Hidupgaya.co – Putri Marino tampil cemerlang memerankan Pertiwi, penyintas kekerasan seksual, dalam film besutan sutradara Kamila Andini, Empat Musim Pertiwi. Di film berdurasi dua jam lebih, Putri menampilkan karakter liar, berjiwa bebas namun tetap penuh kehati-hatian.

Emosi Pertiwi sulit ditebak. Sebagai korban kekerasan seksual yang melibatkan peran orang terdekat yang seharusnya melindunginya, Pertiwi menyimpan emosi terpendam yang bisa muncul setelah puluhan tahun hanya dengan melihat benda-benda yang dikenalnya di masa lalu.

Empat Musim Pertiwi mengangkat kisah Pertiwi, seorang perempuan yang kembali ke kampung halamannya setelah dua dekade dan harus berhadapan kembali dengan luka, penolakan, serta masa lalu yang pernah membentuk hidupnya.

Melalui perjalanan tersebut, film ini menggambarkan proses pemulihan, keberanian menghadapi kenyataan, serta ketangguhan seorang perempuan dalam menemukan kembali makna rumah, keluarga, dan kedamaian.

Putri mengaku awalnya sulit memahami sosok Pertiwi yang kompleks. Dia berdiskusi dengan Kamila, yang menyarankannya membaca novel Perempuan di Titik Nol, untuk membantunya memahami pengalaman perempuan serta berbagai bentuk ketidakadilan yang mereka hadapi.

Novel karya Nawal El Saadawi itu mengisahkan kehidupan Firdaus, perempuan yang mendekam di penjara dan menunggu hukuman mati setelah membunuh seorang germo. Buku tersebut kemudian menjadi salah satu referensi Putri untuk memahami bagaimana ketidakadilan dapat membentuk cara pandang dan kehidupan seorang perempuan.

Putri Marino dan Arya Saloka (dok. Instagram)

“Aku baca buku itu dan akhirnya pelan-pelan mulai mengerti tentang rasa yang dialami seorang perempuan, ketidakadilan tanpa henti yang dialami oleh perempuan di daerah domestiknya, di lingkungan tempat dia bertumbuh, tempat dia bekerja,” tuturnya usai nonton bareng Empat Musim Pertiwi di Epicentrum Jakarta, baru-baru ini.

Dengan jujur, Putri mengakui karakter Pertiwi amat berbeda dengan dirinya sebagai pribadi. “Aku rasa Pertiwi dan Putri adalah dua karakter yang sangat jauh berbeda. Rasanya sangat susah untuk aku, Putri, mengenal Pertiwi, masuk ke Pertiwi, dan mengerti Pertiwi karena seorang Putri kayaknya susah untuk mengerti pola pikirnya Pertiwi,” bebernya usai nonton bareng Empat Musim Pertiwi di Epicentrum Jakarta, baru-baru ini.

Menyelami emosi Pertiwi bukan pekerjaan mudah. Selepas keluar dari penjara akibat membunuh kaki tangan orang yang memperkosanya, Pertiwi terlihat tegar, meskipun di dalam hatinya remuk, mati rasa. “Pertiwi itu dia masih hidup, masih bisa bernapas, tapi dalamnya mati,” Putri menggambarkan karakter yang diperankannya.

Akibat hukuman penjara yang harus dijalaninya di usia belia, 16 tahun, Pertiwi harus rela menanggalkan mimpi. Padahal di sekolah dia termasuk murid pintar.

Keluar dari penjara, masyarakat sekitar juga menolaknya, menatapnya dengan curiga karena cap ‘pembunuh’ yang melekat padanya.

Film dengan pemeran utama Putri Marino dan Arya Saloka (sebagai Bisma, kekasih masa lalu) menyajikan cerita yang mengalir pelan, banyak kilas balik, berlatar belakang Bromo sebagai lokasi syuting utama. Sinematografi di film ini memanjakan mata, sehingga durasi tayang dua jam tak terasa lama.

Percakapan campuran antara bahasa Jawa dan Indonesia dominan di sepanjang film. Putri yang keturunan Bali terlihat luwes mengucapkan bahasa Jawa ‘ngoko’ dalam banyak dialog.

Munculnya aktor senior Christine Hakim sebagai karakter Mak Ira, mantan pekerja seks yang banting stir jadi penjual makanan di kawasan Bromo, cukup menyegarkan suasana. Dengan umpatan khas Jawa Timuran, Christine sukses membuat penonton tertawa di sela kehidupan getir yang dijalaninya.

Putri Marino dan Arya Saloka dalam salah satu adegan Empat Musim Pertiwi

Di tangan Kamila Andini, salah satu sutradara terkemuka Indonesia, Empat Musim Pertiwi,tampil berkarakter dan bercerita dari sisi perempuan, mengungkap ketidakadilan yang kerap terjadi di sekitar, bahkan oleh orang terdekat yang seharusnya berperan sebagai pelindung.

Film produksi Forka Films ini telah dipilih oleh Komite Seleksi Oscar Indonesia (IOSC) sebagai perwakilan resmi negara untuk diajukan ke Best International Feature Film di ajang Academy Awards ke-99 atau Oscar 2027.

Dukungan terhadap kekuatan cerita perempuan

Oriflame Indonesia turut memberikan dukungan terhadap film yang diproduksi oleh Forka Films.

Fredrik Nilsson, Vice President & General Manager Oriflame Indonesia, menyampaikan dukungan terhadap Empat Musim Pertiwi adalah bagian dari perjalanan panjang.

Perusahaan kosmetik asal Swedia itu telah ‘menemani’ film ini jauh sebelum namanya disebut di panggung internasional, dan bertahan sampai menyapa penonton di bioskop Indonesia. “Langkah ini menjadi bentuk nyata keyakinan brand terhadap kekuatan cerita perempuan, keberanian untuk bangkit, serta pentingnya ruang bagi suara perempuan Indonesia untuk didengar lebih luas,” ujarnya.

Cerita Pertiwi dinilai relevan dengan semangat Oriflame yang selama ini percaya bahwa setiap perempuan memiliki kekuatan untuk bertumbuh, menentukan langkah hidupnya, dan menemukan kepercayaan diri melalui proses yang tidak selalu mudah.

“Bagi Oriflame, beauty tidak hanya berbicara tentang penampilan, tetapi juga tentang keberanian untuk mengekspresikan diri, membangun peluang, serta bangkit dari berbagai musim kehidupan,” tutur Nilsson.

Perjalanan Empat Musim Pertiwi semakin memperkuat posisinya sebagai karya Indonesia yang memiliki resonansi global.

Kiri ke kanan: Ifa Isfanyah dari rumah produksi Forka Films, Kamila Andini, Putri Marino dan Arya Saloka (dok. Instagram)

Sebelum resmi menyapa penonton nasional, film ini telah lebih dulu melangkah ke panggung internasional melalui Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 dalam program Centrepiece, dilanjutkan dengan kehadirannya di Busan International Film Festival (BIFF) 2026 dalam program A Window on Asian Cinema.

Film itu terpilih dalam CROSSCUT ASIA+ di Tokyo International Film Festival 2026, sebuah section yang menyoroti sinema Asia Tenggara dan kolaborasi lintas negara di kawasan Asia.

Di luar festival, Empat Musim Pertiwi juga mendapatkan pengakuan di Asia Pacific Screen Awards (APSA) 2026 melalui nominasi Best Cinematography untuk sinematografer Batara Goempar.

Rangkaian pencapaian ini menunjukkan bahwa cerita yang sangat berakar pada budaya Indonesia dapat berbicara dalam bahasa yang universal, menyentuh isu tentang perempuan, trauma, ketangguhan, keadilan, dan kekuatan komunitas.

Film ini mengingatkan kita bahwa perempuan memiliki daya untuk bertahan, pulih, dan kembali menemukan cahayanya, bahkan setelah melalui masa-masa sulit. “Bagi Oriflame, inilah makna beauty yang lebih dalam: keberanian, kepercayaan diri, dan kekuatan untuk menjadi diri sendiri,” tandas Nilsson. (HG)