Hidupgaya.co – Sosok pemeran utama pria dalam komedi romantis yang santai dan ceria itu telah sirna. Sebagai gantinya, kini hadir sosok pembasmi hantu dengan wajah pucat dan tirus serta tulang pipi yang menonjol tajam.
Wajah yang mencerminkan keletihan akibat pertarungan melawan roh jahat dan perjalanan melintasi batas antara dunia orang hidup dan alam kematian.
Setelah vakum selama tiga tahun, termasuk masa wajib militer, Nam Joo Hyuk akhirnya kembali. Di usia 20-an, Nam dicintai sebagai ikon masa muda. Kini, saat kembali berkarya di usia 30-an, ia bertekad membangun identitas yang khas bagi dirinya sendiri.
Dia kembali dengan kuat, bersama serial Netflix berjudul The East Palace, bisa jadi akan menjadi penentu babak kedua dalam karier aktingnya.
Saat diwawancarai di sebuah kafe di kawasan Jongno, Seoul, Nam mengaku lega melihat drama tersebut akhirnya dirilis.
Saat ini, serial itu menempati peringkat kedua sebagai tayangan bukan bahasa Inggris yang paling banyak ditonton secara global di Netflix.
“Sutradara, kru, dan rekan-rekan sesama aktor telah bekerja sangat keras dalam proyek ini, bertahan menghadapi cuaca panas yang menyengat maupun dingin yang menusuk,” ujar Nam dikutip Hankook Ilbo.

“Sejujurnya, aku mengira butuh waktu cukup lama agar serial ini mendapat perhatian di luar negeri, namun ternyata banyak orang yang menyukainya, akusungguh bersyukur karenanya.”
Perankan sosok pembasmi hantu penyendiri
Dirilis secara utuh pada 17 Juli, drama berlatar sejarah dengan unsur okultisme yang terdiri dari delapan episode ini mengisahkan tentang Gu-cheon.
Ia dipanggil oleh Raja (Cho Seung-woo) untuk menyelidiki kutukan yang menghantui kediaman putra mahkota, menyusul serangkaian kematian putra mahkota di dalam istana dan merebaknya rumor bahwa hantu menjadi penyebabnya.
Ia ditemani oleh Putri Saenggang (Roh Yoon-seo), yang menyusup ke dalam istana dengan menyamar sebagai dayang istana.
Nam masih menjalani wajib militer saat menerima naskah tersebut, yang sarat dengan adegan bawah air dan rangkaian aksi laga.
“Saat pertama kali membaca naskahnya, sku berpikir, ‘Ini bakal berat,’ padahal saat itu kondisi fisikku sedang prima dan semangat sedang meluap-luap,” ujar Nam seraya tertawa.
“Setelah merampungkan adegan aksi pertama, aku pun bergumam, ‘Oke, ini benar-benar akan menjadi tantangan berat.’
Terlepas dari firasat awal itu, sang aktor mengaku langsung terpikat oleh naskahnya; ia merasa tertarik ke dalam dunia cerita tersebut dan membayangkan dirinya menjelajahinya.
“Dunia gwi, alam lain yang dihuni oleh roh, tergambar begitu hidup dalam imajinasiku,” ujarnya.
“Aku terus bertanya-tanya bagaimana dunia yang belum pernah dilihat siapa pun itu akan diwujudkan di layar. Di saat yang sama, aku juga memikirkan nasib karakter yang begitu asing dengan lingkungan istana saat ia akhirnya harus berada di dalamnya.”
Karakter itu adalah Gu-cheon, tokoh utama drama ini. Sebagai pembasmi roh, ia bergerak di antara dunia orang hidup dan alam gwi.
Nam mendalami karakter ini dengan sangat saksama, hingga sang sutradara memujinya karena mampu memahami karakter tersebut dengan ketajaman luar biasa, bahkan hingga ke detail terkecil.
“Ia memperoleh kemampuan memburu roh setelah jatuh ke dalam air bersama ibunya dan berhasil selamat seorang diri. Aku beranggapan bahwa jauh di lubuk hatinya, Gu-cheon mengalami trauma akibat peristiwa itu dan memendam kebencian mendalam terhadap air; hal inilah yang membuatnya mengasingkan diri dan bersikap ketus terhadap orang lain,” ungkap Nam.
Bagi sang aktor, rasa kesepian itulah ciri khas utama karakter tersebut, sesuatu yang harus ia tampilkan secara cermat di balik sikap Gu-cheon yang tampak urakan dan berjiwa bebas.
Pembasmi roh jahat yang kesepian
“Pada akhirnya, aku ingin memerankannya sebagai sosok yang telah belajar menerima kesepian akibat peristiwa masa kecilnya maupun kesendirian saat melintasi dua dunia, serta menjalani hidup dengan kekuatannya sendiri,” kata Nam.
Namun, Gu-cheon perlahan mulai berubah seiring tumbuhnya rasa saling percaya dan ikatan batin dengan Saenggang di dalam istana.
Demi Saenggang, ia rela melangkah masuk ke alam gwi yang sangat ia benci, kali ini atas kemauannya sendiri, bukan karena perintah orang lain.
“Ada sebuah adegan di mana Saenggang mempertaruhkan keselamatannya demi menyelamatkan Gu-cheon saat pria itu hampir berubah menjadi ak-gwi, atau roh jahat,” ujar Nam.
“Belum pernah ada orang yang melakukan hal seperti itu untuknya, dan momen itulah yang membuatnya merasa harus membalas kebaikan Saenggang.”
Namun, sang aktor tidak mendefinisikan hubungan mereka sebagai hubungan romantis.
“Aku lebih melihat mereka sebagai rekan seperjuangan yang saling mengandalkan,” ujarnya. “Meski begitu, kami membangun hubungan itu dengan niat memberikan ruang bagi penonton untuk menafsirkannya dengan cara yang berbeda-beda.”
Selama syuting serial ini, berat badan Nam perlahan turun untuk menggambarkan kondisi Gu-cheon saat energi yang-nya terkuras habis.
“Berat badanku sekitar 84 atau 85 kilogram saat syuting dimulai, dan saat syuting berakhir, beratku turun menjadi 78 kilogram,” kata Nam, seraya menambahkan bahwa penurunan berat badan itu terjadi relatif mudah karena proses syuting sangat menguras fisik.
“Namun, hal itu juga jelas disengaja. Perubahan penampilannya penting untuk menunjukkan bagaimana karakter tersebut bertransformasi seiring berjalannya cerita.”
Nam juga melakukan sendiri sebagian besar adegan aksinya. Saat syuting adegan pertarungan Gu-cheon melawan sesosok roh di Episode 3, ia sedang menderita pilek, dan dampak fisik tersebut terlihat jelas di layar, sesuatu yang justru disukai oleh sang aktor.
“Ayunan pedangnya yang tampak lemah justru memperlihatkan keputusasaan yang lebih mendalam; hal ini sangat pas dengan penggambaran Gu-cheon yang perlahan kehilangan kekuatannya akibat terkurasnya energi yang dalam dirinya.”
Ia juga menambahkan detail-detail halus pada gerakannya untuk menunjukkan bahwa Gu-cheon sedang melawan roh, bukan lawan manusia biasa.
“Rasanya bukan seperti Gu-cheon sedang berusaha membinasakan mereka dengan senjatanya, melainkan lebih seperti ia sedang mencoba membujuk roh-roh itu untuk melepaskan dendam mereka dan beralih ke tempat yang lebih baik,” ujar Nam.
“Jadi, aku hilangkan gerakan-gerakan tambahan yang tidak perlu dan membuat gaya bertarungnya lebih bersifat defensif daripada agresif.”
Sebagai serial yang memadukan drama sejarah, misteri, fantasi, dan aksi, The East Palace sangat bergantung pada penggunaan computer-generated imagery (CGI).
Hal ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi para aktor, yang harus berakting melawan sosok tak kasat mata seolah-olah mereka benar-benar ada.
“Untungnya, aku selalu senang menggunakan imajinasi, jadi tidak terlalu kesulitan untuk membiasakan diri dengan dunia gwi (roh),” kata Nam.

“Terlebih lagi, set dan elemen visual lainnya sudah dirancang dengan sangat apik bahkan sebelum CGI ditambahkan, sehingga aku bisa dengan mudah mendalami dunia yang ada di lokasi syuting.”
Hal lain yang juga menjadi bahan pembicaraan adalah ‘Kkeomeoksari’ sesosok gwimae (roh jahat) yang muncul dalam serial ini.
Penampilannya yang memikat dan tingkah lakunya yang menggemaskan bahkan membuatnya dijuluki ‘Groot dari era Joseon.’
“Aku sudah menduga makhluk kecil itu akan menjadi favorit banyak orang,” ujar Nam sambil berseloroh. “Ia langsung dicintai sejak kemunculan pertamanya, sampai-sampai aku merasa bangga karenanya.”
Sebenarnya ada model Kkeomeoksari di lokasi syuting, tetapi model itu harus disingkirkan saat pengambilan gambar yang sesungguhnya, lanjut Nam, seraya berbagi sedikit cerita di balik layar.
“Jadi, selama latihan, saya terus memandangnya dan berusaha mengingat detail penampilannya sebaik mungkin,” tandas Nam. (HG)