Lanjut ke konten

Cegah Alergi pada Bayi, Berikan ASI

28/03/2016

Hidupgaya – Alergi merupakan masalah yang kerap terjadi pada bayi atau anak. Umumnya, alergi diturunkan dari orangtua kepada anak.

Salah satu hal yang memusingkan para ibu adalah jika anak mengalami alergi makanan, khususnya alergi susu sapi. Sejauh ini susu sapi menjadi salah satu sumber protein yang cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.

Memberikan ASI bisa mencegah bayi terkena alergi

Memberikan ASI bisa mencegah bayi terkena alergi

DR Dr Rini Sekartini SpA (K) konsultan tumbuh kembang anak RSCM mengatakan, sejauh ini susu sapi sebagai sumber protein hewani bisa memenuhi kebutuhan protein dengan baik jika dibandingkan dengan protein nabati. “Mengandalkan protein nabati, kita harus mengonsumsi dalam jumlah yang jauh lebih banyak dan berlipat-lipat,” jelas Rini dalam acara NutriTalk Sarihusada bertema Early Life Nutrition yang digelar di Jakarta, baru-baru ini.

Dikatakan Rini, anak dengan alergi protein susu sapi akan menampakkan gejala seperti kulit merah, muntah, diare dan lainnya saat mengonsumsi susu sapi dan produk turunannya.

Pada kasus anak dengan alergi protein susu sapi, Rini mengingatkan agar orangtua lebih waspada. Pasalnya, anak yang alergi susu sapi jika tidak dicarikan solusi, ia akan kekurangan gizi dan pada akhirnya anak bisa gagal tumbuh.

Gagal tumbuh berarti tubuh akan tumbuh tidak normal seperti lebih pendek ata u lebih kecil serta tingkat kecerdasan juga tidak berkembang dengan baik.

Protein Terhidrolisis Parsial untuk Anak dengan Alergi Makanan

Kita tahu,  nutrisi awal yakni sejak anak masih dikandungan hingga usia 2 tahun memiliki peran sangat besar pada kualitas tumbuh kembang anak dan tingkat kesehatan di usia dewasa.

Karena itu pada kasus anak dengan alergi protein susu sapi, dibutuhkan intervensi nutrisi yang tepat, misalnya pemberian nutrisi dengan protein terhidrolisasi parsial.

Protein terhidrolisasi parsial adalah hasil teknologi yang memotong panjang rantai protein menjadi lebih pendek dan memperkecil ukuran massa molekul protein sehingga protein akan lebih mudah dicerna dan diterima anak.

Teknologi ini memungkinkan anak yang tidak toleran terhadap protein susu sapi dapat tetap memperoleh nutrisi dengan asupan protein yang dibutuhkan untuk mendukung tercapainya pertumbuhan yang optimal.

Dengan rantai yang lebih pendek dan ukuran massa molekul yang lebih kecil tidak berarti kandungan nutrisi protein terhidrolisasi parsial berkurang. Sebaliknya rantai yang lebih pendek dan ukuran massa molekul yang lebih kecil memudahkan nutrisi yang dikandung mudah dicerna dan diserap.

Di kesempatan yang sama, Prof. Dr. Budi Setiabudiawan, Sp. A (K) dari Divisi Alergi-Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung, mengatakan alergi sejatinya bisa dicegah sejak kehamilan hingga si bayi lahir.

Pencegahan dari sisi lingkungan, kata Budi, bisa dilakukan dengan menghindari paparan asap rokok saat hamil. Kemudian saat lahir, berilah bayi ASI eksklusif selama 6 bulan.

Budi menambahkan, tak hanya memicu alergi di kemudian hari, asap rokok juga bisa membahayakan perkembangan janin.

ASI Makanan Terbaik untuk Mencegah Alergi

Dokter spesialis anak yang berpraktik di RS Hasan Sadikin Bandung ini mengatakan, air susu ibu merupakan bahan alami terbaik untuk mencegah alergi.

Ibu menyusui yang memiliki bayi alergi tetap bisa makan apa saja. “Tidak usah berpantang. Bisa makan apa saja, kecuali makanan yang memicu alergi buat ibunya,” kata Budi.

ASI mengandung allergen yang sangat sedikit karena ASI menginduksi toleransi. Itulah sebabnya ASI merupakan makanan yang aman bahkan buat bayi yang mengalami alergi sekali pun.

Setelah enam bulan, lanjutkan dengan makanan pendamping ASI atau pengenalan makanan padat, saran Budi.

Bagaimana jika ibu dengan suatu alasan tertentu tak bisa memberikan ASI untuk bayinya yang alergi? Untuk mencegah alergi protein susu sapi, susu formula yang diberikan adalah dengan protein terhidrolisis parsial – seperti disinggung sebelumnya.

Aalergi bisa muncul jika anak memiliki bakat alergi, karena turunan dari orangtua dan adanya faktor lingkungan.Jika salah satu orangtua yang alergi, anak berisiko alergi sebesar 40 persen. Jika kedua orangtua alergi, risiko alergi pada anak meningkat 60 persen.

Risiko meningkat 80 persen jika orangtua memiliki alergi yang sama. Apabila saudara kandung memiliki alergi, kemungkinan anak alergi mencapai 30 persen.

Bahkan, jika dalam keluarga tidak ada riwayat alergi sekali pun, anak tetap memiliki kemungkinan alergi sebesar 5 persen.

Riwayat alergi ini cukup tanyakan saja kepada ayah atau ibu, serta saudara, tidak perlu sampai ke tingkatan kakek – nenek. (www.dokterdigital.com)

Iklan
Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: