Lanjut ke konten

Latih Kemandirian Anak Autis dengan Terapi Seni

02/03/2017

Hidupgaya – Mendidik anak dengan gangguan autisme membutuhkan kesabaran dan ketelatenan tinggi, terutama menyiapkan mereka agar siap menjadi pribadi mandiri.

Autisme adalah suatu kondisi gangguan perkembangan saraf kompleks. Gangguan ini dapat ditandai ketika anak mulai kesulitan dalam hal-hal seperti interaksi sosial, komunikasi dan perilaku terbatas serta melakukan ritual berulang-ulang. Gangguan ini  biasanya muncul sebelum anak berusia tiga tahun.

Terapi seni misalnya melukis bisa melatih kemandirian anak autis

Terapi seni misalnya melukis bisa melatih kemandirian anak autis.

“Tantangan mengasuh anak dengan autisme biasanya hanya pada komunikasi dan interaksi. Namun penangananya setiap anak berbeda-beda,” ujar Saskhya Aulia Prima, psikolog dari klinik Tiga Generasi di sela-sela peluncuran program Kita Sama yang diselenggarakan Interface BPN dan Optima Media di Jakarta, baru-baru ini.

Salah satu terapi yang bisa diberikan kepada anak-anak dengan autisme adalah art theraphy atau terapi seni. Saskhya mengatakan kesenian merupakan salah satu penyaluran bagi anak penyandang autisme dalam menyalurkan ekspresi pikiran dan perasaan mereka.

Dalam dunia psikologi, ada terapi yang dinamakan art therapy, yakni terapi yang digunakan dalam proses kreatifitas dalam menciptakan karya seni untuk meningkatkan kemapuan emosi, fisik, dan mental seseorang.

Lebih lanjut dijelaskan Saskhya, seni bisa membantu anak menyalurkan perasaan mereka, mengurangi stres dan ketegangan sehari-hari. “Seni bisa membantu memberikan paparan lingkungan sosial, mendorong daya pengelolaan kepekaan indera mereka,” terang Saskhya.

Terapi seni misalnya melukis bisa melatih kemandirian anak autis.

Terapi seni misalnya melukis bisa melatih kemandirian anak autis.

Dengan kegiatan seni seperti menggambar ini pun orangtua dapat mengetahui bakat, minat dan potensi anak-anak mereka di masa nanti.

Menurut penelitian Laurent Mottron pada 2011, otak anak penyandang autisme sangat baik dala kemampuan mengingat dan menganalisis pola suatu hal. Anak dengan autisme cenderung fokus pada saat bekerja tanpa harus dipaksa, memiliki daya kreativitas yang tinggi, minat yang spesifik sehingga berkontribusi besar pada kreativitas saat bekerja nanti.

“Kita tidak perlu membatasi imajinasi anak-anak untuk mengikuti pakem dalam menggambar. Biar saja dia mewarnai kuning untuk gunung, atau yang lainnya karena seni bukan milik seseorang. Suatu gambar di mata saya akan berbeda dengan mata orang lain,” beber Saskhya.

Terapi yang dilakukan oleh lembaga psikolog atau pendidikan anak luar biasa tentu akan sangat membantu orangtua untuk mengarahkan anak autis. Namun, orangtua juga bisa melatih anak autis di rumah tentu dengan bimbingan khusus.

Program Kita Sama yang diluncurkan Interface BPN dan Optima Media berupa lomba fotografi dan gambar dengan warna yang dibuka untuk anak-anak penyandang autisme. Dimulai  28 Februari hingga 30 April 2017.

“Program ini dibentuk untuk mengubah persepsi baik penyandang, orangtua, dan masyarakat bahwa anak autis sejajar dengan anak-anak lainnya,” ujar Community Marketing Director Interface BPN Rani Kartika Sari.

Kompetisi tersebut akan didukung oleh juri profesional yang ahli di bidangnya seperti Maya Sujatmiko, kurator dan konsultan seni dan Willy Yoh yang berprofesi sebagai dosen Universitas Indonesia. (HG/dokterdigital*)

Iklan

From → What's Happening

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: