Lanjut ke konten

Tip Investasi Properti yang Menguntungkan ala Pendiri Hanson Group

03/06/2018

Hidupgaya – Meski kondisi perekonomian agak lesu, namun tampaknya bisnis properti tetap diminati. Orang tetap antusias membeli rumah, khususnya di lokasi strategis, karena harganya terus naik seiring perjalanan waktu. Ini tentu baik untuk memetik gain (keuntungan) investasi di masa mendatang.

Hal ini diakui oleh Benny Tjokrosaputro. Pendiri Hanson Group ini mengatakan berinvestasi di properti memang menggiurkan karena memberikan imbal hasil yang tinggi. Ia bahkan memperkirakan backlog perumahan (selisih pasokan dan permintaan) di seluruh Indonesia mencapai kisaran 15 juta unit. Nah, selisih ketersediaan rumah dengan permintaan yang tinggi akan membuat harga rumah terus melambung.

Harga rumah di kota besar terus melambung, bahkan tidak terjangkau untuk sebagian masyarakat. Karena alasan inilah, pengembang mulai melirik pinggiran kota dengan harga yang terjangkau untuk membangun perumahan. “Meski dibeli di pinggiran kota, namun juga tidak boleh sembarangan. Perlu mata, telinga, dan penciuman yang tajam untuk melihat peluang bisnis,” kata Benny dalam acara buka puasa bersama media yang diselenggarakan PT Hanson International Tbk di Jakarta, baru-baru ini.

Membeli tanah yang bisa ‘naik kelas’ diakui Benny menjadi salah satu rahasia suksesnya di bidang properti.

Saat membeli rumah, kata Benny, untuk lokasi di pinggiran kota orang mempertimbangkan transportasi dari dan ke tempat kerja. “Transportasi yang selalu tepat waktu kan sekarang kereta api. Kereta api sekarang sudah bagus. Maka, para pengembang bisa membeli tanah naik kelas yakni tanah yang dekat dengan stasiun kereta api,” ujarnya.

Membeli tanah yang dekat dengan stasiun kereta api, ujar Benny merupakan salah satu cara memperoleh keuntungan yang besar di bidang properti. “Tanah tidak hanya naik mengikuti gerak inflasi tapi naik kelas,” ujarnya.

Tanah naik kelas yang dimaksud Benny adalah, jika tanah itu awalnya hanyalah lahan tandus dan hanya ditanami singkong, namun bisa diubah menjadi lahan bisnis misalnya perumahan yang diincar konsumen, itulah yang disebut sebagai tanah naik kelas.

Jeli Memilih Investasi Properti

Dalam kesempatan yang sama, perencana keuangan Aidil Akbar mengatakan untuk menjadikan properti sebagai instrumen investasi, investor mesti berhati-hati mempertimbangkan karakteristik dari properti itu sendiri.

“Beberapa properti sangat menjanjikan, namun tetap hati-hati karena masing-masing properti memiliki pasar yang berbeda. Itu akan menentukan hasilnya,” ujarnya.

Aidil mencontohkan perumahan elit di Pondok Indah memiliki harga yang tinggi. Harga tanahnya mencapai Rp60 juta per meter persegi, sehingga dijual setidaknya di atas Rp10 miliar. Membeli rumah di kisaran harga ini untuk tujuan investasi dinilai Aidil sangat berisiko. Alasannya jelas, siapa yang mau membeli  rumah dengan harga setinggi itu. “Mungkin ada yang mau, selevel pengusaha atau pejabat daerah. Namun butuh berapa lama untuk terjual,” ujarnya.

Karena alasan inilah, Aidil menyarakan untuk tidak membeli rumah yang terlalu tinggi harganya apabila tujuannya untuk instrumen investasi. Wajib diingat, risiko tertinggi dari investasi tersebut adalah likuiditas. “Kalau tujuannya untuk investasi harus mencari rumah yang laku dijual. Belilah rumah yang masih terjangkau namun lokasinya bagus (transportasi mudah) dan menjanjikan imbal hasil yang baik di masa mendatang,” pungkasnya. (HG)

 

Iklan

From → Money Talk

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: