Lanjut ke konten

Kuman Kebal Antibiotik Mencemaskan, Apoteker Harus Lebih Berperan Edukasi Masyarakat

10/09/2017

Hidupgaya – Resistensi antibiotik menjadi masalah serius. Bukan hanya di Indonesia, namun juga dunia. Salah satu penyebab resistensi antibiotik akibat penggunaan obat untuk melawan bakteri ini tak sesuai indikasi.

Sejak ditemukan antibiotik oleh Alexander Flemming pada tahun 1920-an, penggunaan antibiotik kini sudah menyebar ke seluruh dunia. Namun kecenderungan yang terjadi, penggunaan antibiotik secara berlebihan justru menimbulkan kerugian. Tidak hanya bagi orang yang mengonsumsi antibiotik, pada sisi lain akan berdampak lebih luas.

Kuman kebal antibiotik kian mencemaskan

Mengingat kuman kebal antibiotik ini krusial, apoteker didesak lebih berperan aktif dalam sosialisasi hal ini kepada konsumen. Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI  Maura Linda Sitanggang di sela-sela  Temu Ilmiah Apoteker sekaligus Rapat Kerja Nasional Ikatan Apoteker Indonesia 2017 bertemakan Improving an Accessible and Trusted Pharmacist di ICE BSD Tangerang, Rabu (6/9).

Maura menekankan pentingnya peran apoteker dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan antibiotik yang tidak tepat sehingga menjadi kontributor utama pada resistensi bakteri. “Melalui sosialisasi dan edukasi kepada konsumen, apoteker dapat pula membantu dokter dan masyarakat dalam penggunaan antibiotik yang benar dan tepat,” ujarnya.

Bagaimana jika suatu hari antibiotik tidak lagi efektif melawan bakteri? Hal itu sungguh mengkhawatirkan, mengingat selama ini antibiotik merupakan obat yang menjadi andalan dalam mengobati berbagai jenis penyakit yang disebabkan bakteri, mulai dari infeksi kulit dan telinga hingga infeksi darah yang mengancam jiwa.

Bakteri mampu berkembang dengan sangat cepat. Bakteri juga mampu beradaptasi dan bertahan terhadap efek antibiotik. Ini yang disebut dengan resistensi antibiotik, yaitu ketika antibiotik tidak mampu memusnahkan bakteri yang sebelumnya dapat ditangani.

Penggunaan antibiotik berlebihan dan secara tidak tepat merupakan masalah yang dapat mendorong resistensi, sekaligus berpotensi menimbulkan efek samping dan reaksi alergi.

Resistensi antibiotik kini disebut sebagai masalah kesehatan global. Tidak seperti obat lain, penggunaan antibiotik memiliki konsekuensi yang lebih luas. Ketika seseorang menyalahgunakan antibiotik, berarti membantu menciptakan mikroorganisme yang resisten, dengan kemungkinan menyebabkan infeksi baru dan sulit diobati pada diri sendiri dan orang di sekitarnya.

Dalam satu dasawarsa terakhir, imbuh Maura, hampir di seluruh dunia tengah mengedukasi betapa pentingnya penggunaan antibiotik agar tak terjadi resistensi bakteri.

Resistensi bakteri terhadap antibiotik adalah kemampuan alamiah bakteri untuk mempertahankan diri terhadap efek antibiotik. Akibat kemampuan ini, antibiotik menjadi kurang efektif dalam mengontrol atau menghentikan pertumbuhan bakteri. Bakteri yang menjadi target operasi antibiotik beradaptasi secara alami untuk menjadi  resisten atau memiliki ketahanan terhadap antibiotik sehingga tetap melanjutkan pertumbuhan demi kelangsungan hidupnya.

Maura menambahkan, resistensi bakteri terhadap antibiotik melalui kontribusi manusia menjadi faktor risiko penting. “Misalnya melalui penggunaan antibiotik yang tidak tepat terkait dengan penggunaan antibiotik yang irrasional,” ujarnya. Pemakaian antibiotik sembarangan dapat mengurangi efikasi antibiotik dan menajdikan kuman kebal.

Hal lain yang berkontribusi kuman kebal antibiotik adalah akibat ulah konsumen yang menggunakan obat ini secara berlebihan, atau konsumen tetap minum antibiotik yang dibeli dari toko obat untuk mengobati penyakit yang sebenarnya tak membutuhkan antibiotik, misalnya penyakit yang disebabkan oleh virus sepertu flu. “Antibiotik yang bisa dibeli bebas tanpa resep dokter turut berkontribusi pada resistensi antibiotik ini,” beber Maura.

Oleh karenanya, penjualan antibiotik harus melalui resep dokter dan para apotekerlah yang berkewajiban memantau penggunaan resep tersebut bagi kesehatan pasien.

Di kesempatan yang sama Ketua Umum Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Nurul Falah Eddy Pariang menambahkan, setiap apotek wajib memiliki apoteker. “Kalau masyarakat menemukan apotek yang tidak memiliki apoteker (atau apoteker tidak berada di tempat), segera mencari apotek lainnya atau ke apotek keluarga,” ujarnya.

Apoteker yang tidak berada di tempat namun meloloskan penjualan obat dianggap telah melanggar displin, kata Nurul, dengan konsekuensi dapat dicabut STR-nya (Surat Tanda Registrasi, semacam Surat Izin Mengemudi bagi pengendara motor).

Saat ini terdapat 65-70 ribu apoteker tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah ini belum memadai dibandingkan dengan kebutuhan nasional untuk apoteker yang bisa menjangkau hingga ke pedesaan, daerah-daerah terpencil maupun perbatasan.

Oleh karenanya, IAI mendesak pemerintah untuk lebih memperhatikan para apoteker seperti tenaga-tenaga medis lainnya. Khususnya dalam pemberian kesempatan dan tambahan insentif bagi apoteker-apoteker yang berada di pedesaan, daerah terpencil maupun perbatasan. “Kami berharap penempatan apoteker sebagai aparatur negeri sipil (ANS) sudah harus ditinjau kembali,” kata Nurul. (HG/dokterdigital)

Iklan

From → Beauty & Health

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: