Hidupgaya.co – Kota Solo identik dengan batik. Pasar Klewer merupakan sentra batik legendaris yang wajib dikunjungi saat singgah di kota ini. Batik Indonesia, yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Unesco pada 2 Oktober 2009, kian mengukuhkan wastra ini menempati posisi istimewa.
Salah satu jenama batik asal Solo, Rizkya Batik, sejak awal dibesut pada 2010 oleh Dwi Hendrarti (Hetty) berupaya menghadirkan busana batik berkualitas, nyaman dikenakan dengan tetap mengusung ciri khas Solo.
Berawal dari garmen kecil, Rizkya Batik berkembang menjadi merek busana batik yang disukai pelanggan tanpa meninggalkan ciri khas.
“Ciri utama Rizkya Batik itu selalu ada warna sogan, ada nuansa kecokelatan, kekuningan hingga kemerahan. Jadi walaupun berwarna tetap ada sogannya sebagai ciri khas batik Solo,” kata Hetty di sela pembukaan Gallery Rizkya Batik di kawasan BSD Tangerang Selatan, Sabtu (17/10).
Memadukan teknik klasik dengan pendekatan desain modern, jenama batik ini berupaya merangkul berbagai kalangan, dari usia matang hingga anak muda agar gemar memakai batik dalam keseharian. “Untuk merangkul anak muda, kami selalu mengikuti tren kekinian, misalnya model kebaya janggan yang terkenal di Gadis Kretek,” terang Hetty.

Kebaya janggan memiliki kerah yang menjulang tinggi dan menutup bagian leher (berasal dari kata jangga yang berarti leher) dengan model kancing rapat di bagian dada hingga leher, serta siuet lurus, rapat dan panjang menutup pinggang atau panggul.
Ternyata strategi ini berbuah manis, atasan dengan model kerah janggan mendapat sambutan positif dari konsumen. Agar harga terjangkau di kalangan konsumen muda, produk batik tulis Rizkya dipadukan dengan kain polos, atau wastra lain seperti tenun atau lurik.
Selain batik tulis, jenama ini juga membuat busana dari batik cap dengan desain kekinian yang digemari anak muda. “Jadi ada beberapa baju yang tidak full batik tulis, tapi dipadukan dengan kain polos, lurik atau bordir jadi harganya lebih terjangkau anak muda,” tutur Hetty.
Hadir di jaringan pusat belanja terkemuka
Dalam upaya menjangkau kalangan lebih luas, terutama anak muda, Hetty dibantu Novana Sandra Dewi (Nova), anak perempuannya yang didapuk sebagai CEO Rizky Batik. “Dibantu Mbak Nova, Rizkya Batik bisa hadir di sejumlah mal terkemuka di Indonesia, bahkan bisa ekspor ke Malaysia. Di Singapura, Amerika, Eropa, juga kita ada customer,” ujar Hetty.

Selain hadir di berbagai pusat belanja, misalnya di 10 jaringan Sogo di berbagai wilayah Indonesia, Thamrin City (lima toko) dan Sarinah Jakarta, Rizkya Batik juga gencar mengikuti pameran. “Memang dari awal saya suka pameran. Jadi kita memperkenalkan brand batik Rizkya dengan ikut roadshow, pameran dari daerah ke daerah,” beber Hetty.
Dia mengungkap, mayoritas pembeli Rizkya Batik adalah pelanggan loyal yang akan melakukan pembelian berulang (repeat order). “Kita selalu jaga kualitas. Biasanya batik itu kalau dicuci pertama akan luntur, mengeluarkan pewarnaan pertama. Nah itu kami bantu cucikan dulu, jadi begitu sampai ke pelanggan tidak luntur,” ujarnya.
Selain itu, baju yang dibeli dari Rizkya Batik juga ada garansi. “Kalau ada kerusakan kita ganti,” imbuhnya.
Selama menjalankan bisnis, Hetty banyak menerima umpan balik positif terkait busana produksi Rizkya Batik. “Banyak pelanggan merasa cocok dengan ukurannya. Begitu dipakai langsung terasa ‘slep’ pas, tidak perlu lagi dipermak. Cuttingan-nya sudah pas,” urainya.
Wawasan baru yang membuka mata
Kesempatan sama, Nova menyampaikan bahwa pengalaman mengikuti program PINTU Incubator pertama 2022, kolaborasi JF3 dengan Kedutaan Besar Prancis, membantu memperkaya desain dan tata kelola Rizkya Batik.

“Itu sebuah kesempatan yang luar biasa yang diberikan kepada kami karena di situ benar-benar dipertemukan dengan ahlinya fashion dari negara Prancis. Kita juga jadi tahu bagaimana fashion di luar sana. Kadang-kadang kita kan karena besar di negara sendiri, jadi tahunya cuma gini-gini aja,” bebernya.
Mengikuti PINTU diakui Nova membawa wawasan yang sangat membuka mata. “Oh, begini loh kalau mau membawa produk kita ke luar negeri. Kualitasnya harus menembus seperti ini. Semua diajarkan di situ, dari sistem produksi, sistem jahitnya juga. Mereka tuh sampai ngajarin bagaimana menjahit, jahitannya harus kelihatannya seperti apa, sampai hal seperti itu,” Nova menjabarkan.
Di program PINTU, dia banyak belajar sekaligus menyerap pengetahuan strategi menembus pasar luar negeri, misalnya Eropa. “Itu pengalaman yang sangat berharga dan selalu kita ikuti itu sampai sekarang, karena harapannya kita bisa membawa batik ke kancah internasional dengan tidak menghilangkan unsur budaya Indonesia,” tandas Nova. (HG)