Lanjut ke konten

Pemahaman Masyarakat tentang Bahaya Produk Palsu Masih Minim

20/06/2017

Hidupgaya – Apa jadinya jika kita membeli benda bermerek namun belakangan diketahui itu palsu, padahal harganya tidak murah? Dongkol, tentu. Rugi, sudah pasti. Sayangnya barang palsu mudah didapat di segala penjuru dan mampu mengecoh konsumen.

Tas LV Palsu

Pelaku pemalsuan kini makin pintar, mereka bisa menciptakan produk yang sangat mirip dengan asli dan sulit dibedakan oleh orang awam. Tas LV misalnya, banyak kita temukan versi palsunya mulai dari sebutan KW3, KW2, KW1, semi ori, semi premium atau kualitas mirror (yang sangat mirip dengan aslinya).

Terkait dengan maraknya pemalsuan, menurut Ketua Umum Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) Widyaretna Buenastuti, banyaknya peredaran barang-barang palsu di masyarakat disebabkan oleh minimnya pemahaman masyarakat akan bahaya pemalsuan dan tentang produk palsu.

“Misalnya produk software. Banyak pembeli yang mencari harga yang murah, tetapi mereka tidak tahu bahwa ada kerugian yang terpapar dari produk bajakan yang berpotensi tinggi dalam bahaya serangan dunia maya yang berasal dari trojan, botnet, dan malware,” kata Widyaretna dalam buka bersama media di Jakarta, Selasa (20/6).

Berdasarkan State of Internet Report yang dirilis tahun 2015 oleh Akamai Technologies, Inc, Indonesia berada di posisi ke-3 setelah Cina dan Amerika Serikat sebagai negara sumber serangan dunia maya paling banyak di dunia.

Dengan tingkat pembajakan yang tinggi, korban utamanya adalah para pengguna produk bajakan itu sendiri yang bukan hanya individu namun juga perusahaan dan negara.

Untuk meminimalkan peredaran barang palsu, penting melakukan sosialisasi pentingnya penghargaan dan perlindungan kekayaan intelektual terus dilakukan sejalan dengan langkah menggaungkan semangat Peduli Asli, yang merupakan komitmen yang akan dijaga oleh MIAP untuk melindungi konsumen dari ancaman produk palsu.

Tas LV Palsu

“Dalam setiap kesempatan, kami berharap bahwa kerja sama dengan para pemangku kepentingan pemberantasan barang palsu terus terjalin, demi melindungi konsumen dan masyarakat secara luas,” imbuh Widya.

Sayangnya, masyarakat Indonesia masih suka mengenakan produk bajakan, alasanya terkait harga lebih murah. Bila di 2010 yang pernah menggunakan software bajakan sejumlah 62% maka di 2014 mengalami peningkatan menjadi 85%.

Namun dari hasil tersebut ada hal yang menyenangkan bahwa 38% pengguna saat ini mulai ada keinginan untuk membeli produk yang asli setelah mengetahui kerugian menggunakan software bajakan atau palsu.

Untuk lebih meningkatkan kesadaran menggunakan produk asli, MIAP terus berkolaborasi dengan  pemangku kepentingan kekayaan intelektual untuk melakukan edukasi Peduli Asli.

Widya lebih lanjut menjelaskan, selama ini yang telah dilakukan MIAP, di antaranya kampanye Indonesia tolak barang palsu dan bajakan yang dilakukan pada 2012, 2014 dan 2016 bersama DJKI dan Angkasa Pura di bandara Soekarno Hatta Jakarta dan bandara Djuanda Surabaya.

Sepatu Christian Louboutin palsu

MIAP juga bekerja sama dengan Kementerian Hukum dan HAM, untuk mengadakan sosialisasi di 33 bandara.

Di sisi lain, penegakan hukum yang dilakukan terkait dengan pelanggaran kekayaan intelektual yang dilindungi pun sudah jelas. Undang-Undang Merek No. 20 Tahun 2016 serta Undang- Undang Hak Cipta No. 28 Tahun 2014, memberikan saksi yang jelas bagi pelanggaran merek maupun hak cipta.

Selain itu juga, konsumen diindungi oleh Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Pengawasan terhadap pelanggaran kekayaan intelektual, khususnya terkait merek juga dilakukan secara berkesinambungan oleh jajaran Direktorat Merek, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kemenkumham RI.

“Keselamatan dan keamanan konsumen masih menjadi prioritas nomor satu, kalau kita berbicara tentang dampak dari peredaran palsu. Untuk itu melalui kegiatan pengawasan yang efektif dan efisien, kami berusaha seoptimal mungkin mengurangi dampak yang ditimbulkan,” ujar Direktur Merek DJKI Fathlurachman.

Direktorat Penyidikan dan Penyelesaian Sengketa Ditjen Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM mencatat sepanjang 2016 telah menangani 33 kasus yang didominasi oleh kasus sengketa merek.

Sementara dari beragam penindakan yang dilakukan terkait barang palsu atau bajakan telah menimbulkan potensi kerugian negara hingga puluhan triliun rupiah. (HG)

 

Iklan

From → Money Talk

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: