Lanjut ke konten

Epilepsi Bukanlah Kutukan, Apalagi Gangguan Setan

05/07/2015

Sampai saat ini, masih banyak masyarakat yang meyakini mitos kalau epilepsi, ada yang menyebutnya ayan, merupakan kutukan.

Persepsi keliru ini juga berlaku di Indonesia. Namun epilepsi bukanlah kutukan, apalagi kesurupan makhluk halus.

epilepsi aid

Epilepsi merupakan penyakit neurologi menahun yang dapat mengenai siapa saja. Tanpa batasan usia, jenis kelamin, maupun status sosial-ekonomi. Diperkirakan penyandang epilepsi di Indonesia sekitar 1,1-1,8 juta, dengan angka insiden sebanyak 50-70 kasus per 100.000 penduduk.

Serangan epilepsi terjadi karena aktivitas listrik abnormal pada otak. Hal ini bisa terjadi pada salah satu bagian otak maupun seluruh bagian otak, dengan manifestasi serangan berupa kejang atau bentuk lain, misalnya perubahan tingkah laku, atau kesadaran.

Menurut dokter spesialis saraf RSU Bunda Jakarta, Irawaty Hawari, kejang epilepsi biasanya diikuti dengan keluhan tidak enak di ulu hati, rasa cemas, dan beragam persepsi.

Namun kejang pada anak tidak selalu berarti epilepsi.  “Tidak semua anak yang mengalami kejang, adalah epilepsi. Bahkan kalau gula darah rendah maupun tinggi, juga bisa kejang. Selain itu, anak demam tinggi pun juga bisa mengalami kejang-kejang,” ujar Irawaty dalam temu media di Jakarta membahas mengenai kejang epilepsi.

Khusus pada anak, orangtua memang kerap keliru menduga bahwa kejang identik dengan epilepsi. Padahal manifestasi serangan yang muncul tidak hanya itu saja, melainkan berbeda-beda, tergantung di bagian fungsi otak mana yang terganggu.

Selain berupa kejang-kejang, kata Irawaty, manifestasi serangan juga dapat berupa hilang kesadaran sesaat atau bengong. Kemudian menjatuhkan atau melempar benda yang dipegang secara tiba-tiba. Juga munculnya perubahan perilaku. “Kerap kali perubahan perilaku ini terjadi secara tiba-tiba. Sehingga sering disangka  anak sedang kesurupan,” imbuhnya.

Orangtua harus memahami, apakah kejang pada anak saat demam merupakan pemicu epilepsi atau tidak. Menurut Ira, kejang saat demam yang memicu epilepsi biasanya terjadi sekitar 3-5 menit. Hal ini bisa memicu kerusakan otak yang mempengaruhi fungsional seseorang.

Dia menambahkan, jangan biarkan kejang berlangsung lama apalagi sampai 3-5 menit, karena bisa berpengaruh ke otak. Solusinya, segera beri anak obat penurun demam.

Namun apabila anak terus menerus mengalami kejang saat demam ketika memasuki usia sekolah, sebaiknya dilakukan pemeriksaan ke dokter ahli saraf.

Puasa dan Epilepsi

Hal yang menarik adalah, puasa bisa mengurangi bangkitan epilepsi, sehingga orang dengan kondisi ini tak perlu khawatir, bahkan disarankan, menjalankan ibadah puasa. “Puasa bisa jadi terapi pengobatan untuk epilepsi. Bisa meredam neurotransmitter sehingga menurunkan frekuensi kejang,” ujar Irawaty.

Alasannya, puasa dilakukan dengan meniru diet ketogenik yaitu diet tinggi lemak. Nah, diet ketogenik selama ini memang dikenal sebagai terapi pengobatan untuk pasien epilepsi. Akibat tinggi lemak dalam tubuh inilah yang diketahui dapat meredam neurotransmitter. “Saat puasa, glukosa atau gula darah menjadi rendah dan energinya didapat dari cadangan lemak,” ujar dia.

Beberapa penelitian telah membuktikan diet ketogenik dapat mengontrol bangkitan. Bangkitan atau kekambuhan terjadi akibat adanya cetusan listrik yang berlebihan atau abnormal di otak sehinga membuat pasien kejang, atau bangkitan lain seperti tiba-tiba berteriak dan hilang kesadaran sesaat.

Jika pasien epilepsi hendak melakukan puasa, Irawaty menyarankan pilih menu makanan yang mengandung lemak sehat atau yang tidak meningkatkan kolesterol jahat. Pasalnya, bagi sebagian orang, rasa lapar atau perut kosong memang bisa memicu bangkitan epilepsi.

“Jangan lupa juga untuk tetap minum obat antiepilepsi (OAE) dalam dosis yang sama. Bisa diminum saat sahur dan berbuka puasa,” ujarnya. (www.dokterdigital.com)

Iklan

From → Beauty & Health

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: