Lanjut ke konten

Pembuktian Marsha Timothy di Panggung Teater

18/11/2018

Hidupgaya – Pementasan teater Bunga Penutup Abad menjadi satu pertunjukan yang saya tunggu. Selain karena ceritanya kuat, saya penasaran dengan akting Marsha Timothy, yang untuk kali pertama membawakan karakter sentral, perempuan Jawa perkasa yang menjadi ‘simpanan’ orang Belanda, yang dikenal dengan julukan Nyai Ontosoroh.

Adegan Bunga Penutup Abad (dok. ist)

Bunga Penutup Abad pernah dipentaskan pada 2016, Happy Salma ketika itu membawakan karakter Nyai Ontosoroh dengan mantap. Happy sukses membawa ruh kuat dalam menghidupkan Nyai Ontosoroh, kembang desa yang dulunya bernama Sanikem.

Marsha Timothy mengaku deg-degan saat ditawari bermain di teater, karena berarti ia harus berani keluar dari zona nyaman sebagai pemain film. Marsha, yang biasa disapa Caca, memang bukan sekali ini tampil di panggung teater. Setahun lalu, ia bermain dalam teater “Perempuan Perempuan Chairil” dan memerankan tokoh Ida Nasution.

Meski bukan yang pertama tampil di panggung teater, namun di lakon Bunga Penutup Abad ini untuk kali pertama Caca harus terlibat dalam dialog panjang beradu dengan Reza Rahardian, yang membawakan tokoh Minke. Reza sudah terlibat di lakon yang sama tahun sebelumnya.

“Jujur saja ini keluar dari zona nyaman, karena saya orangnya suka demam panggung,” ujar istri aktor Vino Bastian.

Caca menjalani dengan sungguh-sungguh. Sejak Juli 2018, dia menempa diri dan mendalami karakter Nyai Ontosoroh yang anggun namun kuat, khas perempuan Jawa. Terlibat dalam dialog panjang selama 2,5 jam akting Caca patut diacungi jempol. Tak ada yang sia-sia. Semua adegan efisien dan dia berhasil membawa ruh yang berbeda pada Nyai Ontosoroh, keluar dari bayang-bayang Happy Salma, yang kali ini memilih berada di belakang layar sebagai produser.

Menjadi seorang Nyai Ontosoroh, karakter besar dalam Tetralogi Buru karangan Pramoedya Ananta Toer bukan perkara mudah. Nyai Ontosoroh digambarkan sebagai sosok perempuan kuat di tengah feodalisme dan kolonialisme yang ada di Hindia Belanda saat itu.

Pujian datang dari sesama pemain atas jerih payah Caca. “Saya hanya bisa melihat kerja kerasnya Marsha, di sangat luar biasa dengan latihan gila banget,” ujar Reza usai pementasan Bunga Penutup Abad untuk media di TIM, Jumat malam (16/11).

Happy Salma mengaku puas dengan penampilan Caca yang ia nilai luar biasa. “Marsha bisa membedakan antara visual di stage dan kamera di film. Ada teknik yang bisa dikuasai dan menguasai itu. Saya bisa merasakan kegigihan Nyai yang dibawakan Marsha Timothy,” puji Happy.

Wawan Sofwan yang didapuk sebagai sutradara juga memuji kemampuan Caca. “Teater beda dengan film. Dialognya tak bisa diulang. Dan Caca berhasil membawakan karakter Nyai Ontosoroh dengan amat baik,” ujarnya.

Yang perlu diacungi jempol juga Lukman Sardi, yang berperan sebagai orang Perancis, Jean Marais. Aksen Lumkan terasa pas saat membawakan pelukis Perancis, yang merupakan teman Minke. “Lukman seperti orang Prancis, Reza bermain juga baik sekali, Chelsea (Islan – berperan sebagai Annelies) juga. Mereka semua bermain secara sungguh-sungguh,” imbuh Happy.

Teater Bunga Penutup Abad ini masih menghadirkan pemain yang berdedikasi dalam aktingnya dan telah membuktikan kemampuannya di panggung teater. Reza Rahadian sebagai Minke, Lukman Sardi sebagai Jean Marais, Chelsea Islan sebagai Annelies serta pemain cilik berbakat, Sabia Arifin sebagai May Marais, dan tentu saja Marsha Timothy sebagai Nyai Ontosoroh.

Bunga Penutup Abad ini berkisah mengenai kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke setelah kepergian Annelies ke Belanda. Nyai Ontosoroh yang khawatir mengenai keberadaan Annelies, mengutus seorang pegawainya untuk menemani kemana pun Annelies pergi, bernama Robert Jan Dapperste atau Panji Darman. Saat itu Annelies sudah menikah dengan Minke, namun ‘dipaksa’ pengadilan putih Hindia Belanda agar menuju Belanda, ke tanah leluhur ayahnya.

Kehidupan Annelies sejak berangkat dari pelabuhan Surabaya dikabarkan oleh Panji Darman melalui surat-suratnya yang dikirimkan pada Minke dan Nyai Ontosoroh. Surat-surat itu bercap pos dari berbagai kota tempat singgahnya kapal yang ditumpangi Annelies dan Panji Darman.

Minke selalu membacakan surat-surat itu pada Nyai Ontosoroh. Surat demi surat membuka sebuah pintu nostalgia antara mereka bertiga, seperti ketika pertama kali Minke berkenalan dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh, bagaimana Nyai Ontosoroh digugat oleh anak tirinya sampai akhirnya Annelies harus dibawa pergi ke Belanda berdasarkan keputusan pengadilan putih Hindia Belanda.

Cerita berakhir beberapa saat ketika Minke mendapatkan kabar bahwa Annelies meninggal di Belanda. Minke yang dilanda kesedihan kemudian meminta izin pada Nyai Ontosoroh untuk pergi ke Batavia melanjutkan sekolah menjadi dokter. Ke Batavia, Minke membawa serta lukisan potret Annelies yang dilukis oleh sahabatnya Jean Marais. Minke memberi nama lukisan itu, Bunga Penutup Abad.

Adegan Bunga Penutup Abad (dok. ist)

Saat mendapat kabar Annelies meninggal, Nyai Ontosoroh memekik menggelegar menandakan luka hati yang dalam tidak bisa membela anak perempuannya. Dalam adegan itu, Marsha Timothy sukses mengaduk emosi penonton.

Secara keseluruhan, pertunjukan yang digelar atas kerja sama Titimangsa Foundation dan Djarum Bhakti Budaya ini berhasil. Tak seorang pun penonton beranjak hingga pertunjukan berakhir.

Bunga Penutup Abad dipentaskan untuk umum di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, 17-18 November 2018. Sejak jauh hari tiket sudah habis terjual. (HG)

From → What's Happening

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: