Hidupgaya – Tahukah Anda bahwa obat untuk menurunkan hipertensi dan narkotika ternyata bisa mengganggu fungsi ereksi? Bukan hanya obat saja, namun penyakit seperti diabetes mellitus bisa membuat ereksi jadi memble.

disfungsi ereksi

Dikatakan Dokter Em Yunir SpPD, spesialis endokrinologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, saat terangsang, aliran darah ke penis bisa mencapai 10 kali lipat lebih cepat. “Pada mereka yang pembuluh darahnya normal ereksi bisa terjadi maksimal. Namun bagi yang mengalami gangguan pembuluh darah seperti diabetes, aliran darah terganggu. Akibatnya ereksi tidak maksimal,” kata Em Yunir saat diskusi media mengenai disfungsi ereksi yang digelar di Jakarta, baru-baru ini.

Kemampuan ereksi dan penetrasi diukur dengan International Index of Erectile Dysfunction (IIEF). Pada IIEF ini diberikan lima pertanyaan yang harus dijawab oleh pria. Jika skor tiap nomor nol atau 1 untuk lima pertanyaan, maka dikategorikan sebagai disfungsi ereksi berat. “Skor normal di angka 11-25, jika angkanya 15-21 maka dikatakan disfungsi ereksi ringan. Untuk kasus yang ringan, modifikasi gaya hidup dan bantuan obat kemungkinan besar bisa membuat fungsi ereksi normal lagi,” kata Em Yunir.

Menurut Yunir, pada pasien diabetes, sebanyak 50-60 persen fungsi ereksinya bisa dibantu dengan obat disfungsi ereksi. Jika sudah diberikan obat namun ereksi tetap tak maksimal, akan dicek apakah terjadi gangguan hormonal. “Untuk kasus hipotestosteron atau kadar testosteron rendah akan diberikan terapi hormonal. Jika digunakan bersamaan dengan obat disfungsi ereksi, hal ini dapat meningkatkan fungsi ereksi pria,” ujarnya.

Kadar darah yang naik turun tidak teratur pada pasien diabetes, dikatakan Yunir, memengaruhi  kemampuan saraf dalam merespon stimulasi/rangsangan. “Perlu obat untuk melebarkan pembuluh darah,” kata dia. Obat yang kerap dipakai untuk mengatasi disfungsi ereksi adalah golongan PDE5-inhibitor.

Pada pasien diabetes, umumnya memiliki kadar hormon testosteron rendah. Dengan memperbaiki kadar hormone testosteron, pembuluh darah akan lebih lentur. “PDE5 inhibitor dalam jangka panjang akan perbaiki kelenturan pembuluh darah. Tentu harus disertai kontrol gula darah yang baik,” ujarnya.

Phosphodiesterase tipe 5 (PDE5) inhibitor menyebabkan vasodilatasi di penis dan paru-paru dengan menghalangi pemecahan siklik guanosin monofosfat (cGMP) yang menghasilkan perpanjangan aksi mediator vasodilatasi termasuk  nitrit oksida (NO).

PDE5 adalah isoform enzim ini yang ditemukan terutama di penis dan paru-paru. Untuk alasan ini, dua tindakan utama dari PDE5 inhibitor adalah memperpanjang ereksi penis dan menurunkan tekanan pembuluh darah paru.

Disfungsi Ereksi, Alarm untuk Gangguan Jantung

Dalam kesempatan yang sama Spesialis Urologi Fakultas Kedokteran Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Dr.dr. Nur Rasyid SpU, untuk bisa ereksi dengan maksimal dibutuhkan tiga faktor, yaitu saraf,  pembuluh darah dan jaringan penis yang normal yang dikontrol dengan hormon yg normal.

Gangguan efeksi biasanya disebabkan oleh dua hal yaitu, organ atau pikiran. “Kalau pagi ereksi dengan baik, maka bisa dikatakan organnya baik,” kata Nur Rasyid.

Disfungsi ereksi diterjemahkan sebagai ketidakmampuan untuk mendapatkan dan mempertahankan ereksi yang memadai untuk mencapai kepuasan seksual.

Pria dengan gangguan ereksi, kata Nur Rasyid, merupakan alarm gangguan jantung karena pembuluh darah penis lebih kecil dari pembuluh darah jantung. “Kalau naik tangga tiga lantai sudah ngos-ngosan, bisa jadi ereksinya juga tak maksimal. Ini juga bisa jadi indikasi ada masalah dengan jantungnya,” kata dia.

Sayangnya, banyak pria, umumnya di atas 50 tahun yang enggan melaporkan kemampuan ereksinya ke dokter. “Keluhan disfungsi ereksi akan muncul saat dokter bertanya, atau kalau pria datang bersama pasangannya, justru istrinya yang akan mengeluhkan gangguan ereksi suaminya,” kata Em Yunir.

Ada banyak alasan mengapa pria enggan menceritakan tentang ketidakmampuannya ereksi. “Mungkin merasa malu karena ereksi bagian dari kebanggaan laki-laki, sebagian lagi berpikir bahwa di usia di atas 50 tahun aktivitas seksual menjadi tak begitu penting lagi. Masalah baru akan muncul jika ada tuntutan dari pasangan, misalnya yang usianya jauh lebih muda, untuk melakukan hubungan seksual,” ujarnya.

Namun terkadang, ada juga istri yang menolak disfungsi ereksi suaminya diobati karena usianya sudah lanjut. “Umumnya ini terjadi pada pasangan suami istri yang usianya berdekatan. Mereka berpikir, di usia itu seharusnya ereksi bukan masalah yang penting. Saatnya organ kelamin pria parker,” kata Yunir.

Disfungsi ereksi bisa dilakukan dengan perabaan secara fisik. Jika temukan penis bengkok, biasanya terjadi pengerasan. “Semakin berat disfungsi ereksi yang dialami, umumnya penis semakin bengkok,”ujar Yunir.

Umumnya terapi dilakukan dengan suntikan untuk membuang bagian yang mengeras. Jika upaya tersebut tidak berhasil, akan dilanjutkan dengan operasi. (www.go4healthylife.com)