Hidupgaya.co – Bagi kalian yang mengandalkan jam tangan pintar untuk mengetahui jumlah kalori yang sebenarnya terbakar saat berolahraga, sebaiknya jangan terlalu percaya.
Alat pelacak kebugaranadalah penyemangat yang hebat; alat ini memberikan dorongan motivasi kecil melalui setiap bunyi, getaran, dan animasi layar yang menandakan tercapainya target aktivitas.
Namun, alat ini kurang dapat diandalkan dalam mengukur total pengeluaran energi saat berolahraga.
Dalam sebuah evaluasi independen, para peneliti FIU menguji empat jam tangan kebugaran paling populer dan membandingkannya dengan peralatan laboratorium klinis berstandar emas.
Hasilnya menunjukkan bahwa jam-jam tangan tersebut secara konsisten melebih-lebihkan jumlah kalori yang dibakar pengguna.
Menurut hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal PLOS One, tingkat kesalahan ini bervariasi pada setiap orang.
Semakin tinggi kadar lemak tubuh, semakin besar pula tingkat kesalahannya. Ini berarti orang-orang yang paling mungkin melacak kalori demi mengelola berat badan justru bisa jadi mendapatkan data yang paling tidak akurat.
“Kita tidak bisa menganggap angka kalori yang ditampilkan sebagai angka yang akurat, karena kenyataannya tidak demikian,” ujar Jason Kostrna, penulis utama studi sekaligus profesor madya kinesiologi dan ilmu olahraga di College of Arts, Sciences & Education, FIU.

“Selisihnya bisa mencapai ratusan kalori setiap minggu, sehingga kita bisa saja mengalami surplus kalori padahal mengira sedang berada dalam kondisi defisit kalori.”
Cara pengujian jam tangan pintar
Dalam studi ini, para peneliti meminta 58 orang dewasa untuk mengendarai sepeda statis jenis recumbent (posisi duduk bersandar) dengan pola latihan terkontrol yang berganti-ganti antara intensitas sedang dan tinggi.
Para peserta mengenakan model-model jam tangan paling populer, yakni Apple Watch Series 8, Fitbit Sense 2, Samsung Galaxy Watch 5, dan Garmin Forerunner 955. Sementara alat analisis metabolik COSMED K5 (peralatan berstandar emas yang digunakan di laboratorium klinis) mengukur penggunaan energi yang sebenarnya.
Tingkat kesalahan umum berkisar antara 15% hingga 25%, namun rata-rata kesalahan pada jam tangan dengan performa terburuk jauh lebih tinggi.
Apple tercatat sebagai yang paling akurat, sedangkan Garmin dan Samsung paling sering melebih-lebihkan angka kalori.
Hasil untuk Fitbit masih belum dapat disimpulkan secara pasti. Selama pengujian, perangkat tersebut terkadang melaporkan jumlah kalori yang sangat rendah dan tidak masuk akal, bahkan hanya satu kalori untuk satu sesi latihan penuh, dan kadang-kadang gagal menampilkan angka sama sekali.
Karena banyak pengukuran yang tampak tidak akurat, para peneliti tidak menyertakan sebagian besar data tersebut dalam analisis mereka.
Lemak tubuh pengaruhi akurasi hasil
Kostrna mengatakan bahwa timnya belum memiliki jawaban pasti mengenai alasan mengapa perangkat pelacak ini kesulitan menangani persentase lemak tubuh yang lebih tinggi.
Namun, ia meyakini bahwa algoritma yang digunakan untuk memperkirakan pembakaran kalori mungkin berperan dalam hal ini.
“Saat perusahaan mengembangkan algoritma tersebut, kita tidak tahu dari mana data pengujiannya berasal,” ujarnya. “Itulah sebabnya menurut saya penting bagi perusahaan untuk melihat data semacam ini, agar mereka dapat menyempurnakan produk mereka seiring berjalannya waktu.”
Kostrna kini sedang mengerjakan tahap selanjutnya dari penelitian ini, yaitu mengamati seberapa akurat jam tangan tersebut dalam memperkirakan kalori selama latihan kekuatan konvensional. Jenis latihan ini melibatkan lonjakan upaya singkat namun intens yang sering kali sulit dibaca oleh algoritma.
Gunakan angka lebih bijak
Para peneliti menegaskan bahwa jam tangan pintar tetap bermanfaat, asalkan pengguna memahami keterbatasannya.
Mereka menyarankan agar estimasi pembakaran kalori dianggap sebagai panduan kasar, bukan pengukuran yang presisi, serta menyarankan pembulatan angka ke bawah agar hasilnya tetap konservatif.
Saat yang sama, mereka memperingatkan agar pengguna tidak mencoba menutupi selisih angka tersebut dengan memangkas asupan makanan secara berlebihan.
Pasalnya tubuh tetap butuh asupan energi untuk pemulihan dan mendukung latihan yang konsisten.
Sebaiknya pengguna lebih mengandalkan metrik yang dapat dilacak secara akurat oleh perangkat wearable, seperti detak jantung dan durasi waktu di setiap zona detak jantung; data ini memberikan acuan konkret untuk ditindaklanjuti saat kita membangun daya tahan tubuh.
“Mungkin perangkat ini tidak sempurna, namun tetap memiliki peran penting,” kata Kostrna. “Pantau tren data dari waktu ke waktu. Jika pelacakan ini membantu, nikmatilah. Jika terasa terlalu membebani, jangan terlalu terpaku padanya.’ (HG)