Lanjut ke konten

Day Care Khusus Lansia Ternyata Perlu Lho

14/01/2016

Hidupgaya – Usia harapan hidup masyarakat di Indonesia kian meningkat. Tak heran, dengan bertambahnya usia harapan hidup ini, Indonesia tercatat menduduki peringkat ketiga dalam hal jumlah lansia terbanyak di dunia.

senam lansia

Mereka yang berusia di atas 60 tahun dikategorikan masuk sebagai warga senior, atau kaum lanjut usia. Rata-rata usia harapan hidup masyarakat Indonesia mencapai 72 tahun, masih lebih rendah dari Jepang yang mencapai usia 80 tahun.

Dengan membaiknya tingkat kesejahteraan penduduk, pada 2025 diperkirakan jumlah lansia akan menjangkau angka 36 juta jiwa.

Berdasarkan data sensus penduduk 2010, jumlan lansia di Tanah Air mencapai 18,1 juta jiwa atau 7,6 persen penduduk. Pada 2014 , jumlah lansia mencapai 18,78 juta orang lebih.

Banyaknya jumlah lansia ini, penting untuk merawat mereka dengan baik dan benar. Mengingat di usia  lansia, dengan berkurangnya kemampuan imunitas tubuh, mereka lebih mudah terserang penyakit.

Masalah lansia tidak hanya terbatas pada fisik, namun juga psikologis. Sehingga agar mereka dapat menikmati masa tua dengan bahagia, keluarganya harus paham apa kebutuhan utama para warga usia lanjut ini.

Menyadari potensi jumlah lansia yang besar di Indonesia, PT Global Ichsan Mandiri, berinisiatif memberikan pelatihan bagi perawat lansia, bahkan ‘penitipan’ bagi para lansia yang membutuhkan aktivitas yang berguna, bergaul dengan teman-teman sebaya.

Komisaris PT Global Ichasan Mandiri, Mart Peters Simanjuntak, mengatakan, saat ini pihaknya menyediakan semacam ‘day care’ khusus lansia di Graha Ichsan, Bintaro, Tangerang Selatan.

“Kebanyakan lansia di Indonesia hanya diurus oleh asisten rumah tangga biasa. Padahal lansia membutuhkan perawatan khusus yang mestinya ditangani oleh asisten terdidik yang memahami kebutuhan mereka,” kata Peters dalam temu media di Bintaro, kemarin.

Atas alasan inilah, pihaknya menyediakan ‘day care’ khusus lansia. “Diharapkan dengan day care khusus lansia ini mereka yang berusia lanjut bisa menikmati masa tua dengan lebih berarti dan bahagia, bisa bertukar cerita dengan sesamanya. Mereka juga butuh didengar,” kata Peters.

Hal senada disampaikan oeh Yanti Muliawati, psikolog yang juga menjadi direktur penanggung jawab ‘day care’ di Graha Ichsan. Ia mengatakan, masalah lansia adalah kesepian karena ketiadaan teman berbagi. “Kalau pun ada teman bicara, itu dilakukan dengan asisten rumah tangga, dimana komunikasi berlangsung satu arah, karena anak-anak mereka mungkin sibu bekerja,” kata Yanti.

Bahkan, banyak warga senior yang ikut di rumah anaknya namun bertugas menjaga cucu karena sang anak bekerja. “Disadari atau tidak, menjaga cucu bisa menimbulkan stres,” kata Yanti.

Stres yang terpendam ini bisa memicu warga usia lanjut mudah meledak emosinya – kadang bersikap kekanak-kanakan – cepat pikun, hingga ancaman stroke.

Untuk menyalurkan stress dan bukan bertugas semata sebagai ‘penjaga cucu’, warga usia lanjut perlu bersosialisasi dengan teman sebaya. “Lansia pada umumnya ingin punya grup tersendiri, sama-sama lansia dan ingin melakukan kegiatan dengan orang seusianya,” ujar Yanti.

Yanti tak memungkiri bahwa day care khusus lansia kurang lazim di Indonesia. “Belum umum dan orang masih beranggapan day care hanya untuk anak-anak, bukan orangtua,” ujarnya.

Padahal dengan melakukan aktivitas ‘day care’ khusus lansia, para warga usia lanjut ini bisa menjadi lebih sehat karena di tempat ini disediakan beragam aktivitas yang bertujuan menjaga kesehatan fisik dan mental.

Yanti mencontohkan, lansia yang datang ke ‘day care’ Graha Ichsan awalnya akan diajak berkumpul dengan sesama lansia yang ada di sana, saling berkenalan dan berteman.

Di kesempatan tertentu juga diadakan bincang-bincang mengenai masala kesehatan terkait lansia. Bahkan topic pembahasan bisa sesuai permintaan peserta.

Untuk melatih keterampilan motorik, para lansia ini juga diajari beragam aktivitas, seperti mewarnai, merajut, membuat kerajinan simple, hingga rekreasi di luar ruang. “Kami bahkan menggelar semacam fashion show khusus mereka. Pesertanya juga para lansia, dan mereka antusias mengikutinya,” kata Yanti.

Kegiatan lain yang diikuti para lansia antara lain pijat kaki yang dilakukan terapis. Pijat kaki, kata Yanti, berfungsi menjaga otot-otot kaki tetap lentur, tidak kaku saat berjalan. “Ada lho lansia yang akhirnya berani naik tangga setelah terapi relaksasi pijat kaki padahal sebelumnya takut,” ujarnya.

Hal lain yang dilakukan lansia adalah senam bersama yang dibimbing oleh terapis. Senam dilakukan di bangku, diselingi gerakan-gerakan ringan yang membuat tubuh mereka bergerak.

Satu kegiatan yang disukai lansia adalah bernyanyi atau karaoke. Kegiatan ini bermanfaat meningkatkan antibodi tubuh sekaligus meningkatkan memori dengan mengingat lirik lagu. (www.dokterdigital.com)

Iklan
Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: