Hidupgaya.co – Perempuan dengan ukuran payudara yang sangat besar menghadapi masalah yang jauh lebih serius daripada sekadar mencari bra yang pas.
Pasalnya, wanita dengan payudara yang membesar secara tidak wajar tampaknya memiliki risiko lebih tinggi mengalami sakit kepala, rasa nyeri, dan gangguan tidur, demikian dilaporkan oleh para peneliti pada jurnal Headache, baru-baru ini.
Makromastia atau hipertrofi payudara adalah kondisi medis langka di mana jaringan payudara tumbuh secara berlebihan dan tidak normal. Kondisi ini dapat terjadi pada salah satu maupun kedua payudara, serta sering kali muncul pada masa pubertas atau kehamilan.
“Banyak orang menganggap pembesaran jaringan payudara terutama sebagai masalah kosmetik, namun temuan kami menunjukkan bahwa kondisi ini mungkin berkaitan dengan spektrum masalah kesehatan perempuan yang lebih luas, termasuk migrain kronis, nyeri leher, dan gangguan pernapasan saat tidur,” ujar peneliti utama Dr. Kristyn Pocock, seorang asisten profesor neurologi di Wake Forest University School of Medicine.
Dalam studi ini, para peneliti mengamati kesehatan hampir 350 perempuan yang didiagnosis menderita makromastia, istilah medis untuk kondisi payudara yang berukuran sangat besar.
Para perempuan tersebut menjalani perawatan antara tahun 2017 hingga 2024 di klinik sakit kepala dan neurologi yang berafiliasi dengan Stanford Medical Center di California.
Menurut catatan latar belakang penelitian, perempuan dengan makromastia memiliki payudara yang masing-masing berbobot lebih dari 2,2 pon (sekitar 1 kilogram).
Kasus makromastia yang parah dapat melibatkan payudara dengan berat lebih dari 3,3 pon (sekitar 1,5 kilogram) per sisi, atau lebih dari 3% dari total berat badan perempuan tersebut.
Para peneliti menyatakan bahwa gejala yang dikaitkan dengan makromastia mencakup sakit kepala, nyeri leher dan punggung, serta rasa tidak nyaman pada bahu.
Beberapa perempuan memilih untuk menjalani operasi pengecilan payudara guna meredakan gejala-gejala tersebut.
Namun, para peneliti mencatat bahwa masih belum banyak yang diketahui mengenai bagaimana makromastia dapat memengaruhi gangguan sakit kepala parah dan nyeri kronis, seperti migrain.
“Memahami hubungan ini dengan lebih baik, kita dapat membantu memastikan para perempuan mendapatkan evaluasi dan perawatan yang lebih komprehensif untuk gejala-gejala yang mungkin memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka,” kata Pocock.
Membandingkan perempuan yang mengalami makromastia dengan jumlah perempuan yang tidak memiliki kondisi tersebut, para peneliti menemukan bahwa payudara yang terlalu besar berkaitan dengan:
* Risiko migrain kronis yang 40% lebih tinggi.
* Risiko nyeri leher yang dua kali lipat lebih besar.
* Kemungkinan mengalami sleep apnea (henti napas saat tidur) yang 50% lebih tinggi.
* Risiko saraf terjepit di tulang belakang,yang juga dikenal sebagai radikulopati servikal, yang meningkat lebih dari dua kali lipat.
“Temuan ini memunculkan pertanyaan penting mengenai bagaimana jaringan payudara yang membesar dapat berkontribusi terhadap gejala yang menyakitkan bagi perempuan,” ujar Pocock.
Para peneliti juga menemukan bahwa nyeri leher merupakan satu-satunya kondisi yang dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan seseorang menjalani operasi pengecilan payudara.
Perempuan yang mengalami nyeri leher memiliki kemungkinan lebih dari dua kali lipat untuk mencari tindakan pengecilan payudara, sementara migrain, saraf terjepit, atau sleep apnea tidak meningkatkan kemungkinan mereka menjalani operasi tersebut.
Namun, para peneliti mencatat bahwa studi ini tidak dirancang untuk menjelaskan secara tepat bagaimana makromastia dapat meningkatkan risiko kondisi-kondisi yang menyakitkan ini.
Para peneliti berspekulasi bahwa jaringan payudara yang berat mungkin memberikan tekanan berlebih pada sistem kerangka dan saraf. Selain itu, payudara yang terlalu besar juga dapat mengganggu pernapasan saat tidur dengan cara menekan dinding dada.
“Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan apakah penanganan makromastia dapat membantu perempuan tertentu mendapatkan kelegaan dan meningkatkan kualitas hidup mereka,” kata Pocock. (HG)