Lanjut ke konten

Waspadai Obat dan Kosmetik Palsu

26/02/2014

Peredaran obat dan kosmetik palsu telah menjadi masalah semua negara, tak terkecuali Indonesia.

obat palsu2

Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Robert Blake mengatakan, untuk kawasan Asia sendiri, dari total obat-obatan dan kosmetik yang beredar di masyarakat, sekira 30 persen merupakan produk palsu atau dibawah standar. “Ini masalah serius dan harus kita atasi bersama,” ungkap Blake di sela peluncuran kompetisi iklan layanan masyarakat mengenai upaya menurunkan produk palsu yang digelar di Jakarta, hari ini.

Edukasi ke masyarakat penting mengingat peredaran obat dan kosmetik mengancam kesehatan masyarakat. Di sisi lain, perusahaan yang memproduksi obat asli akan mengalami kerugian akibat produk obat-obatan yang dipalsukan. “Ini persoalan banyak negara dan harus saling kerja sama,” imbuh Blake.

Kontes iklan layanan masyarakat yang menyasar generasi muda usia 18-25 tahun ini merupakan kerja sama antara Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP).

Kepala BPOM Roy A. Sparingga di kesempatan sama mengakui peredaran obat dan kosmetik palsu serta makanan ilegal menjadi suatu masalah besar dari pengawasan BPOM. Pasalnya, selain industri yang dirugikan, negara dan masyarakat juga mendapat dampak negatifnya.

“Pertama pelaku pemalsuan tidak bayar pajak. Kedua, risiko dari produk ilegal yang kita tidak tahu asalnya dari mana ini mengancam kesehatan masyarakat,” ujarnya. “BPOM tak bisa bekerja sendiri. Kami butuh menggandeng lembaga lain untuk memberantas peredartan produk obat dan kosmetik ilegal, contohnya dengan MIAP.”

Roy mengungkapkan, sejauh ini BPOM telah memilki Satuan Tugas (Satgas) untuk mengatasi sisi suplai obat dan kosmetik palsu dan ilegal. Di sisi lain, BPOM juga melakukan pencegahan dengan melakukan edukasi, seperti melalui kompetisi iklan layanan masyarakat dengan target generasi muda. “Obat palsu ada karena ada permintaan dari masyarakat,” tegas dia.

Roy lebih lanjut mengungkapkan, hasil operasi yustisia terhadap peredaran obat dan kosmetik palsu serta makanan ilegal sejauh ini terus dilakukan BPOM. Dia mengatakan, dalam sejumlah operasi yang digelar BPOM di awal tahun 2014, telah menangani sejumlah kasus dengan total nilai puluhan miliar rupiah.

Disebutkan Roy, dalam operasi PANGEA, sejumlah 129 situs internet yang menjual obat dan kosmetik palsu ditutup. “Ada 20 sarana yang diamankan, sebanyak 14 sarana sudah masuk ke ranah hukum. Nilainya sendiri sekitar Rp 5,4 miliar,” ungkap dia.

Selanjutnya, dari operasi STOM yang dilakukan di Jakarta dan beberapa daerah endemik malaria seperti Papua dan NTT, nilai obat-obatan ilegal yang didapat dalam operasi mencapai Rp 5,7 miliar.

Menurut Roy, peredaran obat, kosmetik, dan makanan palsu dan ilegal yang diamankan sejauh ini nilainya masih kecil. Dia mengatakan kasus yang terungkap baru permukaannya saja alias mirip fenomena gunung es, sehingga perlu dicari otak intelektual yang bermain di baliknya.

Laporan MIAP menyebutkan, tingkat peredaran obat palsu dan kosmetik palsu yang berisiko terhadap kesehatan masyarakat Indonesia masih sangat tinggi.

Riset Victory Project yang dilakukan MIAP di empat wilayah yang meliputi Jabodetabek, Bandung (Jawa Barat), Surabaya-Malang (Jawa Timur) dan Medan (Sumatra Utara), dengan sildenafil (orang mengenalnya sebagai Viagra) sebagai sampel obat yang dibeli, menunjukkan tingkat pemalsuan mencapai 45 persen dari 518 tablet yang diperoleh dari 157 outlet.

Ke-157 outlet yang dilibatkan dalam survei merupakan apotek (umum, jaringan, dan rumah sakit), toko obat, penjual di pinggir jalan (khusus di Jakarta dan Surabaya), serta tiga situs yang menawarkan pembelian secara online.

Ketua MIAP Widyaretna Buenastuti mengatakan, obat palsu mengakibatkan pasien tidak kunjung sembuh dan resisten terhadap pengobatan sehingga kondisinya makin memburuk. “Dalam kondisi ekstrem,obat palsu bahkan dapat menimbulkan kematian,” ujar Widya.

Sementara itu, dengan kandungan bahan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, penampilan fisik yang sangat mirip dengan aslinya dan harga yang lebih murah, kosmetik palsu menimbulkan dampak negatif pada penggunanya setelah penggunaan berulang-ulang dalam jangka waktu lama.

Saat ini kosmetik palsu masih diperjualbelikan di kios-kios di berbagai sentra perdagangan, baik tradisional maupun modern di berbagai wilayah di Indonesia.

 

Iklan

From → Money Talk

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: