Skip to content

Kerja Bersama Wujudkan Indonesia Bersih

13/03/2018

Hidupgaya – Permasalahan sampah tidaklah sepele, malah boleh dibilang sangatlah pelik. Kesadaran dan komitmen semua pihak yang terlibat dalam mata rantai persampahan untuk mengupayakan pengelolaan sampah yang terintegrasi, holistik dan berkelanjutan sangat diperlukan untuk mewujudkan Indonesia bersih.

Nah, menjawab tantangan tersebut, Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment (PRAISE) sebagai asosiasi yang lahir dari sebuah komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan lingkungan bekerja sama dengan Sustainable Waste Indonesia (SWI) menyelenggarakan studi program Bali BERSIH.

Ketua Umum PRAISE Sinta Kaniawati mengatakan, setiap pihak memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan sampah secara terintegrasi dan berkelanjutan. “Hal ini sejalan dengan Visi PRAISE untuk secara aktif mendukung penerapan pengelolaan sampah kemasan di Indonesia secara holistik, terintegrasi dan berkelanjutan dengan melibatkan semua pihak dengan peran dan fungsinya masing-masing,” dalam temu media di Jakarta, baru-baru ini.

PRAISE didirikan oleh 6 perusahaan yaitu PT Coca-Cola Indonesia, PT Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Nestle Indonesia, PT Tetra Pak Indonesia, PT Tirta Investama (Danone), dan Yayasan Unilever Indonesia.

Pada tahun 2017, PRAISE memulai program Bali BERSIH dengan menjalankan sebuah studi yang ambisius untuk memetakan ekosistem sampah di Bali. Program ini didukung oleh empat kementerian yaitu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Pemetaan mendetail mengenai rantai nilai sampah di Bali akan membantu PRAISE untuk mengidentifikasi tantangan dan peluang; memperbaiki proses dan prosedur; mendorong perubahan perilaku; mencari model bisnis daur ulang yang layak; mengajak partisipasi pemangku kepentingan lainnya; dan merancang intervensi jika diperlukan.

Semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan sampah di wilayah Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan dipetakan untuk menentukan peran mereka dalam ekosistem sampah, termasuk pemerintah kabupaten dan kota setempat, desa adat, bank sampah masyarakat, jaringan pengumpulan swasta dan pemerintah, masyarakat, industri daur ulang, sekolah dan institusi lainnya.

Dini Trisyanti, peneliti dari SWI dalam kesempatan yang sama mengatakan, program Bali BERSIH tahap pertama dilaksanakan mulai Desember 2017 sampai April 2018. Program ini meliputi kajian lingkup dan kelayakan, pemetaan kondisi pengelolaan sampah saat ini termasuk rekomendasi program intervensi yang dapat dilakukan PRAISE.

Dini menambahkan, kondisi pencemaran sampah laut di Bali memprihatinkan dan dampaknya terhadap pariwisata semakin menjadi perhatian Internasional. Tindak nyata dan inovasi untuk menangani pencemaran dengan aksi nyata di darat sangat diperlukan.

Bali BERSIH diharapkan bisa mendorong percepatan fungsi ekosistem daur ulang dan pemanfaatan kembali sampah sesuai prinsip Resource Efficiency dan Circular Economy, meningkatkan efisiensi pengumpulan sampah sehingga mengurangi potensi kebocoran sampah ke laut dan juga memfasilitasi kolaborasi para pemangku kepentingan.

‘‘Kami berharap program yang telah dijalankan PRAISE dapat mendorong pihak-pihak dari berbagai sektor pengelolaan sampah mau bergabung menjadi anggota PRAISE agar bisa bersama-sama mencari terobosan serta solusi bagi pengelolaan sampah yang lebih baik dari hulu hingga hilir,” tandas Sinta. (HG).

Iklan

From → What's Happening

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: