Lanjut ke konten

IndoHCF Innovation Award Ajak Masyarakat Tingkatkan Kualitas Kesehatan Indonesia

24/02/2017

Hidupgaya – Bencana alam seperti banjir, tanah longsor, hingga gempa bumi datang silih berganti sepanjang tahun di Indonesia. Kecelakaan lalu lintas, baik di darat, laut, maupun udara, juga melengkapi kejadian tak diinginkan di Tanah Air tercinta.

Mengutip data rekapitulasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama tahun 2016 terdapat 2.342 kejadian bencana, meningkat 35 persen dari tahun sebelumnya.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam publikasinya pertengahan 2016 menempatkan Indonesia menjadi negara ketiga di Asia di bawah Tiongkok dan India dengan total 38.279 total kematian akibat kecelakaan lalu lintas di tahun 2015.

Keterangan foto (ki-ka): Supriyantoro - Ketua Umum IndoHCF; Suhono - Ketua Asosiasi Prakarsa Indonesia Cerdas; Dono Widiatmoko - Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia.

Keterangan foto (ki-ka): Supriyantoro – Ketua Umum IndoHCF; Suhono – Ketua Asosiasi Prakarsa Indonesia Cerdas; Dono Widiatmoko – Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia.

Tak hanya persoalan bencana dan kecelakaan yang akhirnya menjadi perhatian serius dari para pemangku kepentingan. Tingkat kematian Ibu dan Anak juga menjadi catatan yang terus ditemukan setiap tahunnya. Menurut data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), saat ini angka kematian ibu melahirkan meningkat dibanding priode tahun 2.000, yakni 359 orang per 100 ribu kelahiran selamat.

Dulunya angka kematian ibu melahirkan hanya 228 orang per 100 ribu kelahiran selamat. Artinya di Indonesia sekarang ini setiap 1,5 jam ada ibu yang meninggal kerena melahirkan.

Berkaca dari tiga persoalan di atas, tentu saja pemerintah dan para pelaku di industri kesehatan mendapat tantangan yang sangat berat untuk mewujudkan level keselamatan dan penanganan kesehatan yang lebih baik dari pada beragam gangguan kesehatan yang terjadi akibat bencana, kecelakaan, juga persoalan kesehatan ibu dan anak.

Perkembangan teknologi di bidang kesehatan sudah tumbuh pesat dan sangat membantu mewujudkan tingkat kesehatan yang lebih baik. Tak heran jika permintaan kebutuhan alat kesehatan (alkes) di Indonesia pun terus meningkat. Asosiasi Pengusaha Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI) mencatat permintaan alat kesehatan pada Januari–September tahun 2016 lalu meningkat sampai 20 persen dari permintaan tahun sebelumnya.

Nilai pasar alat kesehatan di Indonesia diperkirakan mencapai angka Rp60 triliun di tahun 2016 dengan rata-rata pertumbuhan 10 persen per tahun.

Namun, kenaikan permintaan dan potensi pasar tersebut tidak ditunjang pasokan dari industri dalam negeri. ASPAKI mencatat produk impor mendominasi pangsa pasar sebesar 90 persen. Mayoritas berasal dari Tiongkok dan Eropa.

Padahal, dengan permintaan alkes sangat tinggi, ketersediaan dan aksesibilitas alkes seharusnya didukung oleh industri dalam negeri. Dengan menggunakan alkes dalam negeri, mutu dan kemanfaatannya ikut berkontribusi positif terhadap perekonomian Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan jenis dan jumlah alkes dalam negeri dapat memenuhi 44,9 persen dari kebutuhan rumah sakit kelas A, karena saat ini sudah ada 2.623 alat kesehatan dalam negeri yang sudah memenuhi izin edar dan standar internasional yang sudah digunakan di beberapa faskes.

Bahkan, keuntungan menggunakan alat kesehatan buatan anak bangsa ini harganya cukup terjangkau dan dapat mengurangi biaya pelayanan kesehatan sebesar 20-30 persen.

Namun di sisi lain, ada inovasi dan temuan baik di kalangan akademisi, pelajar maupun masyarakat yang belum terinformasikan dan belum dilakukan proses seleksi untuk dapat diproduksi dan berkontribusi dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Untuk itu, pesatnya perkembangan teknologi dengan berbagai temuan termasuk start-up di bidang kesehatan, perlu ditampung dalam suatu ajang lomba guna dijembatani untuk menjadi produk yang bisa dimanfaatkan dalam mendukung program kesehatan. Upaya promosi kesehatan merupakan salah satu mata rantai penting dalam pembangunan di bidang kesehatan.

Inilah sebabnya Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF) menggagas sebuah ajang lomba dan pemberian penghargaan khusus penghormatan kepada individu, institusi, atau kelompok yang telah menerapkan atau melalukan inovasi di bidang kesehatan.

indohcf-innovation-awards2

“IndoHCF Innovation Award merupakan dukungan dan sumbangsih IndoHCF terhadap peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia, dengan misi meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia,” ujar ketua umum IndoHCF Supriyantoro dalam temu media di Jakarta, Kamis (23/2).

“Kesehatan merupakan aspek penting dalam pembangunan bangsa. Seiring dengan berjalannya waktu muncul program-program dan inovasi-inovasi di bidang kesehatan yang membantu peningkatan kesehatan masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung,” imbuh Supriyantoro.

Berpegang pada misi untuk mendukung perubahan positif menuju peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia, IndoHCF akan mengadakan Seminar dan Workshop Nasional dalam hal penanggulangan kegawatdaruratan dan perkembangan teknologi informasi di bidang Kesehatan serta program penghargaan kepada insan-insan yang berprestasi dalam menjalankan program-program peningkatan pelayanan kesehatan khususnya bidang kegawatdaruratan, kesehatan ibu dan anak, serta inovasi di bidang alat kesehatan, teknologi informasi dan robotik kesehatan dan kreasi seni promosi kesehatan.

Seminar nasional dan workshop dalam hal penanggulangan kegawatdaruratan dilakukan berdasarkan masih tingginya angka kematian akibat penanganan situasi gawat darurat yang belum optimal, baik dari sisi sistem penanganan maupun keterampilan pertolongan terutama bagi para penolong pertama non medis.

Seminar dan Workshop terkait e-Health diadakan untuk menggalakkan perkembangan industri teknologi informasi di bidang informasi yang dapat menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia.

Kategori IndoHCF Innovation Award

Berikut adalah kategori-kategori yang akan menerima penghargaan pada IndoHCF Innovation Award:

1. Inovasi SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu) Pra-RS

Pemberian penghargaan kepada Pemda Kabupaten/Kota yang melakukan inovasi dalam pengembangan/penguatan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu mulai dari lokasi kejadian sampai dengan dibawa ke rumah sakit. Bertujuan untuk mendukung percepatan integrasi SPGDT Pra-RS di suatu daerah.

2. Inovasi Program KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)

Pemberian penghargaan kepada Pemda Kabupaten/Kota yang melakukan inovasi dalam upaya peningkatan kesehatan Ibu dan Anak yang sudah diimplementasikan dan dapat diukur keberhasilannya. Bertujuan untuk percepatan tercapainya peningkatan kesehatan Ibu & Anak khususnya dalam upaya menurunkan angka stunting (anak pendek/bantet), morbiditas (kecacatan) dan mortalitas (kematian).

3. Inovasi Alat Kesehatan

Pemberian penghargaan kepada individu/institusi/kelompok yang melakukan inovasi/temuan di bidang alat kesehatan yang tepat guna dan berdaya guna. Bertujuan untuk mendorong peningkatan produksi alat kesehatan dalam negeri yang berkualitas.

4. Inovasi E-Health

Pemberian penghargaan kepada individu/institusi/kelompok yang melakukan inovasi/temuan ICT (Information & Communication Technology) di bidang kesehatan. Bertujuan untuk mendorong pengembangan ICT di bidang kesehatan baik dalam upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

5. Inovasi Seni Kreasi Promosi Kesehatan

Pemberian penghargaan kepada individu/institusi/kelompok yang melakukan inovasi/kreasi seni pertunjukan (dalam bentuk kreasi tarian atau parodi) dengan tema promosi kesehatan. Bertujuan untuk mendorong pengembangan kreativitas dalam mengkomunikasikan program promosi kesehatan kepada masyarakat.

Supriyantoro menjelaskan, dasar pemilihan lima kategori tersebut didasarkan pada berbagai isu kesesehatan saat ini. Sebut saja terkait SPGDT bahwa persentase angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas masih menjadi yang tertinggi di Indonesia. Isu kedua adalah bahwa angka kematian ibu dan bayi juga masih tinggi.

Di sisi lain, jelas Supriyantoro produk alat kesesehatan dalam negeri baru mampu memenuhi 10 persen dari kebutuhan yang ada. Selanjutnya, terkait ehealth, perkembangan IT yang pesat dengan banyaknya inovasi di bidang kesehatan di kalangan muda, perlu didorong dan diapresiasi pencapainnya.

Sementara itu, di era JKN saat ini, masih juga dirasakan biaya kesehatan yang tinggi, dan bahkan BPJS Kesehatan selalu defisit. Salah satu mata rantai penting untuk menekan hal tersebut adalah dengan meningkatkan inovasi di bidang kesehatan.

Selain itu, Supriyantoro menilai, Indonesia harus segera meningkatkan pengembangan teknologi terutama dalam pengembangan bahan baku obat, sediaan biologi, serta alat kesehatan berteknologi tinggi agar meningkatkan daya saing industri kesehatan.

“Banyak aspek yang harus ditangani dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan terutama peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia melalui upaya prefentif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif. Semoga dengan diadakannya IndoHCF Innovation Award dapat menjadi salah satu pendorong untuk meningkatnya kualitas industri kesehatan di Indonesia,” pungkas Supriyantoro.

Informasi lebih lanjut mengenai pelaksanaan IndoHCF Award dapat diakses melalui website www.indohcf-award.com. (HG)

Iklan

From → Beauty & Health

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: