Hidupgaya.co – Ke mana menghabiskan akhir pekan ini? Jika merencanakan untuk belanja produk kriya atau wastra nusantara, atau sekadar ngopi dan mencicipi kuliner khas daerah, coba deh kunjungi Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC), yang berlangsung 7-10 Agustus 2025.

Pameran ini diikuti 362 UMKM binaan Bank Indonesia yang telah dikurasi bersama delapan kementerian/lembaga hadir secara luring di JICC. Sementara itu, lebih dari 1.100 UMKM berpartisipasi secara daring melalui platform digital http://www.karyakreatifindonesia.co.id.

Produk yang ditampilkan di ajang KKI di JICC mencakup wastra, kriya, kopi, makanan olahan, serta produk berbasis keberlanjutan.

Pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2025 di Jakarta International Convention Center (dok. Hidupgaya.co)

Dibuka oleh Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Kamis (7/8/2025), KKI menjadi langkah konkret untuk mendorong UMKM naik kelas melalui inovasi, digitalisasi, dan sinergi lintas sektor. Tahun ini, wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi tema utama KKI 2025, dengan mengusung filosofi lokal #KalalaMareda yang berarti ‘kreasi dalam kebersamaan’.

Mengusung tema ‘Inovasi dan Sinergi: Kunci Penguatan Peran UMKM sebagai Motor Penggerak Ekonomi Berkelanjutan’, KKI tak hanya hadirkan pameran UMKM binaan, namun juga business matching ekspor dan pembiayaan, seminar, talkshow, hingga transformasi digital dan transisi hijau secara terintegrasi.

Tenun yang menghidupi

Redaksi Hidupgaya meluangkan waktu menyambangi pameran ini dan takjub dengan ambiance pameran yang kaya nuansa khas Indonesia. Di KKI, dengan mudah kita dapat menemukan wastra nusantara, mulai batik, tenun, lurik, songket dan aneka kerajinan hingga perhiasan dari berbagai wilayah Indonesia.

Kornelis Ndapakamang bersama Adriana, salah satu perajin tenun Sumba NTT di pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2025 di Jakarta International Convention Center (dok. Hidupgaya.co)

Salah satunya adalah booth binaan Bank Indonesia yang menawarkan tenun khas Nusa Tenggara Timur milik Kornelis Ndapakamang. Pria ini sudah menekuni tenun sejak SD, belajar langsung dari orang tua yang juga penenun asal Sumba.

Dia memulai bisnis tenun sejak 1994 dan sudah merambah berbagai negara bersama tenun NTT yang dia kerjakan bersama empat perajin tenun yang bekerja padanya.

“Sejak kecil sudah liat orang tua menenun, jadinya ikut belajar juga,” ujar Kornelis yang belajar menenun langsung dari sang ibu.

Menenun membutuhkan tahapan panjang dan rumit. “Setiap orang punya keahlian masing-masing. Menenun biasa dilakukan perempuan, karena butuh kelembutan. Kalau laki-laki bisa menarik terlalu kuat, bisa putus benangnya,” kata ayah tiga anak yang telah mempersiapkan anak-anak untuk melanjutkan usaha tenun yang dirintis pendahulunya.

Dalam dunia tenun, laki-laki umumnya membuat motif dan mengikat benang. “Mengikat benang butuh tenaga. Kalau ikatan tidak kuat warna bisa rembes,” tutur Kornelis yang sudah mengunjungi berbagai negara berkat usaha tenun, antara lain Filipina, Malaysia, Thailand, Qatar hingga Inggris.

Dalam sebulan, dibantu oleh empat penenun, usaha tenun Kornelis mampu menghasilkan 100 lembar kain tenun ukuran sedang (sekira 135 cm x 25 cm) hingga ukuran besar. Tenun menjadi sumber penghasilan utama keluarga dan perajin yang bekerja padanya. “Kita bisa hidup dari tenun,” tuturnya.

Kornelis mengungkap, proses menghasilkan kain tenun butuh 50 tahapan, mulai memintal benang hingga menjadi kain tenun yang siap jual.

Motif yang digunakan penenun Sumba umumnya flora fauna dan geometri. “Kain tenun Sumba itu punya filosofi pesan. Dulu orang Sumba tidak mengenal tulisan, mereka berkomunikasi melalui motif,” tutur Kornelis.

Dalam proses menenun, Kornelis menggunakan pewarna alam berasal dari tumbuhan. “Saya menanam sendiri pohon untuk pewarna alami itu di kebun,” ujarnya.

UMKM wastra binaan Bank Indonesia di pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2025 di Jakarta International Convention Center (dok. Hidupgaya.co)

Warna biru diperoleh dari pewarna daun indigo; merah menggunakan pohon mengkudu. “Coklat dari pohon mahoni atau mangrove. Kalau warna kuning dari pohon tegeran,” beber Kornelis seraya menambahkan kunyit tidak dipakai mewarnai benang karena mudah luntur. “Warna kunyit tidak tahan lama, mudah luntur.”

Kulit pohon tegeran, Cudrania javanensis, menghasilkan warna kuning hingga cokelat tua, yang sering digunakan sebagai pewarna alami untuk batik, dikenal dengan nama sogan tegeran.

Harga tenun produksi Kornelis dmulai dari Rp600 ribu hingga termahal Rp65 juta. “Yang mahal itu kain-kain tua yang telah lama disimpan dan memiliki nilai tinggi,” tandasnya.

Kelezatan kuliner nusantara

Puas melihat-lihat wastra dan kerajinan dari berbagai wilayah nusantara, saatnya mampir ke gerai yang menyajikan kuliner daerah yang menyajikan hidangan autentik dalam satu lokasi. Tak kurang dari 24 usaha kuliner makanan dan minuman hadir berjualan di KKI tahun ini.

Soto Udang Medan Akwang di pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2025 di Jakarta International Convention Center (dok. Hidupgaya.co)

Soto Udang Medan Akwang misalnya, menawarkan seporsi soto udang terdiri dari tiga ekor udang galah ditambah perkedel disiram kuah yang menyegarkan bisa bikin perut senang dan puas. Seporsi soto udang tanpa nasi dihargai Rp80 ribuan, pakai nasi menjadi Rp90 ribuan per mangkuk.

Soto Udang Medan Akwang berdiri sejak 1992, dan telah buka di Jakarta. Amel, pemilik usaha kuliner khas Medan ini meneruskan bisnis dari orang tuanya. “Saya generasi kedua dan diajak jualan di KKI sejak acara ini digelar di sini,” tuturnya.

Hari pertama KKI, banyak pembeli mencicipi hidangan udang ukuran besar yang mencuri perhatian karena ditata apik dan menarik. Pembayaran dilakukan melalui QRIS, jadi tak perlu risau jika tak membawa uang tunai.

Gudeg Yu Djum Pusat di pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2025 di Jakarta International Convention Center (dok. Hidupgaya.co)

Kuliner lain yang juga dipadati pengunjung adalah Gudeg Yu Djum Pusat. Makanan khas Kota Yogyakarta ini menawarkan nasi gudeg krecek dengan harga mulai Rp15 ribu per porsi (nasi + gudek + krecek + tempe atau tahu).

Kalau mau pakai ayam kampung juga tersedia. “Harga tergantung bagian ayamnya. Paling mahal Rp75 ribu gudeg komplit pakai ayam kampung. Mau pakai brutu juga ada,” Yolanda menjelaskan sembari melayani pembeli.

Ini kali pertama Gudeg Yu Djum Pusat ikut KKI dan tanggapan pengunjung sangat baik. “Ini sudah terjual 200 paket gudeg. Yang paling laris itu paket gudeg telur dan dada ayam,” tutur Yolanda.

Ngopi di Cangkir Nusantara

Usai mengunjungi gerai kuliner, tiba saatnya menyambangi aneka kopi di pojok Cangkir Nusantara. Aneka kopi artisan dan racikan tersedia dari berbagai wilayah Indonesia. Pengunjung bisa icip-icip, membaui aroma kopi yang khas, dan tentu saja membelinya sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang.

Yang unik, di dekat Cangkir Nusantara ada instalasi yang menyerupai greenhouse. Di sini pengunjung dapat menyaksikan usaha perkopian dari hulu, mulai dari benih, pembibitan, proses panen hingga roasting menjadi kopi siap konsumsi.

“Kalau dari hilir masyarakat sudah familiar dengan coffee shop. Kalau dari hulu, ini kita kenalkan pemodelan hutan dan penanaman kopi,” ujar Ghian, selaku vendor Koperasi Klasik Bean sebagai penyedia perlengkapan kopi dari Bandung.

Salah satu booth Cangkir Nusantara di pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2025 di Jakarta International Convention Center (dok. Hidupgaya.co)

Di mini greenhouse itu juga tersedia huller, mesin pengupas kopi tradisional yang terinspirasi dari mesin penggilingan gabah.

Menurutnya, pengunjung tertarik mengetahui bagaimana kopi ditanam dan dipanen. “Mereka penasaran dengan pohon kopi. Bagaimana kopi dipanen dan diolah sebelum jadi kopi siap minum,” ujar Ghian seraya menunjukkan deretan biji kopi usai panen hingga biji kopi siap panggang.

Nah, bagaimana sudah ada bayangan untuk menyambangi pameran KKI di JICC? In this economy, memperkuat peran UMKM sebagai motor penggerak ekonomi nasional perlu dilakukan. Caranya mudah kok: Berbelanja.

Tiket masuknya gratis, cukup scan barcode dan isi data diri. (HG)