Hidupgaya.co – Polemik tentang film Korea The Assassin(s) masih berlanjut. Agensi Yoo Hae-jin menyatakan bahwa aktor utama film kontroversial itu akan mengambil sikap tegas terhadap para pengunjuk rasa yang berkumpul di depan rumahnya di Seoul selama akhir pekan.
VAST Entertainment menyatakan pihaknya menanggapi masalah ini dengan serius. “Kami akan mengambil sikap tegas terhadap segala tindakan yang melanggar privasi aktor, mengancam keselamatannya, atau mencoreng reputasinya,” ujar agensi tersebut dalam sebuah pernyataan dikutip media Korea.
Agensi menambahkan bahwa mereka sedang mengumpulkan unggahan daring dan materi lain yang relevan, serta akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan keselamatan Yoo dari tindakan ilegal.
Pada hari Minggu (4/10), anggota kelompok masyarakat sipil konservatif menggelar unjuk rasa di dekat rumah Yoo di Distrik Seongbuk, Seoul. Mereka menuntut agar film tersebut ditarik dari bioskop serta meminta permintaan maaf dari para pemeran dan tim produksi.
The Assassin(s) berkisah tentang upaya pembunuhan terhadap Presiden Park Chung-hee pada tahun 1974. Park selamat dari serangan tersebut, sementara Ibu Negara saat itu, Yuk Young-soo, tewas.
Investigasi resmi menyimpulkan bahwa Mun Se-gwang, seorang warga Korea yang tinggal di Jepang, bertindak sendiri di bawah instruksi yang terkait dengan Korea Utara.

Namun, film tersebut mengisyaratkan kemungkinan keterlibatan pejabat pemerintah dan intelijen—sebuah penggambaran yang dikecam oleh para kritikus sebagai distorsi sejarah dan pencemaran nama baik yang didasarkan pada klaim-klaim yang mereka anggap tidak benar.
Menteri Kebudayaan Chae Hwi-young juga angkat bicara menentang para pengunjuk rasa pada hari Senin (5/10).
Dalam pesan yang diunggah di akun media sosialnya, Chae meminta polisi dan pihak berwenang lainnya untuk melindungi para pemeran dan kru film serta menegakkan hukum secara tegas terhadap ancaman dan intimidasi.
“Masyarakat bebas menilai sebuah film, namun ancaman terhadap keselamatan pribadi para pembuatnya merusak demokrasi,” tulis Chae. “Jika kritik terhadap sebuah film sampai pada tahap mengerahkan pengunjuk rasa ke rumah aktor, mengganggu kehidupan pribadi, dan mengancam keselamatan pribadi, hal itu tidak boleh ditoleransi.”
Menteri tersebut mengatakan bahwa ia telah meminta pihak berwenang terkait untuk mengambil langkah-langkah pengamanan bagi mereka yang terlibat dalam film tersebut dan menindak tegas tindakan ilegal, termasuk ancaman dan intimidasi di depan kediaman pribadi.
Para kritikus membanjiri media sosial dengan komentar-komentar pedas, menyerukan boikot terhadap produk-produk yang diiklankan oleh Yoo. Mereka juga mendesak perusahaan-perusahaan untuk membatalkan kontrak iklan dengan Yoo.
Sebuah koalisi yang terdiri dari 19 organisasi perfilman juga mengeluarkan pernyataan bersama pada hari Senin, yang menyuarakan kekhawatiran serupa dengan sang menteri.
“Penilaian terhadap suatu karya adalah hak penonton dan masyarakat,” ujar koalisi tersebut. “Kehidupan sehari-hari maupun keselamatan seseorang tidak boleh terancam hanya karena mereka terlibat dalam sebuah karya atau menyampaikan pendapat,” tambah kelompok itu.
Gelombang reaksi negatif yang kian membesar ini telah mengganggu jadwal promosi film tersebut. Dengan alasan keamanan, pihak rumah produksi membatalkan rencana kehadiran mereka dalam upacara pembukaan Busan International Film Festival ke-31 serta sesi pemotretan di luar ruangan.
Sementara itu di tengah kontroversi, The Assassin(s) tetap menempati posisi puncak di box office Korea dan telah mencatatkan lebih dari 2 juta penonton hingga Senin (5/10).