Lanjut ke konten

Mengapa Lulusan Perguruan Tinggi Kini Sulit Dapat Kerja? Ini Alasannya

26/04/2016

Hidupgaya – Nyadar nggak kalau sekarang banyak lulusan perguruan tinggi yang masih nganggur? Mungkin lapangan kerja memang masih terbatas. Namun sejatinya ada faktor lain lho mengapa para sarjana lulusan S1 itu masih jadi ‘pengacara’ (pengangguran banyak acara).

Menurut hasil studi Willis Towers Watson tentang Talent Management and Rewards sejak tahun 2014, delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi yang siap pakai.

Delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi yang siap pakai.

Delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi yang siap pakai.

Nah, sekilas terbaca kan kalau banyak lulusan perguruan tinggi yang menganggur karena adanya ketimpangan antara profil lulusan universitas dengan kualifikasi tenaga kerja siap pakai yang dibutuhkan perusahaan?

Mestinya perusahaan tidak sulit mencari tenaga kerja, sebab angka pertumbuhan lulusan perguruan tinggi di Indonesia setiap tahun selalu bertambah. Sementara itu, angka permintaan perusahaan terhadap tenaga kerja selalu lebih rendah dari pada jumlah lulusannya. Namun sayangnya bukan itu realita yang terjadi di lapangan.

Menurut Consultant Director Willis Tower Watson Indonesia, Lilis Halim, setelah India dan Brasil, Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan pertumbuhan lulusan universitas lebih dari 4 persen dan rata-rata surplus 1.5 persen per tahun. “Tapi, perusahaan tetap kesulitan mendapatkan karyawan yang berpotensi tinggi,” kata Lilis pada diskusi A Taste Of L’oreal di Jakarta, baru-baru ini.

delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi yang siap pakai.

Delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi yang siap pakai.

Sulit terserapnya lulusan perguruan tinggi Indonesia, kata Lilis, karena tidak memiliki skill (keahlian) yang dibutuhkan perusahaan dan tidak punya critical skill.

Padahal, skill adalah langkah utama memasuki dunia kerja. “Setelah itu harus punya critical skill jika ingin berkembang dan masuk jajaran manajemen perusahaan,” imbuhnya.

Bukan itu saja. Menurut Lilis, di era digital saat ini lulusan perguruan tinggi harus punya digital skills, yaitu tahu dan menguasai dunia digital. Sarjana juga mesti memiliki agile thinking ability – mampu berpikir banyak skenario – serta interpersonal and communication skills – keahlian berkomunikasi sehingga berani adu pendapat.

Yang tak boleh ketinggalan adalah, para lulusan perguruan tinggi juga harus punya global skills, mencakup kemampuan bahasa asing, bisa padu dan menyatu dengan orang asing yang berbeda budaya, dan punya sensitivitas terhadap nilai budaya.

Delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi yang siap pakai.

Delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi yang siap pakai.

Di kesempatan yang sama Prof. Dr. Arief Rachman, pakar dan pemerhati pendidikan di Indonesia mengatakan, kualitas lulusan perguruan tinggi yang tak sesuai kebutuhan dunia industri adalah akibat kesalahan sistem pendidikan Indonesia selama 20 tahun lalu.

Menurut Arief, selama ini mahasiswa hanya disuruh belajar untuk lulus jadi sarjana. “Mereka hanya mengejar status bukan proses untuk menjadi sarjana. Akhirnya mereka jadi tak punya pemahaman apa-apa terhadap proses pendidikan yang sudah dilalui,” ujar Guru Besar Universitas Negeri Jakarta.

Arief menambahkan, generasi milenial kebanyakan mengagumi mobilitas internasional dan pada saat yang bersamaan juga tertarik akan kewirausahaan.

Delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi yang siap pakai.

Delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi yang siap pakai.

“Mereka cenderung lebih sukses jika berada di lingkungan yang dapat membuat mereka merasa bagian pentingnya. Di lain sisi, karena sangat terekspos pada informasi yang begitu luas dan instan, mereka cenderung sedikit lemah dalam hal proses dan sistem,” ujarnya.

Dia menambahkan, orangtua, guru dan dosen untuk  mengajarkan kepada generasi muda agar tidak takut terhadap perubahan. “Jangan takut kurikulum pendidikan berubah, sebab perubahan itu juga untuk menyesuaikan dengan kebutuhan industri dan dunia yang dinamis,” kata Arief.

Arief mengimbau pemerintah dan perguruan tinggi bisa mengajak pihak swasta untuk menyusun kurikulum yang tepat bagi perguruan tinggi. Mengapa swasta perlu dilibatkan? “Kurikulum harus dibentuk juga oleh teman-teman dari swasta, sebab dari swasta kita jadi tahu pengalaman di lapangan dan itu merupakan guru paling hebat bagi mahasiswa,” tandasnya.

Presiden Direktur PT L’Oréal Indonesia, Vismay Sharma berpendapat bahwa para pemimpin masa depan adalah para generasi muda lulusan perguruan tinggi yang sangat kreatif, inovatif serta cerdas berteknologi maupun berkomunikasi secara digital.

Menurutnya, di luar kreativitas dan kemampuan berinovasi, kemampuan beradaptasi dengan cepat adalah faktor sukses yang tak kalah penting untuk bersaing di dunia kerja dan menjadi pemimpin masa depan. (HG)

Iklan

From → Money Talk

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: