Lanjut ke konten

Menguntai Kecintaan pada Kain Tradisional a la Yeni Sebayang

05/06/2015

Ada keriaan dan kegembiraan pada Yeni Sebayang jika bicara tentang kain dan kebaya. “Masih teringat di benak saya kenangan masa kecil ketika ibu membantu memakaikan kain dan kebaya beliau yang sebenarnya berukuran lebih besar dari tubuh saya. Meski kebesaran, entah mengapa, senyuman puas tetap tersemat di wajah saya tatkala bercermin dan melihat tubuh saya berbalut kebaya dan kain tradisional yang memukau itu. Kini saya tersadar, ternyata, kecintaan itu sudah ada sejak saya belia. Kecintaan terhadap busana tradisional Indonesia,” ujar Yeni (31) silam di sela acara Inspiring Women Day (IIWD), yang dihelat di Grand Ballroom Kelapa Gading Sport Club, 28 Mei silam.

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/0/?view=att&th=14db9e92f00c23a1&attid=0.6&disp=inline&realattid=f_ia87b4uo6&safe=1&zw&saduie=AG9B_P8eMuY4ARhXJKTY3hfag0-5&sadet=1433496763408&sadat=ANGjdJ9qucIDE2ntmHaI7X5UXXkQosmwKsxvlmaRwWbtRtWkY0NipI0xcBo51ZU&sads=BcCWSbBvK5kKFIZ5f0BFvJ3McaU

Yeni Sebayang (foto. istimewa)

Penggagas kegiatan ini adalah Yeni Sebayang, seorang perempuan urban muda yang terpesona oleh kesenian dan kebudayaan Tanah Air. Yeni tergerak untuk menggelar IIWD karena ingin menghadirkan wadah yang dapat mempertemukan dan menyatukan kaum perempuan untuk bersama-sama berkontribusi dalam mengangkat citra seni dan budaya Nusantara.

Di IIWD 2015, Yeni memberikan kesempatan kepada para penenun dari daerah Indonesia bagian timur untuk memamerkan hasil karya tangan mereka ke masyarakat urban Jakarta.

“Bisa dibilang saya termasuk orang yang beruntung karena ibu memiliki koleksi kain tradisional. Saya selalu bersemangat ketika ibu mengajak melihat-lihat koleksi kainnya. Mata saya seakan tak ingin berkedip ketika menatap lembar demi lembar kain yang memamerkan motif dan permainan warna yang berbeda satu sama lain,” ujar perempuan ini dengan sorot penuh semangat.

Dia menambahkan, “Di pikiran saya, mereka (kain tradisional) seolah tengah menyapa dan bercerita mengenai kisah masing-masing. Ada kain yang mengajak saya melihat keragaman flora dan fauna di tempatnya berasal, ada juga yang mengisahkan aneka nilai kehidupan yang terpancar dari warna-warni untaian benang yang berpadu dengan harmonis.”

Beranjak dewasa, kecintaan itu justru tumbuh semakin besar. “Seolah tak cukup ‘cerita’ yang saya dapat dari kain koleksi ibu, saya ingin mendengar lebih banyak kisah dan nilai budaya dari kain lainnya. Saya yang senang berkeliling mengunjungi tempat baru, khususnya di Indonesia, selalu menyempatkan diri mencari tahu tentang kain tradisional di masing-masing daerah,” ujar istri dari Frans Salom Girsang.

Namun siapa sangka, di tengah keasikan ‘berkenalan’ dengan kain-kain tradisional yang ia temui, Yeni justru mendapat pelajaran hidup yang sangat berkesan dan bahkan mengubah sudut pandangnya sebagai seorang perempuan Indonesia.

“Jika saja saya tak terjun langsung melihat proses pembuatan kain tradisional di setiap daerah, mungkin hingga kini mata saya tak akan terbuka bahwa kain-kain yang selama ini ‘bercerita’ kepada saya dibuat oleh tangan-tangan lembut nan kuat dari para perempuan daerah,” urai perempuan kelahiran Jakarta ini.

“Mengapa saya sebut kuat? Karena tak mudah menenun lembaran kain secara manual, tanpa bantuan mesin. Terlebih lagi ada beberapa yang bahkan memintal sendiri benang-benang yang akan ditenun. Dengan tekun dan penuh kesabaran, para perempuan penenun itu menguntai satu demi satu benang hingga menjadi selembar kain yang tak hanya cantik namun juga sarat nilai budaya,” ujarnya lebih lanjut. “Mereka juga kuat karena mereka melakukan semua itu di tengah kesibukan mereka sebagai ibu rumah tangga yang bertanggungjawab mengurus keluarga dan keperluan rumah. Sisi lemah lembut dan penyayang mereka sebagai perempuan-lah yang membuat mereka tak lantas mengabaikan semua tanggung jawab itu.”

IIWD2015 IIWD2015-1

Selain bisa membantu sang kepala keluarga mencukupi kebutuhan harian, kegiatan yang dilakukan para penenun perempuan ini juga merupakan bentuk nyata kontribusi kaum perempuan dalam melestarikan warisan budaya bangsa ini. Ya, karena di setiap kain tradisional yang mereka tenun, ada kisah dan nilai budaya yang tercermin.

Yeni menambahkan, “Sebagai perempuan Indonesia, melihat kontribusi para penenun itu, saya pun bertanya kepada diri sendiri, lantas apa yang sudah saya lakukan? Sudahkah saya berkontribusi dalam membantu melestarikan warisan budaya ini? Apakah saya hanya akan mengagumi keindahan kain-kain itu? Lalu bagaimana dengan fakta bahwa kain-kain tradisional yang ditenun para perempuan Indonesia ini tengah bersaing dengan kain-kain modern? Tidakkah saya ingin berbagi kecintaan dan mengajak perempuan lain untuk ‘mendengar’ kisah dan nilai budaya yang tersirat di setiap untaian benang yang ditenun dengan penuh ketekunan itu?”

Pertanyaan itu terus menghantuinya hingga akhirnya ia pun terdorong untuk memberikan kontribusi nyata, meskipun tak sebesar yang telah dilakukan para penenun. “Belakangan ini, saya berkunjung kedaerah-daerah di bagian Timur Indonesia. Kembali, saya dibuat terpesona oleh keindahan yang tersaji di lembaran kain yang saya temui,” tutur Yeni.

Setiap daerah menawarkan pesona berbeda melalui motif dan warna yang mewakili nilai budaya yang dianut masing-masing. Tak hanya berinteraksi dengan lembaran kain, Yeni juga berusaha berbincang dengan para pembuatnya, berusaha memahami apa yang mereka butuhkan untuk mengenalkan kreasi tangan mereka serta apa saja kendala yang mereka hadapi dalam mengembangkan dan melestarikan kain tenun tersebut.

Dari interaksi langsung ini, Yeni menemukan sejumlah kendala utama yang mereka hadapi, antara lain lokasi yang sangat jauh dan keterbatasan produksi.

“Terus terang untuk menjangkau wilayah Indonesia Timur memang tidaklah mudah, khususnya dari Jakarta. Saya sendiri perlu menempuh jarak yang sangat jauh dan memakan waktu yang lama untuk bisa mendatangi para penenun. Hal ini menurut saya, merupakan kendala utama dalam mengenalkan dan mendistribusikan kain tenun,” jelas Yeni.

“Selain itu, karena kebanyakan para penenun yang saya kunjungi tergolong pengusaha kecil (rumahan), dimana mereka sendiri yang melakukan kegiatan menenun, hal ini membuat daya produksi yang sangat terbatas. Keterbatasan modal usaha juga tak kalah pentingnya,” urai perempuan ini.

Dari interaksi itulah, Yeni mengaku tergerak untuk membuat wadah bagi para perempuan Indonesia untuk saling berbagi inspirasi dan mengembangkan kecintaan terhadap budaya Bangsa. Tercetuslah ide menyelenggarakan Indonesian Inspiring Women Day (IIWD).

“Karena kecintaan saya yang begitu besar terhadap kain tradisional Indonesia, maka di tahun pertama IIWD, saya tergerak untuk mendedikasikannya untuk para penenun kain tradisional dari Indonesia Timur agar mereka bisa mengenalkan hasil karya mereka,” ujar Yeni dengan wajah berbinar penuh harapan.

Di IIWD, selain memberikan kesempatan para penenun daerah untuk memasarkan produk dan memperluas jaringan di kalangan masyarakat urban, jelas Yeni, ia juga ingin menginspirasi para perempuan Indonesia yang tinggal di perkotaan untuk mengenal pesona kain tradisional dan berbagi informasi seputar gaya hidup dan kecantikan yang bisa membantu mereka tampil stylish dalam balutan kain tradisional.

Dengan mengangkat tema “Delivering Indonesian Premium Textile For Everyone”, di tahun perdananya, Yeni melalui IIWD mengajak kaum perempuan Indonesia untuk mengenal lebih dekat keindahan kain tradisional Indonesia Timur.

“Jika kain batik sudah dikenal luas sebagai salah satu kain tradisional Indonesia, maka para perempuan penenun dari daerah di bagian Timur Indonesia seperti Samarinda, Sambas, Manado, Sulawesi Tengah, Bali, Bima, Kupang, Lombok, Ternate, hingga Maumere juga ingin memperkaya wawasan budaya perempuan urban Jakarta dengan memperkenalkan kain khas masing-masing. Di IIWD 2015 ini, pengunjung dapat melihat, mempelajari dan bahkan membeli kain-kain dari daerah tersebut langsung dari para penenun,” ujarnya.

Guna menarik minat kaum perempuan Jakarta untuk berkunjung, selain pameran kain, Yeni pun menghadirkan sejumlah kegiatan menarik yang sarat akan manfaat seperti talkshow bersama pakar busana dan kecantikan, demo padu-padan kain tradisional, demo makeup ketika berbusana kain tradisional, hingga pertunjukan hiburan. Pakar make up terkemuka Indonesia, Gusnaldy, turut meramaikan perhelatan ini. Pun tak ketinggalan Imelda Fransisca, Miss Indonesia 2006 yang juga hadir sebagai salah satu pengisi acara IIWD 2015.

“Saya harap kontribusi kecil saya ini bisa berdampak positif pada upaya pelestarian warisan budaya Indonesia, khususnya kain tradisional. Saya juga berharap semoga ‘kisah’ dan nilai budaya yang tertuang di setiap lembar kain tradisional yang ditenun oleh para perempuan Indonesia bisa terus teruntai hingga generasi selanjutnya,” harap perempuan bernama lengkap Yeni Atengena Sebayang dengan wajah optimistis.

Semoga.

Iklan

From → Fashion Spread

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: