Lanjut ke konten

Yayasan Batik Indonesia Kembali Geliatkan Batik Warna Alam

15/04/2017

Hidupgaya – Batik sudah lekat dengan keseharian kita. Bahkan boleh dibilang batik merupakan identitas Bangsa Indonesia.

Konferensi pers tentang perhelatan Gelar Batik Nusantara oleh Yayasan Batik Indonesia (dok. Hidupgaya)

Batik sejatinya ada dua dilihat dari proses pembuatannya, yaitu batik tulis dan batik cap. Dalam prosesnya, pembuatan batik melibatkan pewarnaan. Saat belum tersedia warna sintetis, pembatik dulu menggunakan batik pewarna alam yang lebih ramah lingkungan.

Untuk mengangkat kembali popularitas teknik pewarnaan alami, Yayasan Batik Indonesia (YBI) tahun ini mengusung tema “Pesona Batik Warna Alam” pada pagelaran Gelar Batik Nusantara (GBN).

Tema yang diangkat oleh YBI dalam perhelatan dua tahun ini terasa relevan dengan ‘kekinian’ yang menggaungkan eco-fashion atau fesyen ramah lingkungan. “Tahun ini kita mengangkat tema batik dengan pewarna alam. Di Indonesia banyak warna alam yang bisa dibuat batik,” tutur Erna Giatna, Ketua Panitia GBN 2017 dalam temu media di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Erna berharap perhelatan GBN tahun ini bisa memperkenalkan sebuah teknik pewarnaan batik yang ramah lingkungan dengan bahan-bahan alami yang tersedia di Indonesia. “Beragam sumber warna yang bisa digunakan misalnya kulit pohon mahoni, daun indigo, daun mangga, daun secang, kulit jeruk, duwet dan masih banyak lagi,” ujar dia.

Batik tulis dengan teknik pewarna alami (dok. Hidupgaya)

Pada kesempatan itu, praktisi pelaku pewarnaan alami sekaligus pemilik dan desainer Galeri Batik Jawa, Nita Kenzo, memaparkan proses pewarnaan alami yang terbilang unik. Selain bahan yang didapat dari tumbuhan seperti kulit kayu, daun, buah, dan bunga, proses produksinya pun memakan waktu yang lebih lama karena pewarna alami tersebut tidak bisa menempel di kain dalam waktu sekejap.

“Diperlukan proses pewarnaan berulang untuk dapatkan hasil warna yang diinginkan. Misal, untuk batik dua warna, gelap dan terang, dibutuhkan 7-20 kali celup. Berbeda dengan pewarnaan kimia yang perlu 2 kali celup saja,” ujarnya.

Meski dari segi warna pewarna alami tidak menghasilkan warna yang vibrant (warna cerah) seperti pewarna sintetis, namun proses pengerjaannya yang lama dapat menambah nilai jual kain batik tersebut.

Lebih lanjut Erna menambahkan, acara GBN 2017 akan diikuti sekitar 350-400 perajin batik dari seluruh Indonesia. Partisipan pameran tersebut terdiri dari perajin batik dari binaan BUMN, juga perajin perorangan.

Selain menampilkan pameran batik dari seluruh Indonesia, berbagai acara menarik juga akan dihadirkan dalam GBN 2017 mendatang. Mulai dari talkshow, workshop membatik dengan pewarna alami sampai panggung musik hiburan.

Ketua Umum YBI Jultin Ginandjar Kartasasmita mengungkap, GBN 2017 bukan hanya bertujuan untuk memasyarakatkan batik warna alam tapi juga sebagai bentuk apresiasi terhadap perajin batik di Indonesia. “Setiap 2 tahun sekali, Yayasan Batik (Indonesia) juga selalu memberikan penghargaan kepada perajin batik yang sudah lama tekun membatik,” bebernya.

Gelar Batik Nusantara akan digelar selama 5 hari mulai 7 – 11 Juni 2017 di Jakarta Convention Center, tepatnya di Hall Cinderawasih, lobi utama, assembly dan plenary hall. (HG)

Iklan

From → Fashion Spread

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: