Hidupgaya.co – Banyak pelari Indonesia yang punya mimpi ikut marathon internasional, tapi ragu karena belum tahu harus mulai dari mana, terutama dari segi persiapan. Tenang, lari juga butuh proses, nggak serta merta bisa half marathon, bahkan full marathon.
Bagi pemula, penting untuk didampingi pelatih agar tujuan ikut lari marathon tercapai dengan sehat dan selamat, alias finish strong.
“Kami ingin pelari Indonesia merasa didampingi dari hari pertama latihan sampai mereka finish di Singapura. Kepercayaan Singapore Tourism Board dan BYD Singapore International Marathon presented by adidas (SGIM) 2026 ke GMC Active jadi bukti bahwa Indonesia siap membawa pelarinya ke panggung internasional,” ungkap Natasha Pardede, Direktur Utama GMC Active dalam temu media di Jakarta, Rabu (12/8).
Melalui inisiatif ini, sebut Natasha, GMC Active dan Lesnois ingin membuat SGIM terasa lebih dekat dan lebih mudah diikuti oleh pelari Indonesia, terutama mereka yang baru pertama kali mencoba ajang lari internasional.

“Kombinasi persiapan terstruktur, dukungan komunitas, dan pengalaman race yang dikurasi diharapkan mendorong lebih banyak orang Indonesia menjelajahi Singapura, bukan cuma sebagai tujuan wisata, tapi juga sebagai ruang olahraga dan momen kebersamaan yang bermakna,” tandasnya.
Program ini memasangkan slot race dengan pelatihan tiga bulan bersama pelatih berpengalaman, Coach Valast. Pelatihan terbuka untuk kategori 10K, half marathon, dan full marathon.
Bukan sekadar tiket race, GMC Active dan Lesnois menyediakan journey yang utuh dari awal hingga akhir.
Selain pelatihan, peserta juga akan diajak dalam lari komunitas rutin dan sesi persiapan pra acara. Natasha menyampaikan, enam sosok yang disebut Cult Leaders akan menjadi wajah dari perjalanan ini, mendampingi peserta dari pelari pemula hingga level lanjutan.
Coach Valast, Direktur Program untuk SGIM 2026 memberikan catatan bagi orang kelebihan berat badan yang hendak memulai aktivitas lari. Dia menyarankan prosesnya dilakukan bertahap. “Jalan kaki dapat menjadi tahap awal untuk membangun kebiasaan sekaligus mempersiapkan tubuh,” ujarnya.
Membangun kebiasaan jalan 20-30 menit selama satu bulan disarankan bagi orang kelebihan berat badan. Transisi dari jalan kaki menuju lari dapat dilakukan perlahan. Setelah tubuh terbiasa berjalan, pemula bisa menyisipkan jogging ringan dengan jarak pendek, kemudian kembali berjalan.
“Bisa dengan berjalan 500 meter, lalu mulai sedikit ada bouncing atau berjinjit sejauh 200 meter,” saran Coach Valast.
Selanjutnya, intensitas ditingkatkan lagi sampai 500 meter. Cara ini, menurut Coach Valast, penting dilakukan agar tubuh terbiasa dengan gerakan kardio.
Bagi pemula yang mengikuti ajang lari untuk pertama kalinya sebaiknya tidak hanya berorientasi pada catatan waktu. “Membangun kebiasaan olahraga, mengenali kemampuan tubuh, dan menikmati proses latihan dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju gaya hidup yang lebih aktif,” cetus Coach Valast.
“Nikmati dulu prosesnya, latih dulu badannya, latih dulu mentalnya, sehingga kita bisa menyelesaikan lomba tersebut dengan baik.”

Menurutnya target mengikuti race sebaiknya tidak membuat pelari pemula terburu-buru mengejar pencapaian tertentu.
“Jadi teman-teman harus tahu batas kemampuan. Kalau rasa-rasanya mulai ada sesuatu yang tidak enak itu harus stop. Masih ada race lagi, next race masih ada, tapi jantung kita cuma satu,” tandasnya
Bagi pemula yang belum memahami teknik maupun pola latihan, pendampingan dari coach juga dapat membantu pada tahap awal.
Adapun bagi mereka dengan riwayat penyakit sebaiknya konsultasi dengan dokter sebelum memutuskan ikut race, ketahui batas latihan yang aman dari dokter seperti durasi latihan hingga intensitas yang dianjurkan. (HG)