Lanjut ke konten

Priscilla, My Beautiful Fighter: Kisah Si Pejuang Tangguh Pantang Menyerah

04/11/2018

Hidupgaya – Saat membaca buku “Priscilla, My Beautiful Fighter” besutan Jacobus Dwihartanto, awalnya saya mengira akan menemukan kalimat-kalimat ‘menye-menye’ yang mengharu biru dan menguras airmata. Namun, nyatanya saya keliru.

Melahap buku setebal 308 halaman ini seolah saya diajak bertualang melalui alur penuturan Jacobus, yang tak lain adalah Ayah Priscilla – yang biasa disapa PeCe – memaknai hidup, sekaligus menghargainya.

Priscilla adalah anak semata wayang pasangan Jacobus dan Caroline yang sangat mereka cintai. Gadis remaja ini menyerah setelah 17 bulan melawan kanker otak yang dideritanya – bahkan meski sudah melalui serangkaian operasi – gadis belia ini tercatat menjalani 9 kali operasi pengangkatan kanker di otaknya. Dia berpulang pada tahun 2011 setelah 17 bulan bertarung melawan kanker otak ganas yang belum ada obatnya.

Jacobus menuliskan kisahnya dalam alur yang menarik. Ini memang cerita sedih, namun sekaligus mengungkap semangat tak kenal menyerah yang ditunjukkan PeCe, juga orangtuanya, dalam mengupayakan pengobatan terbaik untuk putri tunggalnya yang masih duduk di bangku SMP Santa Ursula, Jakarta.

PeCe digambarkan sebagai remaja yang aktif, welas asih dan tetap bersahaja meski dibesarkan dalam keluarga berkecukupan. Masa kecil remaja ini dihabiskan dengan bahagia. Sang Ayah menuliskan buku memoar ini sebagai pemenuhan janji untuk putri tercinta yang telah tiada.

“Ketika PeCe berpulang, saya berjanji untuk menuliskan kisahnya dalam sebuah buku. Butuh waktu setahun untuk proses penulisannya, yang saya kumpulkan dari pemikiran dan keinginan PeCe yang dia tuangkan di buku harian, laptop, blog sampai postingan di Twitter dan Instagram. Butuh waktu lima tahun sejak saya menulis kisah nyata ini untuk sampai ke penerbit,” kata Jacobus di sela-sela peluncuran buku “Priscilla, My Beautiful Fighter” di Veranda Hotel, Pakubuwono, Jakarta, Oktober lalu.

Jacobus mengatakan, buku ini dia susun semata untuk menceritakan perjuangan tak kenal menyerah selama 17 bulan melawan kanker otak yang menderanya. “Tak ada kata menyerah selama dia berjuang mempertahankan hidup. PeCe yang dulu saat kecil takut ke dokter, pasrah dan menerima saat jarum suntik berulangkali menghujam kulitnya selama perawatan di rumah sakit,” ujarnya.

Vonis Bak Ledakan Bom Atom

Di usia belia, 15 tahun, saat kanker otak jenis Glioblastoma Multiforme ditemukan diagnosisnya oleh dokter, PeCe menjalani terapi dengan tabah. Berulangkali dioperasi menjalani pengangkatan jaringan kanker, diikuti oleh proses kemoterapi yang menyakitkan

Glioblastoma Multiforme (GBM) merupakan grade ke 4 dari Astrositoma, yaitu tahap yang paling parah dan sulit diatasi. Sebagai penyandang GBM, PeCe harus menjalani 33 kali radiasi dalam waktu 6 minggu disertai kemo dosis tinggi dalam waktu bersamaan. Suatu rezim pengobatan yang masif dan sulit ditanggung oleh siapa pun, termasuk si belia Priscilla.

Apa sebenarnya GBM? Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), GBM merupakan jenis glioma (tumor otak primer) yang berkembang dari sel glial (sel bukan neuron dalam otak) dengan derajat keganasan tertinggi. Hal ini terjadi karena  jenis glioma ini memiliki beragam reseptor.

GBM sejatinya merupakan jenis kanker langka, yaitu insidennya hanyak 5 dari 100.000 penduduk, jarang terjadi pada anak-anak, dan lebih sering terjadi pada orang dewasa di atas 40 tahun. “Dokter menjelaskan, penderita GBM sering kali resisten terhadap terapi kemoradiasi dan memiliki harapan hidup yang rendah, biasanya kurang dari 1 tahun, walaupun semua terapi sudah dilakukan, termasuk pembedahan diikuti kemoradiasi. Kabar itu seperti bom atom mahadahsyat yang kontan meledak dan menghancurkan kami menjadi puing,” ujar Jacobus.

PeCe boleh dibilang menjalani perawatan terbaik, di Singapura, dan Guangzhou, Cina. Jacobus dan Caroline mengupayakan terapi terbaik untuk putrinya, namun metode pengobatan untuk kanker otak ini sejauh ini belum membuahkan hasil positif. “Namun tekad saya kuat. Saya akan melakukan sebisanya demi kesembuhan PeCe. Hasrat PeCe untuk sembuh juga besar. Semangatnya luar biasa,” ujar Jacobus.

Malang tak dapat ditolak, saat obat-obatan dan terapi tak lagi mampu mengobati sakitnya, PeCe harus menjalani perawatan paliatif. Dia tergantung sepenuhnya pada peralatan medis untuk bertahan hidup. Setelah menjalani 10 kali operasi, termasuk operasi kornea untuk mengembalikan bola matanya, tak ada lagi gelombang otak yang ditangkap dari kepala gadis tangguh itu. “Saat itulah saya mengangguk ketika dokter akan melepas alat bantu pernapasan. Saatnya Prisci pergi. Dia pergi dalam kondisi cantik,” ujar Jacobus.

Priscilla, Pengagum Kendall Jenner yang Pantang Menyerah

Priscilla adalah anak perempuan yang lahir pada 14 Mei 1997, setelah penantian orang tuanya menanti sang buah hati selama 3 tahun. Priscilla hadir memenuhi kebahagiaan orangtuanya yang ingin sekali memiliki seorang anak. Sang ayah sejatinya berharap memiliki seorang anak laki-laki, tetapi setelah melihat kehadiran anak perempuan yang cantik dan menggemaskan membuat hati sang ayah luluh.

Menyandang nama Maria Priscilla Dwihartanto, kehadirannya merupakan suatu kebahagiaan dan karunia Tuhan yang tak ternilai serta melengkapi kebahagiaan di keluarganya. Priscilla tumbuh dengan sehat dan sangat ceria serta hadir di keluarga bahagia dan berkembang menjadi anak yang periang dan aktif di segala bidang seperti olahraga, kesenian (musik dan modern dance), dan fashion. Priscilla kerap mengikuti beragam perlombaan di sekolah.

“Priscilla merupakan seorang anak yang periang dan mandiri. “Kami mendidiknya dengan penuh kehangatan dan menjadi anak yang pengasih juga penyayang,” ujar Jacobus.

Buku “Priscilla, My Beautiful Fighter” berisi kisah nyata perjalanan keseharian semasa hidup Priscilla mulai dari dilahirkan, masa kanak-kanak, masa di sekolah dasar (SD) sampai dengan masa Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Terasa sekali dari penuturan ayahnya, Priscilla sangat menikmati saat-saat bahagia dalam pergaulan dan pertemanan di kehidupan remajanya. Remaja berparas manis ini menghabiskan masa sekolahnya di SD dan SMP Santa Ursula, dan dia sangat bangga menjadi anggota ‘sanurian’ sebutan untuk pelajar di sekolah Santa Ursula.

Buku ini juga memuat kesan dari orang yang mengenal Priscilla dari dekat, termasuk guru sekolahnya di SMP Santa Ursula. Di masa sehatnya, Priscilla dikenal sebagai anak berprestasi tinggi, baik secara akademis maupun di luar pelajaran. Dia disayangi oleh guru dan teman-temannya karena memiliki kedewasaan yang menonjol dengan kematangan dalam sikap dan pemikiran.

“PeCe menjadi guru bagi kami dalam menghadapi semua cobaan yang datang. Dia sangat tabah, bahkan semasa sakit. Ada kalimat bijak dari Audrey Hepburn yang selalu menjadi pegangan PeCe saat dia sakit, yaitu Nothing Impossible. The Word Itself Say I’m Possible,” kata Jacobus mengutip kalimat yang disukai putri pejuangnya.

Sebagai seorang penulis, Jacobus mengakui, saat menuliskan buku ini terasa menyakitkan. “Tetapi saya harus tetap bangkit, tetap memberi semangat dan tetap harus mengambil alih kepemimpinan. Buku ini saya dedikasikan untuk para orangtua yang memiliki kasus yang sama seperti saya sehingga mereka dapat membangun kepercayaan hidupnya untuk keluarga dan sang buah hati,” ujar Jacobus yang menuliskan PeCe sangat mengagumi Kendall Jenner, model kelahiran California, Amerika Serikat, yang memang disukai remaja perempuan karena kecantikan dan ketangguhannya.

Yayasan Maria Priscilla Dwihartanto

Buku seharga Rp125 ribu tersedia di seluruh jaringan toko Gramedia di seluruh Indonesia, sejak 1 Oktober 2018. Jacobus menambahkan, seluruh royalti dari penjualan buku ini akan disumbangkan melalui Yayasan Maria Priscilla Dwihartanto yang memfokuskan pelayanan di bidang pendidikan dan kesehatan.

Jacobus dan Caroline selaku pendiri yayasan tersebut telah memberikan beasiswa bagi siswa-siswa berprestasi, menyumbang buku-buku, furniture, dan lainnya bagi sekolah-sekolah yang membutuhkan.

Saat ini sedang dibangun sebuah rumah sakit dengan nama Priscilla Medical Center (PMC) yang direncanakan akan mulai beroperasi pada pertengahan 2019 di Jawa Tengah.

PMC dibangun dengan harapan agar rumah sakit ini dapat ikut berperan aktif dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat khususnya di daerah Cilacap, Banyumas dan sekitarnya. Jacobus memaparkan, PMC bertekad untuk memberikan layanan kesehatan dengan standar internasional namun dengan tetap mengedepankan unsur-unsur kearifan lokal seperti keramahan, gotong-royong dan kekeluargaan.

PMC merupakan RS umum kelas C yang akan memberikan layanan rawat jalan dan rawat inap. Layanan rawat jalan akan menyediakan 21 poli dokter spesialis, IGD, Hemodialisa, Radiologi (X-Ray dan CT Scan), dan rehab medik.

Sementara layanan rawat inap akan mempunya 153 tempat tidur (VVIP, VIP, kelas 1, 2 & 3) dan didukung oleh 3 kamar operasi, ICU, fasilitas persalinan dan rawat anak. Semua layanan PMC akan didukung oleh sistem pengelolaan informasi kerumahsakitan yang mutakhir guna memberikan pelayanan yang cepat dan nyaman bagi pasien dan karyawannya.

Meski sudah tutup usia, namun PeCe tetap meninggalkan prasasti yang berguna untuk orang-orang yang membutuhkan. Pejuang Tangguh itu telah berpulang, dan semoga tersenyum dengan sayap kecilnya yang cantik menyerupai kupu-kupu. Tenanglah di sana di sisi Tuhanmu, PeCe. (HG)

Iklan

From → What's Happening

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: