Hidupgaya –  Bicara seks dengan anak-anak yang menginjak remaja bukan perkara mudah, apalagi di Indonesia. Sikap ewuh pakewuh yang menabukan diskusi mengenai seks menjadi penyebab orangtua menghindari topik ini.

anak nonton TV

Tidak mengherankan, anak-anak cenderung mencari tahu perihal seks bukan dari orangtua mereka, melainkan dari sumber lain yang kurang bisa dipertanggungjawabkan, misalnya film dewasa (pornografi).

Bagaimana jika Anda memergoki si abege tengah menonton tayangan porno? “Diajak diskusi, bukan dinasihati. Usahakan berwajah netral bukan marah,” saran Anna Surti Ariani, psikolog keluarga dari Universitas Indonesia yang biasa disapa Nina menjawab pertanyaan Go4HealthyLife.com, Kamis (15/8).

Pada saat diskusi, kata Nina, berikan sejumlah permintaan, dan mintalah anak menjawabnya. Dengarkan jawabannya dengan seksama. “Jika kita tak setuju dengan jawabannya, beri pertanyaan lain. Karena tujuan pertanyaan adalah menggali sikap dia,” ujar Nina, yang juga ibu dari anak yang mulai beranjak remaja.

Nina mencontohkan sejumlah pertanyaan yang diajukan kepada anak untuk dijawab, antara lain, “Menurut kamu film itu isinya bagaimana?” atau “Menurutmu, siapa yang layak nonton film seperti itu?”. Jika anak menjawab poin kedua dengan jawaban “Semua orang” kejarlah dengan pertanyaan lanjutan “Jika anak-anak lebih kecil daripada kamu menonton film itu, apa kira-kira bahayanya?”

Jika film itu memuat adegan kekerasan, tanyakan kepada anak, “Menurut kamu, kalau tokoh perempuan (laki-laki) diperlakukan seperti itu pantaskah?”

Apabila anak menjawab “Pantas” lanjutkan dengan pertanyaan “Kamu sendiri sebagai perempuan (laki-laki), kalau ada yang memperlakukan seperti itu, apa yang akan kamu lakukan?”

Nina menekankan, dari jawaban-jawaban itulah orangtua dapat menggali cara pandang anak dan mengarahkannya. “Gali sikapnya, arahkan dengan benar agar anak tidak bingung,” kata Nina.

Anak remaja, di mana hormon seksualnya mulai berkembang pesat, sementara ia belum sah secara hukum  (belum menikah) untuk melakukan hubungan seks, biasanya memuaskan hasrat seksualnya dengan masturbasi. Orangtua, dalam hal ini, tak bisa tutup mata atau pura-pura tak tahu. “Berikan penjelasan ilmiah apa untung dan ruginya masturbasi. Contoh, masturbasi hendaknya tidak pakai alat seperti timun, terong, atau alat-alat tajam seperti pensil, tang yang bersifat membahayakan organ kelamin,” kata Nina.

Psikolog di Klinik Terpadu UI Depok ini menambahkan, kalau anak terlalu sering masturbasi, artinya dia selalu memikirkan seksualitas. “Ada yang salah di pikiran si anak. Orangtua mesti menggali apa saja yang dipikirkan anak untuk sama-sama mencari jalan keluar,” saran Nina.

Orangtua, bagaimana pun juga, harus menyadari bahwa bagi remaja yang belum boleh melakukan hubungan seksual dengan orang lain, masturbasi adalah salah satu jalan, selama digunakan dengan bijaksana, demikian menurut Nina yang juga berpraktik sebagai psikolog di Medicare Clinic, Menara Kadin, Jakarta. (www.go4healthylife.com)