Lanjut ke konten

Ada Doa, Cinta dan Harapan dalam Warnatasku

24/08/2017

Hidupgaya – Merek tas lokal yang kental dengan sentuhan etnik karena mengusung kain-kain Nusantara sebagai bahan utama dipadu dengan kulit, Warnatasku, kembali melakukan gebrakan.

Merek tas yang didirikan oleh mantan pramugari Saudi Arabia Airlines, Ervina Ahmad bersama suaminya, Yudha Pratomo, akan ikut serta dalam pameran di Berlin, Jerman, lalu diikuti dengan rencana perjalanan keempat kota di empat negara yaitu Moscow, Hamburg, Vienna, Milan. Singkat kata, Warnatasku melakukan perjalanan Tour to Europe 2017 sebagai bagian promosi produk.

Ervina mengatakan, Warnatasku akan mengikuti dua aktivitas di kota-kota tersebut, yaitu fashion show dan pameran. Mengambil tema “Treasure of Maumere” yang kurang lebih diterjemahkan sebagai “Harta Karun dari Maumere” Warnatasku menggunakan bahan utama tenun Maumere, Nusa Tenggara Timur.

Perjalanan “go international” ini berlangsung selama sebulan penuh, 27 Agustus – 27 September 2017. Dalam perjalanan ke Eropa ini, Warnatasku mengajak beberapa desainer yaitu Handy Hartono, Kunce Manduapessy dan Dana Duryatna untuk  keperluan fashion show.

Ervina Ahmad menjelaskan filosofi tenun Maumere

Yudha Pratomo yang lebih banyak terlibat dalam pengembangan bisnis mengatakan, Warnatasku mempunyai nilai tambah berupa kulit dan kain tradisional. “Tas kulit banyak, kain tradisional juga banyak. Namun kami memberikan nilai tambah pada produk, yaitu garansi seumur hidup. Tas bisa diwariskan ke anak cucu,” kata Yudha dalam temu media di galeri Warnatasku di Jatibening, Bekasi, Jabar, didampingi Ervina Ahmad.

Alasan memilih kain tenun Maumere sebagai materi utama tas, menurut Yudha adalah untuk lebih memperkenalkan kekayaan kain Nusantara ke masyarakat internasional. “Banyak masyarakat internasional yang tahunya Indonesia hanya Bali,” ujar Yudha.

Ervina, yang lebih banyak terlibat langsung dalam mendesain tas, menambahkan kain tenun memiliki kisah panjang dan magis. Di balik kain tenun yang dibuat oleh para perajin atau “Mama-mama” (panggilan ibu-ibu di NTT) memiliki makna dan filosofi tersendiri.

Ervina mengaku terjun langsung ke empat desa di Maumere NTT dalam pencarian kain tenun. “Saya langsung melihat prosesnya. Jika banyak yang bilang tas kami mahal, memang harus mahal. Sebab proses menenunnya sendiri sangat rumit dan lama,” kata Ervina.

Dari mulai memilih bahan-bahan alam, memintal benang, membuat pola pewarnaan, lalu pencelupan hingga 30 kali membuat proses pembuatan kain tenun membutuhkan waktu berbulan-bulan. Untuk menghasilkan satu lembar kain tenun dibutuhkan waktu 2 hingga 4 bulan. Uniknya, tidak ada kain tenun yang sama persis polanya.

Nilai historis kain tenun itu mahal dan wajib diapresiasi dengan memberikan harga yang pantas. “Satu lembar kain tenun bisa dihargai setara sapi besar di sana untuk seserahan pengantin,” ujar Ervina yang mendapatkan hadiah selembar kain tenun berusia lebih dari 100 tahun dari tetua suku saat berkunjung ke Maumere baru-baru ini.

Mama-mama perajin tenun di Maumere, kata Ervina, menggunakan warna alam dalam setiap karyanya. “Menggunakan pewarna alam tidak mudah. Pewarnaannya bisa menggunakan mengkudu, kunyit, kapur sirih dan itu butuh keterampilan khusus,” kata dia.

Untuk membuat warna oranye, mama-mama di Maumere mencampur kunyit dan kapur sirih. Lalu warna pink mencampur kapur sirihnya sedikit.

Satu lagi keunikan tenun Maumere menurut ibu dari empat anak ini adalah, tenun Maumere memiliki filosofi doa, cinta, dan harapan.

Di setiap corak dan motif yang dibuat oleh para perajin, terdiri dari berbagai motif yang menggambarkan keluarga. Dari mulai motif utama, kemudian dilanjutkan dengan anggota keluarga seperti ayah, ibu, anak-anak hingga garis keturunan.

“Pada tenun Maumere, corak yang besar merupakan motif utama. Goresan selanjutnya melambangkan ayah, ibu, dan cucu-cucunya. Jadi maknanya sangat dalam sekali. Ada cinta, doa, dan harapan di setiap tenun yang dibuat,” jelas Ervina.

Ervina menambahkan, doa yang dilantunkan mama-mama saat menenun melambangkan garis kesuburan di dalam keluarga. “Filosofinya dalam dan kami bersyukur bisa bekerja sama dengan mama-mama penenun di Maumere. Membantu produksi mereka berkelanjutan. Membuat mereka bersemangat menenun,” imbuhnya.

Ervina mengatakan akan memboyong tas  dengan beragam model dan ukuran ke pasar internasional di antaranya dengan jenis tas tangan, tote, tas besar, clutch, dan lainnya. Untuk jenis serta ukuran pun disesuaikan dengan selera orang-orang Eropa. “Orang Eropa suka tas-tas besar yang muat banyak. Beda dengan orang Amerika yang suka tas medium misalnya model satchel. Sedangkan orang Indonesia lebih suka tas ukuran kecil meski tubuhnya besar,” ujarnya.

Harga tas yang diproduksi Warnatasku beragam, tergantung materi kulit dan kain tradisional yang digunakan. Secara umum tas dari bahan kulit sapi dan kain tradisional berkisar Rp1 juta hingga Rp5 juta per buah.

Tas model clutch berbahan kulit ular dari Warnatasku

“Harga ditentukan dengan materi dan kainnya. Kalau materi kulitnya dari lulit lizard (buaya), harganya bisa lebih mahal,” kata Ervina seraya menunjuk sebuah tas yang dibanderol di atas Rp9 juta.

Ervina mengatakan, untuk kulit buaya dan ular, Warnatasku mendapatkan pasokan dari penangkaran yang bersertifikasi sesuai aturan mengenai perlindungan hewan, yakni sertifikat CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora).

“Konsumen luar negeri kritis. Mereka akan bertanya dari mana bahan kulitnya. Kami berusaha mendapatkan bahan kulit buaya dan ular dari penangkaran bersertifikasi,” pungkasnya. (HG)

Iklan

From → Fashion Spread

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: