Lanjut ke konten

Autism is Not a Joke: Jangan Lagi Buat Gurauan tentang Autisme

15/04/2017

Hidupgaya – Austime kerap dijadikan gurauan yang menyakitkan hati siapa saja yang memiliki sanak keluarga yang didiagnosis dengan kondisi tersebut. Sayangnya, gurauan itu tak hanya dilakukan anak-anak, bahkan orang dewasa juga melakukan.

Autism Awareness Month diselenggarakan Grand Indonesia dan Yayasan Autisme Indonesia (dok. Hidupgaya)

Gurauan ini mungkin kerap kita dengar saat melihat seseorang yang asyik dengan telepon genggamnya sehingga tak menghiraukan kondisi sekitarnya. “Kamu autis deh kalau sudah main henpon,” demikian komentar yang kerap muncul.

Salah satu ciri autis memang sulit berinteraksi dengan lingkungan, orang yang didiagnosis autis sekilas terlihat lebih tenggelam dalam dunianya sendiri. Nah, menandai Hari Autisme Sedunia yang jatuh pada 2 April setiap tahunnya, pusat perbelanjaan Grand Indonesia kembali menghadirkan “Autism Awareness Month” yang digelar sejak 12 hingga 23 April 2017.

Menurut Dinia Widodo, Public Relations Manager Grand Indonesia, acara ini bertujuan untuk bisa berbagi informasi bahwa selain ‘unik dan berbeda’, anak-anak autis juga dapat berkarya dan bahkan menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

“Kita ingin berbagi kebahagiaan dan berbagi kasih. Bahwa anak-anak ini sama seperti anak-anak biasa, bahkan mereka bisa lebih baik dari anak-anak biasa. Mereka punya sesuatu yang lebih baik dari kita,” kata Dinia dalam temu media di Grand Indonesia, baru-baru ini.

Acara bertema “We Can Do It” ini berkolaborasi dengan Yayasan Autisme Indonesia dan London School Center of Autism Awareness, menghadirkan berbagai karya anak-anak Autis yang dituangkan dalam bentuk pameran seni selama 2 pekan di Fountain Atrium West Mall level 3A.

Karya yang dipamerkan dari karya fotografi, lukisan, origami hingga tulisan puisi yang indah, yang mereka buat sendiri. Selain itu beberapa anak autis memiliki keterampilan bermusik dan bernyanyi yang memukau pengunjung karena memiliki suara indah dalam melantunkan lagu dalam bahasa Inggris.

Dalam acara ini juga dihadirkan bincang-bincang yang menghadirkan Ferina Widodo dari Yayasan Autisme Indonesia. Putra kedua Ferina yang kini berusia 23 tahun, didiagnosis autis. Kondisi putranya – yang ketika itu berusia 3 tahun – yang butuh perhatian penuh, membuat Ferina yang ketika itu bergabung dalam grup vokal Elfa’s Singers, harus undur diri untuk mengurus buah hatinya.

Putra Ferina sekarang berkuliah di diploma Institut Pertanian Bogor (IPB) sesuai dengan minatnya.
“Individu autis bisa berkarya, mereka punya bakat yang hebat, sama seperti orang lain. Mereka juga berhak untuk mendapatkan segala hal yang ada di dunia ini. Hentikan gurauan tentang autisme. Autism is not a joke,” ujar Ferina yang rajin berbagi tentang perawatan dengan para orangtua yang memiliki anak autis.

Mendeteksi Gejala Autisme

Gejala autisme sendiri sebenarnya bisa dideteksi dini, namun belum semua orangtua memahami bahwa gangguan perilaku yang dialami anaknya bisa saja mengarah pada kondisi autisme.

Psikiater anak dan remaja RS Pondok Indah Gitayanti Hadisukanto, SpKJ (K) di kesempatan terpisah mengatakan, setidaknya ada beberapa gejala autisme yang bisa diperhatikan orangtua dari gerak-gerik anaknya sehari-hari, antara lain:

1.Adanya hambatan saat berinteraksi dengan orang lain. Biasanya ditandai dengan anak yang tak mau melakukan kontak mata dengan lawan bicaranya. Kalau pun mau kontk mata hanya sebentar dan pada orang-orang tertentu saja.

2. Tak peduli dengan lingkungan. Anak yang mengalami gangguan spektrum autisme kerap tidak merespons ketika diajak berbicara. Bahkan tak sedikit yang menganggapnya tuli.

3. Fokus dengan dirinya sendiri meski lingkungan di sekitarnya sedang mengajaknya tertawa.

4. Kerap melakukan perilaku berulang. Orangtua harus memperhatikan gerak gerik anak, adakah perilaku terulang yang biasa dilakukannya. Hal ini termasuk salah satu gejala autisme, dimana biasanya anak melakukan suatu kegiatan berulang-ulang seperti memainkan jari tanpa tujuan tertentu.

5. Terlambat bicara. Namun terlambat bicara pada autisme ini mereka memang cuek, tidak tertarik dengan ekspresi wajah dan dibandingkan berinteraksi mereka biasanya lebih tertarik pada permainannya saja. (HG)

Iklan

From → What's Happening

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: