Hidupgaya.co – Media sosial memudahkan kita terhubung, tapi belum tentu membuat seseorang merasa benar-benar dekat dengan orang lain. Pemakaian media sosial secara masif, konstan dalam jangka panjang dapat memicu kecemasan, terutama jika suka menggulir berita negatif (doomscrolling).

Agar tetap waras, banyak anak muda memilih jeda, beristirahat sejenak dari dunia digital. Tren ini mengemuka seiring meningkatnya kesadaran terkait dampak penggunaan media sosial secara berlebih. Berbadai studi menunjukkan paparan konten digital yang terus-menerus dapat memicu stres, kecemasan, hingga kelelahan emosional, alias burnout.

Sasya Sava, perempuan yang banyak membagikan insight terkait kesehatan mental di akun media sosial menyampaikan media sosial memang menawarkan banyak manfaat, mulai dari memperluas relasi hingga membuka berbagai peluang baru.

“Tapi interaksi di dunia maya tidak dapat sepenuhnya menggantikan hubungan sosial secara langsung,” ujarnya di acara Lightperience Picnic 2026 di Urban Forest Jakarta, Jumat (17/07).

Dia menyoroti kecenderungan anak muda, khususnya Gen Z, yang sangat aktif menggunakan media sosial, tetapi banyak juga yang merasa stres dan cemas karena media sosial. “Penyebabnya macam-macam, mulai dari social comparison (membandingkan diri dengan orang lain), FOMO (fear of missing out), rasa kesepian meski selalu online, sampai digital fatigue,” bebernya.

Karena alasan itulah, kini banyak Gen Z melakukan detoks media sosial agar lebih sehat secara mental. Alih-alih terpaku di depan layar, Gen Z pilih mencari ruang untuk membangun hubungan sosial yang lebih bermakna di luar dunia digital.

Ilustrasi jeda sejenak dari media sosial

Alasannya, interaksi virtual belum tentu mampu menghilangkan rasa kesepian maupun memberikan rasa memiliki terhadap sebuah komunitas. Menurut Sasya, koneksi nyata memberikan rasa memiliki terhadap sebuah komunitas. “Hal itu yang sekarang banyak dicari Gen Z karena mereka ingin merasa tidak sendirian,” cetusnya.

Kesempatan sama, dr. Iksanuddin Qothi mengungkap dampak stres berkepanjangan tidak hanya dirasakan pada kondisi psikologis, tetapi juga kesehatan kulit. Ketika mengalami tekanan emosional, kadar hormon kortisol akan meningkat sehingga dapat mengganggu fungsi skin barrier (sawar kulit).

“Kondisi tersebut berpotensi memicu berbagai masalah kulit, mulai dari jerawat hingga kulit menjadi lebih sensitif. Karena itu, menjaga kesehatan mental juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kulit,” bebernya.

Dia menyarankan langkah pertama saat mengalami masalah kulit bukanlah langsung mencoba berbagai produk perawatan, melainkan mengenali penyebabnya terlebih dahulu. “Ketika mengalami suatu masalah kulit, kita harus tahu dulu penyebabnya. Setelah itu baru dilakukan penanganan sesuai kondisi kulit masing-masing,” ujarnya.

Praktisi kesehatan itu menyarankan mulai merawat kulit dari hal mendasar, yakni  membersihkan wajah, menjaga kelembapan, dan memberikan perlindungan pada kulit.

Solusi kebutuhan kulit Gen Z dengan aktivitas padat dari Lightplus by Wardah (dok. Hidupgaya.co)

Kebutuhan ruang interaksi Gen Z

Fenomena meningkatnya kebutuhan ruang interaksi langsung juga sejalan dengan perubahan perilaku Gen Z. Survei Jakpat 2025 menunjukkan banyak anak muda mulai tertarik mengikuti aktivitas social development, termasuk bergabung dalam komunitas yang memiliki minat serupa.

Peluang ini ditangkap oleh Lightplus by Wardah, dengan menghadirkan pengalaman yang menggabungkan wellness, beauty, dan komunitas dalam satu rangkaian acara yang terangkum dalam Lightplus Lightperience Picnic 2026 di Urban Forest Cipete, Jakarta, 17-19 Juli 2026.

“Acara ini dirancang sebagai fourth space, ruang yang mempertemukan Gen Z untuk beristirahat sejenak dari layar gawai, membangun koneksi, sekaligus mengeksplorasi diri melalui pengalaman lebih personal,” ujar Brand Manager Lightplus by Wardah, Nastiti Prawitasari.

Beragam aktivitas seperti journaling, crafting, beauty class, dan pertunjukan musik dikemas dalam suasana piknik yang mendorong interaksi antarpeserta.

Selain hadirkan pengalaman komunitas, Lightplus by Wardah juga memperkenalkan sejumlah inovasi produk yang ditujukan bagi kebutuhan kulit dan gaya hidup aktif Gen Z.

Salah satunya adalah Sensitive Relief Low pH Facial Wash, pembersih wajah dengan konsep Barrier-First Relief System yang dirancang membantu membersihkan kulit secara lembut sekaligus menjaga kelembapan, termasuk bagi kulit sensitif maupun kulit yang sedang mengalami peningkatan sensitivitas.

Diskusi kebutuhan ruang interaksi nyata Gen Z untuk jeda sejedak dari dunia maya di Lightperience Picnic 2026 (dok. Hidupgaya.co)

Produk tersebut diperkaya lima bahan penenang kulit, yakni probiotik, vitamin B5, nano ceramide, Centella asiatica, dan beta-glucan, serta menggunakan teknologi pembersih berbasis formula low pH dan amino surfactant.

Lightplus juga memperkenalkan kombinasi Hydrashot Intensive Moisturizer dan Lite Skin Filter Cushion melalui konsep Longlast Glowing Combo, yang diklaim mampu menjaga kelembapan kulit sekaligus memberikan tampilan kulit cerah berkilau yang tahan lama selama beraktivitas.

Nastiti menambahkan, industri kecantikan kini tidak hanya ditentukan oleh inovasi produk, tetapi juga pengalaman yang mampu membantu konsumen memahami kebutuhan dirinya.

“Ke depan kami ingin menghadirkan lebih banyak fourth space yang menjangkau generasi muda di berbagai kota, kampus, dan komunitas di Indonesia, sehingga mereka dapat mengenali kondisi kulit sekaligus menikmati pengalaman yang mendukung kesehatan kulit dan pikiran,” tandasnya. (HG)