Hidupgaya.co – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita membuka pameran Indo Intertex dan Inatex 2026 di JIEXPO Kemayoran yang berlangsung 15-18 April, diikuti oleh 428 perusahaan industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

Dalam sambutannya, Menperin menyebut industri TPT nasional punya prospek cerah (sunrise) di tengah dinamika global yang kian kompleks. Optimisme tersebut didukung oleh kinerja industri yang tetap tumbuh serta berbagai upaya penguatan daya saing yang terus dilakukan pemerintah.

“Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat, tercermin dari pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen pada 2025. Sektor industri pengolahan bahkan mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,30 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional,” tutur Menperin Agus dalam sambutan pembukaan Indo Intertex dan Inatex 2026 di JIEXPO, Rabu (15/4).

Dia menambahlan, data yang ada menunjukkan narasi yang mengatakan bahwa sektor TPT merupakan sektor sunset tidakah relevan. “Menurut data yang kami terima, kita sudah bisa mulai memutarbalikkan narasi yang menyatakan bahwa sektor TPT di Indonesia ini merupakan sektor yang sunset, bahkan kita secara optimis harus berani mengatakan it’s a sunrise,” cetusnya.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita membuka pameran Indo Intertex dan Inatex 2026 di JIEXPO Kemayoran, Rabu (15/4)

Tak dimungkiri, sektor TPT masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kenaikan harga bahan baku global, disrupsi rantai pasok, hingga dinamika permintaan pasar internasional. “Dibutuhkan sinergi kuat antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha dalam merumuskan langkah antisipatif,” ujar Menperin.

Industri TPT, sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan 3,55 persen (year-on-year), nilai ekspor tercatat mencapai US$12,08 miliar, serta surplus US$3,45 miliar didorong terutama oleh ekspor pakaian jadi.

Agus menambahkan, sektor TPT juga menunjukkan daya tarik dengan realisasi investasi mencapai Rp20,23 triliun dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 3,96 juta orang, itu mencakup 19,48 persen dari total tenaga kerja industri pengolahan.

Menperin menyoroti pameran Indo Intertex dan Inatex 2026 memiliki peran penting, terutama sebagai platform business matching, yang mempertemukan pelaku industri nasional dan internasional, sekaligus membuka peluang kemitraan dan investasi baru. Menurutnya, pameran ini digadang menjadi platform optimism, untuk pasar lokal dan global.

Lebih lanjut Menperin Agus menekankan komitmen pemerintah dalam penguatan industri TPT melalui kebijakan strategis, di antaranya perluasan akses pasar domestik dan ekspor, serta pemberian fasilitas fiskal dan nonfiskal guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi industri dari hulu hingga hilir.

“Ke depan, penguatan industri akan difokuskan pada akselerasi adopsi teknologi industri 4.0, penerapan prinsip keberlanjutan, serta pengembangan produk bernilai tambah tinggi yang mampu memenuhi standar global,” tandasnya.

Kesempatan sama, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmadja menyoroti bahwa 2026 diawali dengan kondisi global yang masih dinamis, ditandai oleh ketegangan geopolitik, disrupsi perdagangan, serta pergeseran rantai pasok.

Dia menyampaikan, industri tekstil telah menjadi salah satu pilar penting manufaktur nasional dan menyerap jutaan tenaga kerja, serta memiliki rantai nilai yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. “Industri ini bukan sekadar sektor manufaktur, tetapi sektor strategis yang menopang industrialisasi nasional dan stabilitas ekonomi Indonesia,” bebernya.

Menperin Agus Gumiwang dalam kunjungan di salah satu booth peserta pameran Indo Intertex dan Inatex 2026

Dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi saat ini, industri TPT dituntut untuk semakin efisien, adaptif, dan visioner. “Di tengah tekanan global, industri tekstil tetap menunjukkan ketahanan dengan terus melakukan transformasi,” imbuh Jemmy.

Indo Intertex dan Inatex 2026, sebut Jemmy, bukan sekadar pameran, tetapi menjadi platform kolaborasi, inovasi, sekaligus optimisme bagi industri tekstil ke depan. “Di sinilah gagasan bertemu dengan peluang, teknologi bertemu dengan kebutuhan industri dan kemitraan dibangun untuk masa depan,” cetusnya.

Tahun ini, Indo Intertex dan Inatex memasuki penyelenggaraan ke-22. Mengusung tema When Textile Meets Innovation, pameran ini diikuti lebih dari 800 eksibitor dari 29 negara serta menampilkan lebih dari 1.500 merek global. (HG)