuk dibelikan instrumen reksadana sesuai keinginan pengguna. Bila belum mencapai Rp 10.000, maka saldo tersebut akan tersimpan di aplikasi.

Saat ini, Raiz telah bekerja sama dengan satu bank yang mempunyai aplikasi mobile banking, dan dua buah e-wallet.

Selain investasi otomatis dari pembulatan transaksi, pengguna juga dapat berinvestasi secara rutin menggunakan fitur cicilan investasi (recurring investment) atau secara seketika dengan fitur ‘lump sum’ untuk meningkatkan investasi di akun Raiz mereka.

Nah, untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana Raiz Invest Indonesia dapat membantu konsumen mengambil langkah awal menuju literasi keuangan, kunjungi http://www.raizinvest.id dan like Facebook fanpage resmi Raiz di @raizinvestid. (HG)

Iklan

From → Money Talk

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: