Hidupgaya.co – Susu merupakan produk pangan yang memiliki beragam manfaat kesehatan. Di balik segelas susu tersimpan manfaat besar bagi kesehatan, kecerdasan, dan daya tahan tubuh, terutama bagi anak-anak, ibu hamil, dan lansia.

“Tidak ada keraguan susu merupakan sumber gizi yang baik khusus bagi anak anak di masa pertumbuhan, ibu hamil, dewasa dan lansia,” kata Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen PKH Kementerian Pertanian, Dr. Drh. Nuryani Zainuddin, M. Si., di acara diskusi Rayakan Kebaikan Susu, Raih Kekuatan untuk Menang yang dihelat Frisian Flag Indonesia dan IPB University menandai Hari Susu Sedunia dan Hari Susu Nusantara di Kampus IPB Dramaga Bogor, baru-baru ini.

Sayangnya, konsumsi susu masyarakat Indonesia masih sangat rendah di kawasan Asia Tenggara.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat konsumi susu Indonesia hanya 16,1 liter per kapita per tahun. Bahkan data Organisasi Pangan Dunia (FAO) pada 2023, konsumsi susu masyarakat Indonesia termasuk terendah di kawasan Asia Tenggara di bawah Brunei, Myanmar, Thailand dan Malaysia.

Karenanya, menurut Nuryani, Hari Susu Nusantara adalah momentum penting untuk mengingatkan bahwa susu bukan sekadar minuman biasa. “Kami juga mendorong peningkatan produksi susu dalam negeri agar kebutuhan gizi masyarakat dapat terpenuhi secara mandiri,” terangnya.

Ilustrasi susu sapi segar (dok. ist)

Dia menambahkan, pemerintah menargetkan swasembada susu nasional pada 2029 melalui penambahan satu juta ekor sapi perah, modernisasi peternakan, dan kemitraan antara industri dan peternak. “Ini adalah bagian dari Proyek Strategis Nasional dalam RPJMN, yang akan membuka peluang besar bagi generasi muda untuk terlibat aktif membangun ketahanan pangan bangsa,” beber Nuryani.

Pemerintah, sebut Nuryani, memiliki komitmen kuat untuk memperkuat ketahanan pangan dan gizi masyarakat, salah satunya adalah dengan meningkatkan produksi susu segar dalam negeri dan konsumsi masyarakat.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyampaikan menu susu wajib disertakan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah yang ada peternakan sapi perah. 

Nuryani menyampaikan, adanya penambahan susu di menu MBG bisa menjadi pendorong  anak-anak muda untuk jadi peternak guna memenuhi kebutuhan susu untuk pasar dalam negeri. “Prospek peternak sapi perah ini cerah,  karena produknya akan diserap pasar,” tuturnya.

Untuk diketahui, saat ini produksi susu dalam negeri baru 20 persen, sedangkan 80 persen bahan baku masih impor.

Untuk meningkatkan produksi susu dalam negeri, Nuryani mendorong akademisi melakukan kerja sama di dalam dan luar negeri dalam melakukan pelatihan bagi peternak sapi perah. “Kalau peternakan sapi lokal dikombinasikan dengan teknologi,  maka keuntungan akan makin besar,” tandasnya.

Peningkatan produktivitas susu dari peternak lokal

Guna meningkatkan produktivitas susu segar dari peternak lokal, Frisian Flag Indonesia (FFI) terlibat langsung, dengan mengadopsi semangat dari induk perusahaan FrieslandCampina untuk tumbuh bersama peternak.

“Membantu para peternak sapi perah lokal untuk memproduksi susu segar lebih banyak dalam kualitas yang sangat baik menjadi fokus kami,” terang Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro.

FFI telah menjalankan program Dairy Development (DD) lebih dari 30 tahun lalu dengan misi meningkatkan produksi susu sapi segar berkualitas melalui kemitraannya dengan koperasi.

Program Dairy Development itu mendorong tata kelola dan standar manajemen peternakan, dan meningkatkan kesejahteraan peternak lokal Indonesia, dengan mempromosikan praktik good dairy farming practices (GDFP).

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen PKH Kementerian Pertanian, Dr. Drh. Nuryani Zainuddin, M. Si., memberikan sambutan di acara diskusi Rayakan Kebaikan Susu, Raih Kekuatan untuk Menang yang dihelat Frisian Flag Indonesia dan IPB University menandai Hari Susu Sedunia dan Hari Susu Nusantara di Kampus IPB Dramaga Bogor (dok. Hidupgaya.co)

Andrew menyampaikan, melalui program tersebut FFI telah mendampingi dan memperkuat kapasitas puluhan ribu peternak sapi perah lokal. “Khusus untuk pemberdayaan peternak muda, program Dairy Development menggelar Young Progressive Farmer Academy (YPFA) untuk tata kelola peternakan yang modern dan berkelanjutan,” bebernya.

Dukungan industri dan partisipasi akademisi

Kesempatan sama, Dekan Fakultas Peternakan IPB, Prof. Dr. Idat Galih Permana, M.Sc. Agr., IPU, Dekan Fakultas Peternakan IPB menyampaikan, dukungan industri kepada para peternak yang tidak hanya memperkuat kapasitas peternak lokal, tetapi juga menggerakan perekonomian yang berimbas pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat di sekitar peternak.

Lebih lanjut Prof Idat mengatakan, kemajuan sektor peternakan sapi perah juga tidak luput dari peran dan pendampingan akademisi. Menurutnya, transfer pengetahuan dan teknologi yang disampaikan FFI melalui program Dairy Development membantu dunia pendidikan dalam menyampaikan sejumlah tips praktis kepada peternak muda.

“Pendampingan korporasi juga menyuntikkan semangat berinovasi berbasis kewirausahaan yang merupakan modal penting memajukan industri susu segar kita,” kata Prof Idat.

Dia berharap generasi muda khususnya mahasiswa yang ada di bidang peternakan juga dapat mengambil andil kelak dalam mendukung meningkatkan daya saing sektor peternakan sapi perah Indonesia di masa depan.

Sementara itu, selain merayakan kebaikan susu, FFI juga mengajak generasi muda agar bersemangat menjadi bagian dari solusi kemandirian Indonesia memasok susu segar di masa depan.

“Kami percaya bahwa anak muda punya peran yang besar dalam mendorong transformasi peternakan sapi perah moderen dan berkelanjutan,” Andrew menekankan.

Perusahaan susu berbasis di Belanda itu memiliki sejarah panjang dalam bekerja sama dengan peternak hingga berinovasi menghasilkan produk- produk susu berkualitas mulai dari hulu ke hilir. “Kami menyebutnya dengan istilah Grass to Glass,” imbuh Andrew.

Sebagai perusahaan yang memproduksi produk susu bergizi, FFI berkomitmen untuk mewujudkan visi Nourishing Indonesia to Progress termasuk membagikan ilmu, pengetahuan, dan pengalaman dari peternak Belanda kepada peternak lokal.

“Anak muda adalah motor penggerak kemajuan di berbagai sektor, termasuk peternakan sapi perah lokal, dan membuat industri susu segar lebih bergairah,” tandasnya.

Milk toast merayakan Hari Susu Sedunia dan Hari Susu Nusantara di Kampus IPB Dramaga Bogor (dok. Hidupgaya.co)

Upaya FFI mewujudkan peternakan yang lebih modern dan berkelanjutan mendapat tanggapan positif dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, dalam hal ini disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian, Widiastuti, yang mendorong mahasiswa, terutama dari jurusan peternakan, untuk bersama-sama mewujudkan swasembada daging sapi dan susu nasional.

Menurutnya, ini bukan sekadar soal produksi, tetapi tentang masa depan bangsa, bagaimana setiap anak Indonesia bisa tumbuh sehat, cerdas, dan bebas stunting karena asupan nutrisinya, terutama dari susu, terpenuhi sejak dini.

“Sudah saatnya kita ubah paradigma bahwa susu bukan barang mewah, melainkan menu wajib di setiap rumah,” ujarnya.

Lebih lanjut Widiastuti menyampaikan, dengan memperkuat peternak lokal, mendorong inovasi produk susu seperti yogurt dan keju, serta menggandeng industri dan investor, kita bisa menjadikan susu sebagai fondasi ketahanan pangan.

“Anak-anak muda juga harus berani menjadikan dunia peternakan sebagai ladang usaha yang menjanjikan, dengan pendekatan teknologi dan profesionalisme tinggi. Ini semua adalah bagian dari ekosistem besar untuk mewujudkan kemandirian pangan kita,”  pungkasnya. (HG)