Lanjut ke konten

Angkat Derajat Penenun Hargai Karya dengan Harga Pantas

13/08/2018

Hidupgaya – Indonesia kaya dengan khasanah wastra Nusantara. Seharusnya kekayaan budaya ini bisa mengangkat derajat hidup perajin, namun nyatanya belum demikian. Sehingga diperlukan upaya serius dan berkesinambungan untuk mengangkat taraf kehidupan perajin kain tradisional, salah satunya perajin tenun.

Data Bank Dunia tahun 2017 menunjukkan Indonesia yang merupakan negara padat penduduk dengan populasi sekitar 252 juta jiwa, memiliki lebih dari 28 juta jiwa yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Sebanyak 11,2% di antaranya berpenghasilan kurang dari Rp25.000 (setara US$2) per hari dan sebagian besar bermukim di wilayah pedesaan.

Angka kemiskinan yang didominasi oleh kaum perempuan, menggerakkan Torajamelo untuk turut berperan aktif dalam mengatasi kemiskinan dan kekerasan yang mereka alami.

Torajamelo merupakan komunitas yang peduli dengan seni dan budaya, khususnya dalam bidang tenun, dan memiliki tujuan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi para perempuan penenun, sekaligus melestarikan dan meremajakan seni budaya tekstil tenunan tangan Indonesia.

Terkait dalam upaya lebih mengenalkan tenun ke masyarakat lokal juga internasional, Torajamelo menghadirkan koleksi kain tenun bertajuk ‘Menenun Cerita Indonesia’ pada ajang Asian Textiles Exhibition, atau Pameran Wastra Asia, di Museum Tekstil Jakarta. Perhelatan ini berlangsung selama sebulan penuh, 9 Agustus – 9 September 2018.

Pendiri Torajamelo, Dinny Jusuf, mengatakan ajang Asian Textiles Exhibition diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian acara menyambut Asian Games 2018. Pameran Wastra Asia ini mengusung tema ‘Share Roots, Diverse Growth, Celebrating Asia’s Textiles Traditions’ dan diselenggarakan oleh Pemerintah Kota DKI Jakarta. “Kami menjadi mitra Pemkot DKI Jakarta dalam perhelatan ini bersama Wastra Indonesia,” kata Dinny dalam temu media di Jakarta, baru-baru ini.

Di ajang ini, Torajamelo menampilkan koleksi kain tenun karya para perempuan penenun dari Toraja dan Mamasa, Sulawesi dan Adonara dan Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Di koleksi kali ini, Torajamelo menampilkan inovasi kain tenun dengan warna yang lebih kekinian serta bahan yang lebih popular sehingga kain tenun semakin digemari oleh masyarakat umum, khususnya pecinta kain tradisional.

Agar lebih diterima masyarakat luas, koleksi kain tenun Torajamelo yang ditampilkan bukan saja dalam wujud kain tetapi juga busana trendy yang dibuat dari tenun, aksesoris serta cenderamata berkualitas. Terlihat chic dikenakan serta tidak terkesan kuno.

Asian Textile Exhibition alian Pameran Wastra Asia menampilkan bukan saja tradisional dari Indonesia saja, ajang ini juga menampilkan berbagai kain dari negara-negara Asia lainnya. “Meskipun terdapat keragaman bangsa dan budaya di benua Asia, namun terdapat banyak kesamaan yang mengkaitkan beberapa bangsa satu sama lain,” kata Dinny. Salah satunya yang menjadi benang merah budaya di Asia adalah seni tenun.

Dinny mengatakan, Torajamelo dalam 10 tahun terakhir aktif membina para perempuan penenun di beberapa desa di Toraja. “Kami ingin mensejahterakan taraf hidup penenun. Agar karya mereka dihargai pantas,” ujarnya.

Dinny menambahkan, para penenun di daerah-daerah terpencil didorong untuk membuat kain tenun tangan asli yang memiliki banyak ragam keunikan dari masing-masing daerah tersebut.

Dinny berkisah, awal berdirinya Torajamelo pada 2008, didasari kecintaannya akan kain tradisional Nusantara, khususnya kain tenun. Karena suaminya berasal dari Toraja, Dinny Jusuf ingin berbuat sesuatu untuk daerah keluarga suaminya tersebut.

“Saya mendirikan Torajamelo karena saya melihat masih banyak kemiskinan dan kekerasan yang dialami para perempuan di pedesaan sehingga saya pun tergerak ingin membantu agar para perempuan di desa-desa terpencil di seluruh Indonesia dapat bangkit dan memperbaiki kehidupannya,” bebernya.

Torajamelo, kata Dinny, ingin menghormati para perempuan penenun sebagai artisan dan menghargai hasil karya kain tenun mereka dengan harga yang pantas. Hal ini mereka lakukan untuk menyakinkan para penenun bahwa kain tenun merupakan pekerjaan yang menjanjikan, yang dapat menjadi sumber penghasilan mereka. “Hingga kini, banyak sudah tertarik untuk terus berkarya dengan menenun sekaligus merangsang generasi muda untuk tertarik terjun menjadi penenun,” ujarnya.

Torajamelo, imbuh Dinny, fokus kepada pengembangan komunitas penenun, khususnya penenun yang menggunakan alat tenun gedhog, sehingga mereka dapat menghasilkan uang sembari bekerja dari rumah dan tetap dapat menjaga keluarga mereka. (HG)

Iklan

From → Fashion Spread

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: