Lanjut ke konten

Bisnis eCommerce Tetap Menjanjikan

25/05/2015

Meskipun kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2015 tumbuh melambat, namun diperkirakan bisnis eCommerce akan stabil, bahkan cenderung meningkat.

belanja online

Salah satu pelaku eCommerce, Agus Tjandra, CEO Lojai.com dan Founder “Cicilan Online menggunakan Kartu Kredit” di Indonesia, menyikapi perlambatan ekonomi kuartal pertama tahun ini dengan sikap optimistis.

“Benar memang perekonomian di Indonesia sedang melemah, namun dalam industri eCommerce sendiri cukup stabil bahkan cendrung naik,” kata Agus, yang juga menjabat sebagai wakil ketua idEA (Indonesia eCommerce Association/Asosiasi eCommerce Indonesia) dalam keterangan tulisnya, hari ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, pertumbuhan ekonomi selama Januari-Maret 2015 hanya 4,71 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan kinerja pada periode yang sama tahun lalu sebesar 5,14 persen.

Menurut BPS, perlambatan kinerja ekonomi selama kuartal I disebabkan turunnya aktivitas produksi dan konsumsi di dalam negeri. Selain juga dipengaruhi perlambatan ekonomi mitra dagang Indonesia, terutama Cina.

Kepala BPS Suryamin menyebut ada tujuh sentimen yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi melambat, salah satunya adalah konsumsi rumah tangga melambat kecuali makanan dan minuman, tembakau, serta perumahan dan perlengkapan rumah tangga.

Namun demikian, instrumen pendorong ekonomi masih didominasi oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,01 persen, dengan andil terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 56,12 persen – meskipun nilainya lebih rendah dibanding kuartal pertama 2014 yang mampu tumbuh 5,35 persen.

Optimisme Agus Tjandra bukannya tak beralasan. Dia mencontohkan, industri eCommerce atau toko online tak memerlukan sewa gedung, yang terbilang mahal. Pengurangan biaya sewa ini secara signifikan bisa dialihfungsikan ke biaya promosi, dengan anggaran yang lebih ringan. Intinya, toko online bisa menghemat lebih banyak sehingga tak membebani konsumen.

CEO sekaligus Founder Lojai.com ini menjelaskan, pada 2008 silam saat terjadi krisis ekonomi dunia. Namun di Amerika Serikat dan Cina, industri eCommerce justru menopang perekonomian di negara tersebut hingga mencapai angka yang signifikan, yaitu 40 persen. “Diharapkan hal itu juga bisa terjadi di Indonesia saat ekonomi melambat,” ujarnya.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2012 memprediksi, pasar eCommerce di Indonesia akan tumbuh bergairah, mencapai US$ 12 miliar pada 2014 dan diproyeksikan mendekati angka US$ 18 miliar pada 2015.

Agus menilai, proyeksi itu masih relevan dengan kondisi sekarang. Pendorong utama pencapaian itu, menurut Agus Tjandra melibatkan sejumlah faktor, antara lain:

  1. Masyarakat mulai merasakan manfaat berbelanja online dengan harga yang jauh lebih menarik (hemat waktu, hemat ongkos perjalanan, tanpa perlu biaya parkir).
  2. Penjual juga merasakan manfaatnya karena dengan modal yang relatif tidak besar (tanpa harus memiliki toko fisik) sudah bisa menjual produk secara online.
  3. Dibandingkan lima tahun silam, jaringan internet di Indonesia kian membaik khususnya paket data mobile yang lebih murah sehingga menunjang perilaku belanja online konsumen.
  4. Semakin banyak varian penawaran, baik dari segi produk maupun promosinya.
  5. Edukasi dari pemain eCommerce semakin banyak. Bukan bukan hanya dari eCommerce itu sendiri namun juga dari sektor perbankan, dan juga perusahaan telekomunikasi.

 

Iklan

From → Money Talk

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: