Lanjut ke konten

Suka Posting Pura-pura Sakit di Sosmed? Bisa Jadi Mengidap Gangguan Ini

18/05/2017

Hidupgaya – Generasi milenial atau generasi langgas banyak menjadi buah bibir belakangan ini. Generasi langgas ditujukan bagi mereka yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000.

Generasi langgas berusia 17-37. Rentang usia ini dibedakan menjadi dua, yaitu remaja 17-21 tahun dan milenial dewasa 22-37.

Factitious disorder by internet (Munchausen by internet)

Ciri khas remaja dan milenial dewasa adalah mereka sangat gila internet. Dalam setiap aspek kehidupannya tak bisa dipisahkan dari pemakaian gadget. Menurut piskolog Universitas Tarumanegara, Untung Subroto Dharmawan generasi langgas berusia remaja biasanya masih mencari jati diri.

“Mereka ini posisinya nanggung. Ingin dibilang dewasa tapi masih tergantung dengan orangtua. Masih suka baper (bawa perasaan), kalau posting di sosial media tidak dikomen atau dilike jadi sensi,” ujar Untung di sela-sela temu media GIV “Speak Yor Mind” di Jakarta, baru-baru ini.

Sedangkan generasi milenial yang berusia 22-37 relatif settled. “Biasanya usia dewasa muda mereka sudah menikah dan punya anak. Relatif lebih tertata hidupnya dan tidak lagi mudah baperan,” kata Untung.

Namun banyak juga warga milenial yang posting hal tak berguna di sosial media untuk mencari eksistensi dan pengakuan. “Mungkin di lingkungan sekitar dia tak mendapat pengakuan, entah itu di keluarga, teman atau kantor. Sehingga dia mencari eksistensi di sosial media dengan posting hal yang remeh berulangkali,” kata Untung.

Factitious Disorder by Internet

Tak jarang, banyak orang yang ingin eksis ini melakukan beragam cara untuk mendapatkan perhatian di sosial media, termasuk dengan melebih-lebihkan sesuatu, misalnya merasa sakit agar orang lain menaruh perhatian dan jatuh kasihan kepada dia.

Factitious disorder by internet (Munchausen by internet)

Sesekali mengeluh sakit tak apa – terutama jika memang benar-benar sakit dan membutuhkan perawatan. Namun jika terus-menerus mengeluh sakit namun faktanya tidak demikian, bisa jadi ini sebuah gangguan.

Untung menyebut sering mengeluh sakit di sosial media lazim disebut dengan istilah factitious disorder  by internet.

“Orang melakukan hal itu di sosial media demi mendapatkan perhatian dari orang lain. Mungkin dari keluarga atau lingkungan nyata dia tak mendapatkan perhatian, atau punya pengalaman traumatis di masa lalu,” beber Untung.

Sejarah factitious disorder ini dulunya sering dialami oleh pasien di rumah sakit. Mereka berpura-pura sakit untuk mendapatkan perhatian medis. Namun belakangan factitious disorder bisa juga merambah ke sosial media sehingga disebut factitious disorder by internet. “Mereka yang mengidap gangguan ini sering mengeluh sakit di sosial media dalam frekuensi sering,” imbuh Untung.

Pengidap factitious disorder by internet biasanya sulit menghadapi kenyataan hidup dan cenderung menutup diri. “Mereka cenderung mengalami kesulitan berinteraksi di dunia nyata, makanya pilih eksis di ranah media sosial,” jelas Untung.

Menurut laman kesehatan terkemuka Mayoclinic.org, factitious disorder masuk ke dalam gangguan mental serius di mana seseorang berpura-pura sakit untuk mendapatkan perhatian. Pura-pura sakit ini bisa dalam taraf ringan, namun juga bisa berat – hingga cenderung melukai diri sendiri.

Penyebab factitious disorder  tidak diketahui. Namun, orang dengan gangguan ini mungkin pernah mengalami penyakit parah saat mereka masih muda atau mungkin telah disiksa secara emosional atau fisik.

Gejala factitious disorder yang ringan misalnya sekadar melebih-lebihkan gejala sakitnya. Sedangkan untuk kategori melebih-lebihkan gejala sakit berat atau parah, lazim disebut sindrom Munchausen.

Factitious disorder by internet (Munchausen by internet), sebuah sindrom dimana orang berpura-pura sakit secara online dalam upaya untuk mengumpulkan simpati dan perhatian orang lain.

Orang dengan gangguan ini mungkin dapat membuat gejala atau bahkan mengutak-atik tes medis untuk meyakinkan orang lain bahwa perawatan, seperti operasi berisiko tinggi, diperlukan untuk mengatasi penyakitnya.

Yang perlu diingat, factitious disorder tidaklah sama dengan upaya menemukan masalah medis untuk keuntungan praktis, seperti tidak bekerja atau memenangkan tuntutan hukum. Meskipun orang-orang yang mengidap factitious disorder tahu bahwa mereka melebih-lebihkan gejala, namun mereka mungkin tidak mengerti alasan perilaku tersebut.

Factitious disorder bersifat misterius dan saat ini sulit diobati. Namun, bantuan medis dan psikologis sangat penting untuk mencegah cedera serius dan bahkan kematian yang disebabkan oleh bahaya yang mungkin ditimbulkan orang dengan gangguan ini. (HG)

 

Iklan

From → Beauty & Health

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: