Hidupgaya.co – Meskipun dari sisi rating nggak dar der dor seperti Perfect Crown, drama We Are All Trying Here menciptakan sensasi tersendiri, menggambarkan kecemasan dan rasa kurang aman, selain humanisme hangat yang merangkulnya.
Para penggemar yang menyukai drama Korea dengan jalan cerita lambat alias slow burn berani mengklaim ‘tidak ada satu pun dialog yang sia-sia’ namun direncanakan dengan matang dalam setiap episodenya.
Drakor 8 episode ini mengikuti Dong-man (Koo Kyo-hwan), seorang pria yang telah menulis empat belas skenario tetapi belum pernah memfilmkan satu pun, dan Eun-a (Go Youn-jung), seorang produser film yang dihantui oleh trauma diabaikan oleh ibunya (yang belakangan diketahui merupakan aktris film ngetop) selama masa kecilnya.
Dong-man adalah satu-satunya anggota The Eight Club yang terlihat menyedihkan, dan terlihat seperti pecundang, karena belum berhasil debut selama dua puluh tahun. Dalam hal karir, Dong-man sangat ketinggalan dibanding rekan sabtu klubnya yang lebih dulu debut.
Klub beranggotakan 8 orang itu merupakan sebuah kelompok yang memiliki mimpi untuk menjadi sutradara selama masa kuliah. Karena Dong-man satu-satunya anggota yang belum debut, dia terasa seperti kerikil di sepatu. Karakternya agak menyedihkan, terus-menerus berbicara di antara teman-temannya, memberikan kritik pedas terhadap karya film anggota The Eight Club.
Namun, ocehannya yang tanpa henti sebenarnya adalah cara untuk menegaskan keberadaannya dan menghadapi teror yang dirasakannya dari mereka yang memandangnya sebagai kegagalan.

Bahkan ketika harga dirinya mencapai titik terendah dan orang lain mencoba dengan kejam mengungkap ketidakberhargaannya, dia membacakan sebuah bagian dari naskahnya sendiri: “Selama ada awan di langit, angin di udara, dan dedaunan bergoyang di pepohonan — selama cuaca masih ada, maka dunia pun masih ada.”
Di sisi lain, Eun-a, seorang produser perencanaan di sebuah perusahaan film, adalah seseorang yang memendam rasa sakit sendiri. Meskipun memiliki sudut pandang tajam dalam menilai naskah film – sehingga sutradara terkenal menyerahkan naskah langsung kepadanya tanpa melalui CEO – Eun-a merasakan ketakutan mendalam akan ditinggalkan setelah ditcampakkan oleh ibunya saat masih kecil demi mengejar karir di film.
Setiap kali ia menghadapi kecemasan atau ketakutan yang ekstrem, ia mengalami mimisan.
Mungkin alasan Eun-a bisa memahami Dong-man adalah karena ia mengetahui ‘teror ketidakberhargaan’ melalui pengalamannya sendiri sebagai orang yang dibuang.
Eun-a menemukan kenyamanan saat bersama Dong-man, yang juga memiliki masalahnya sendiri (sang kakak mencoba bunuh diri). Ini karena, meskipun diberitahu bahwa ia tidak berharga dan berjuang melewati rasa sakit, Dong-man tidak pernah benar-benar runtuh atau menjadi terintimidasi.
Ketika CEO Choi Film memperlakukan naskah Dong-man seperti sampah dan menyuruhnya meninggalkan industri dan hidup ‘produktif’, alih-alih hancur, Dong-man justru balik melawan dengan melontarkan kalimat pedas: “Mengapa aku harus hidup seperti yang kau inginkan?”
Eun-a, yang dulunya menanggung rasa sakit dalam diam, mulai berubah setelah bertemu Dong-man. Melihat bahwa ia tidak hancur, bahkan ketika disingkirkan, untuk pertama kalinya, ia membentak CEO yang memperlakukannya dengan sembarangan, dengan mengatakan, “Aku tidak mudah atau lemah; aku hanya pendiam.”
Bagi Dong-man, Eun-a adalah satu-satunya orang yang mampu menghentikan bicaranya yang panik. Di hadapan Eun-a, ia tidak perlu lagi berpura-pura hidup; ia akhirnya, benar-benar dilihat.
Solidaritas antara Dong-man dan Eun-a, yang keduanya menyimpan luka dan kegelapan yang dalam, sangat menyentuh hati banyak orang yang merasa ‘tidak berharga’ karena mereka gagal mencapai ‘kesuksesan’ yang didefinisikan oleh masyarakat yang menghargai prestasi dan bukti.
Eun-a menyadari nilai dalam diri Dong-man yang diabaikan orang lain, mengisi kerinduan emosionalnya dengan dukungannya.
Dong-man, pada gilirannya, menenangkan Eun-a, yang menderita ketakutan akan ditinggalkan, menyadari bahwa emosi yang tak teridentifikasi yang telah ia lawan sendirian sebenarnya adalah bentuk ‘permohonan bantuan’ diam-diam.
Di perlintasan kereta api dengan palang pintu yang diturunkan, Dong-man bertanya, “Bagaimana seseorang memperoleh kekuasaan?”
Eun-a menjawab bahwa kekuasaan datang jika memiliki seseorang untuk dicintai. Dalam kalimatnya ia menunjukkan bahwa kekuasaan sejati tidak ditemukan dalam produktivitas atau status sosial. Hal itu ditemukan dalam keberanian untuk mencintai seseorang apa adanya, sepenuhnya terlepas dari ‘nilai’ mereka di mata dunia.
Ini adalah pengingat yang hangat dan menyentuh bahwa selama kita berusaha, itu sudah cukup.
Drakor ini didukung sejumlah aktor kawakan Korea peraih penghargaan, di antaranya Oh Jung-se, Park Hae-joon, Bae Jong-ok, dan Jeon Bae-soo. (HG)