Skip to content

Kisah Panjang dalam Sepiring Tongseng

08/09/2016

Hidupgaya – Menjelang hari raya Idul Adha, Bango mengangkat keistimewaan salah satu warisan kuliner Indonesia berbahan kambing yang tentunya selalu digemari oleh seluruh anggota keluarga, yaitu tongseng.

Head of Marketing Savoury and Spread PT Unilever Indonesia Tbk Meila Putri Handayani mengatakan bahwa kemeriahan perayaan Idul Adha menjadi momen yang sangat identik dengan santapan hidangan daging kambing bersama keluarga tercinta.

tongseng

Tidak banyak yang tahu bahwa tongseng ternyata memiliki kisah panjang yang mencerminkan kekayaan sejarah kuliner Nusantara. Awal mula keberadaannya bahkan bisa ditelusuri dari mulai abad 18-19 Masehi saat bangsa Arab dan India mulai datangke Indonesia. Mereka memberikan pengaruh budaya kuliner dengan memperkenalkan ragam hidangan kambing dan domba.

Berabad kemudian, di daerah Jawa tengah, Jawa Timur dan Jogja, bermunculan beberapa daerah yang banyak dihuni oleh keturunan Arab dan India, yang kemudian dikenal sebagai daerah penghasil kambing yang baik. Warga lokal akhirnya mulai mengolah berbagai hidangan kambing. Kreasi pertama yang dikenal adalah sate kambing dengan cara penyiapan dan penyajian khas Nusantara.

Karena sate biasanya hanya menggunakan daging atau hati, sisanya yaitu jeroan dan tulang kemudian diolah lagi menggunakan bumbu rempah dan santan, menghasilkan hidangan bernama gule/gulai kambing yang merupakan pasangan sate.

Setelah sate dan gule, kemudian masyarakat di Selatan Jawa mulai meracik menu baru, dimana saat itu pabrik gula pasir dan juga gula merah tradisional mulai beroperasi dan pabrik kecap manis mulai berproduksi. Terciptalah sebuah hidangan yang dibuat dengan cara mengoseng daging kambing bersama kecap, aneka bumbu iris, dan memasaknya dengan kuah gulai. Untuk menambah tekstur dan kesegaran, diberi irisan tomat dan kubis. Hidangan ini kemudian dikenal dengan nama tongseng.

tongseng2

Arie Parikesit, seorang pengamat kuliner bercerita, bahwa cikal bakal hidangan tongseng dipercaya berasal dari Kecamatan Klego, Boyolali. Dulunya, masyarakat kecamatan Klego mencari nafkah dengan bertani, namun ternyata mata pencaharian ini belum dapat mencukupi kebutuhan mereka.

“Akhirnya mereka beralih profesi ke menjual sate dan tongseng sampai sekarang. Bahkan kita bisa menemukan Patung Sate Tongseng yang menunjukkan kebanggaan masyarakat Klego pada hidangan otentik ini,” kata Arie dalam temu media yang diselenggarakan Bango di Jakarta, baru-baru ini.

Sejalan dengan waktu dan perpindahan penduduk kecamatan Klego di wilayah-wilayah lain, hidangan tongseng ini bermunculan di berbagai tempat di Pulau Jawa.

Persebaran tongseng diikuti dengan keragaman bumbu dan penyajian yang sedikit dimodifikasi, namun tetap berakar pada citarasa otentik. “Namun, di tengah keragaman tersebut, kecap tetap menjadi salah satu bahan kunci yang memantapkan rasa manis dan gurih hidangan tongseng kambing,” urai Arie. (HG)

 

Iklan

From → Food Lover

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: