Lanjut ke konten

Kenali Ciri Perusahaan yang Menawarkan Investasi Bodong

17/10/2018

Hidupgaya – Banyak masyarakat yang ingin mendapatkan kekayaan dengan cara instan. Faktor penyebabnya antara lain karena belum banyak orang yang melek keuangan. Survei yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan, literasi keuangan di Indonesia 29,7 persen, dengan kata lain tingkat pengetahuan masyarakat tentang sektor keuangan masih rendah.

Tidaklah mengherankan jika masyakarakay banyak yang dirugikan oleh maraknya penipuan berkedok investasi, mulai dari asuransi, money game hingga MLM bodong.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) Djoko H Komara, masyarakat harus jeli dalam membedakan antara investasi yang benar dengan yang abal-abal. “Jangan asal terpikat dengan hasil yang dijanjikan dalam waktu singkat yang tidak masuk akal nilainya,” kata Djoko di sela-sela peresmian perusahaan penjualan langsung PT Joy Business International di Jakarta, Senin (15/10).

Djoko, yang juga menjabat sebagai orang nomor satu di PT Joy Busineness International (Joybiz), memberikan tip mengenali investasi bodong, antara lain:

1.Peserta diminta lebih banyak merekrut

Peserta yang telah menanamkan uang diminta mencari anggota baru dan akan menerima komisi dengan menerapkan skema ponzi atau skema piramida. Nah, skema ponzi dan skema piramida merupakan modus investasi palsu yang membayarkan keuntungan kepada investor dari uang yang dibayarkan oleh investor berikutnya. “Jadi uang yang didapat bukan dari keuntungan yang diperoleh oleh individu atau perusahaan,” ujar Djoko.

2. Tidak ada produk yang dijual

Sumber dana dari skema piramida bukan dari penjualan produk. Djoko menyebut, untuk membedakan antara bisnis ilegal dan resmi, ada pada perbedaan sumber dana yang digunakan untuk membayar. “Kalau ilegal sumber dana berasal dari setoran orang baru, tapi kalau yang legal itu berasal dari penjualan barang. Nah skema ponzi biasanya dana didapat dari orang yang yang direkrut,” bebernya.

Cara kerjanya, anggota lama disubsidi oleh anggota baru hingga akhirnya sampai ke level paling bawah. Saat operasi ini dihentikan, tidak ada lagi aliran dana masuk, sehingga sistemnya berhenti. “Biasanya pemilik bisnis abal-abal ini akan kabur membawa uang hasil perekrutan anggota sebelum anggota yang ditipu menyadarinya,” ujar Djoko.

3. Legalitas perusahaan tidak jelas

Sebelum bergabung di sebuah bisnis, pastikan untuk mengecek legalitas perusahaan terkait. Yang paling gampang adalah, apakah perusahaan MLM atau penjualan langsung terdaftar di APLI. “Biasanya jika ini perusahaan yang menjalankan bisnis betulan, maka akan tercatat sebagai anggota APLI,” ujarnya.

JoyBiz Targetkan Penjualan Ambisius

Lama berkecimpung di bisnis penjualan langsung, Djoko bersama Rudi Lazuardi membesut JoyBiz, perusahaan direct selling lokal yang memasarkan produk suplemen kesehatan, kecantikan, cleansing, hingga alat antiradiasi ponsel. Rudi menjabat sebagai komisaris di perusahaan penjualan langsung yang punya mimpi besar ini.

Bisnis penjualan langsung boleh dibilang menggiurkan. Indonesia bahkan memberikan konntribusi cukup besar bagi nilai industri penjualan langsung di dunia. Menurut data World Federation Direct Selling, total industri ini mencapai US$189 juta pada 2017, naik 1,6 persen dibanding 2016.

Indonesia, dengan jumlah 198 perusahaan direct selling memberikan kontribusi pada dunia sebesar 14,2 persen dengan nilai mencapai Rp18,9 triliun pada 2017, naik 18,7 persen dibanding 2016.

“Perusahaan penjualan langsung ini menciptakan lapangan kerja. Membentuk wirausaha baru yang menjanjikan hasil yang baik jika dijalani dengan sungguh-sungguh. JoyBiz ini perusahaan penjualan langsung yang didirikan agar membuat kita merasa senang dan bahagia, sesuai dengan namanya Joy (kesenangan dalam bahasa Inggris),” ujar Djoko.

Djoko memaparkan, JoyBiz baru beroperasi pada Januari 2018, hingga kini memiliki 15 ribu anggota. “Kami masih menata pondasi di tahun pertama. Ini perusahaan dalam negeri yang memiliki cita-cita besar. Tapi kami optimistis dalam lima tahun ke depan menargetkan penjualan hingga Rp100 miliar per bulan atau kurang lebihnya Rp1 triliun per tahun,” ujar Djoko.

Target tersebut akan dicapai dengan mengandalkan dua model keanggotaan, yaitu anggota yang membuka jaringan pasar dan anggota yang akan menggunakan produk dengan keuntungan mendapatkan harga lebih murah dan bahkan ada cashback.

Djoko mengaku akan menyasar target milenial, dan mengadopsi sistem penjualan online dengan memanfaatkan kekuatan media sosial. “JoyBiz akan menggunakan website sebagai sarana penjualan. Cara ini efektif karena bisa menjangkau lebih banyak orang dan bisa diakses dari ponsel,” bebernya.

Selama 10 bulan beroperasi, bisnis JoyBiz ditopang oleh penjualan produk cleansing, yaitu mouthwash dan stiker antiradiasi handpone. Mouthwash Joy Polinse, kata Djoko, tidak mengandung alkohol. “Produk ini mengandung propolis lebah madu yang dapat mematikan bakteri patogen dan tidak membuat mulut kering. Ke depan untuk produk antiradiasi kami yakin ini bakal mendominasi juga,” ujarnya.

Produk JoyBiz sudah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sebagian bahkan sudah mendapatkan sertifikat halal dari LPPOM MUI. (HG)

Iklan

From → Money Talk

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: