Hidupgaya.co – Mungkin tak pernah terlintas di benak Tatok Harianto (38), bahwa sapi perah akan menjadi penopang utama pendapatannya lebih dari cukup. Peternak binaan Frisian Flag Indonesia asal Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menjadi peternak sapi perah karena meneruskan ‘warisan’ orang tua yang dulunya peternak sapi tradisional.

Di usia belum genap 40, Tatok telah mengumpulkan pendapatan bersih hingga Rp30 jutaan per bulan berkat ternak sapi perah yang dikelolanya dengan menerapkan inovasi yang diperolehnya dari belajar langsung di Belanda, saat dia mengikuti Youth Partnership for Agriculture (YPFA) yang digagas PT. Frisian Flag Indonesia (FFI).

Tatok mengakui, dari hasil pelatihan itu, dia bisa mengoptimalkan produksi dan kualitas susu dari 14 sapi perah yang dikelolanya. “Dari 14 ekor sapi perah, penghasilan kotor satu bulan bisa mencapai Rp60 juta, pendapatan bersih antara Rp25 hingga Rp30 juta,” terang Tatok di acara diskusi Rayakan Kebaikan Susu, Raih Kekuatan untuk Menang yang dihelat Frisian Flag Indonesia dan IPB University menandai Hari Susu Sedunia dan Hari Susu Nusantara di Kampus IPB Dramaga Bogor, baru-baru ini.

Pendapatan bulanan Tatok dari beternak sapi itu nyaris 9 kali lipat dari UMR Kota Malang dan Kabupaten Malang di tahun 2025 masing-masing Rp3.507.693 dan Rp3.553.530. Bayangkan!

Ilustrasi peternak memerah susu sapi dengan mesin (dok. ist)

Tatok membuktikan, dengan manajemen tepat, peternakan lokal mampu menghasilkan susu berkualitas tinggi. Tatok yang tergabung dalam Koperasi SAE Pujon, mengakui dengan menerapkan manajemen modern, menjadi peternak sapi menjadi profesi yang menjanjikan.

“Kalau dulu, beternak sapi itu istilahnya soro (sengsara). Saya ingat dulu bangun tidur harus cari rumput, lanjut merah (susu), sorenya merah susu lagi manual. Malamnya sudah capai,” beber Tatok mengenang saat membantu orang tua ternak sapi dengan cara tradisional.

Lulusan SMK Peternakan itu tergerak untuk belajar menerapkan inovasi dalam tata kelola peternakan sapi perah yang dia praktikkan lamgsung. Meskipun, untuk mengubah mindset orang tua awalnya agak sulit.

“Saat mengenalkan inovasi baru, sempat bertengkar dengan orang tua karena mereka telah terbiasa menggunakan cara lama selama bertahun-tahun. Tapi setelah berjalan dan ada hasilnya, mereka percaya,” tuturnya.

Salah satunya adalah mengganti rumput dengan silase. “Itu dulu sempat ramai dan tidak disetujui, karena sapi biasa diberikan rumput segar, bukan silase. Termasuk pemberian konsentrat pakan juga sempat tidak sepakat,” terang Tatok.

Silase merupakan proses pengawetan pakan hijauan ternak dengan cara fermentasi anaerob (tanpa oksigen) dalam kondisi tertutup rapat.  Silase umumnya dibuat dari rumput-rumputan, jagung, sorghum, atau bahan lain yang mengandung kadar air tinggi. 

Pengawetan pakan hijauan ini menjadi alternatif pakan ternak yang tahan lama dan memiliki nilai gizi tinggi, terutama saat musim kering atau saat pakan segar sulit didapatkan. 

“Dengan silase saya tak lagi mencari rumput pagi-pagi. Pagi merah susu pakai alat perah modern, bukan lagi tangan. Siangnya bisa istirahat, bahkan mancing. Sorenya merah susu lagi dan malamnya bisa ngopi-ngopi di kafe,” ujar Tatok sumringah.

Inovasi teknologi pakan dan pemakaian mesin perah diakui Tatok meningkatkan produksi dan kualitas susu yang dihasilkan sapi-sapinya.

“Asal mau belajar dan menerapkan teknologi baru, jadi peternak sapi itu gak sengsara. Jadi kalau ada generasi muda yang bilang beternak sapi itu susah, silakan datang ke tempat saya dan lihat sendiri hasilnya,” tutur Tatok.

Peternak Muda Jadi Angin Segar

Peternak muda semacam Tatok menjadi angin segar di tengah dominasi peternak sapi perah lokal yang rata-rata berusia di atas 50 tahun.

Menurut Prof. Epi Taufik S.Pt., MVPH., M. Si, Guru Besar Bidang Ilmu dan Teknologi Susu, IPB, sekira 85 persen peternakan sapi di tanah air adalah peternakan rakyat, pemilik berusia di atas 50 tahun dengan jumlah sapi ternak di bawah 5 ekor. “Peternakan rakyat adalah tulang punggung produksi susu dalam negeri dalam 40 tahun terakhir,” ujarnya.

Dia menambahkan, peternak kecil dengan 3 hingga 4 sapi harus mengeluarkan biaya tinggi. “Kalau sudah naik ke kelas menengah, katakanlah dengan ternak 30 ekor sapi  akan berpikir inovasi apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produksi,” kata Guru Besar Bidang Ilmu dan Teknologi Susu IPB.

Satu ekor sapi yang dikelola dengan baik menurutnya dapat memberikan keuntungan bersih per bulan di kisaran Rp1 juta. “Kalikan saja dengan jumlah total sapi,” imbuhnya.

Prof Epi mengajak peternak muda yang bersedia mengadopsi teknologi, memikirkan laba dan semua sapi diberikan silase yang dibuat sekaligus memggunakan mesin. “Bisnis harus terintegrasi. Memerah menggunakan mesin, tidak lagi pakai tangan. Ini mencegah mastitis pada sapi akibat memerah susu yang tidak tuntas,” tuturnya.

Memerah susu dengan mesin selain lebih efisien nuga menurunkan kontak tangan dengan susu. “Memerah dengan mesin meminimalkan kontak bakteri sehingga hitung total bakteri juga menurun, kualitas dan kuantitas susu meningkat,” terangnya.

Para peternak sapi juga perlu menyiapkan sumber air dan formulasi pakan untuk tingkatkan produksi sapi perah. “Untuk satu liter susu sapi butuh 4 liter air,” ujarnya.

Lebih lanjut Prof Epi menyampaikan, inovasi dari teknologi peternakan hingga proses produksi susu sangat penting karena dapat menghasilkan produk susu yang berkualitas tinggi, aman dikonsumsi, dan bernilai gizi optimal.

Kemajuan teknologi telah membuka potensi industri susu sebagai salah satu penopang ketahanan pangan nasional yang bernilai strategis. “Dengan teknologi, produksi susu jadi lebih efisien, kualitas lebih baik, dan masa simpan yang lebih panjang,” urainya. 

Hal itu diperkuat dengan inovasi pengolahan menjadi produk susu siap minum untuk didistribusi ke konsumen.

“Kita harus meningkatkan pengetahuan dan keahlian dalam produksi dan pengolahan susu, membangun ekosistem susu segar nasional yang terintegrasi antara peternak, koperasi susu, dan industri didampingi pemerintah. Jika ini terjadi, maka kita sedang membangun masa depan industri susu yang tangguh dan berkelanjutan,” pesan Prof Epi.

Dia berharap anak muda bukan sekadar lulus  kuliah dan mencari kerja, namun juga mendorong wirausaha di industri susu sebagai peluang usaha yang bagus.

Dorong Produktivitas Peternak Lokal

Kemajuan sektor peternakan sapi perah juga tidak luput dari peran dan pendampingan akademisi.

Disampaikan Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro, untuk mendorong produktivitas peternak lokal, Frisian Flag Indonesia telah menjalankan program Dairy Development (DD) lebih dari 30 tahun dengan misi meningkatkan produksi susu sapi segar berkualitas melalui kemitraannya dengan koperasi.

“Program Dairy Development mendorong tata kelola dan standar manajemen peternakan, dan meningkatkan kesejahteraan peternak lokal Indonesia, dengan mempromosikan praktik good dairy farming practices (GDFP),” ujar Andrew.

Ratusan mahasiswa antusias mengikuti diskusi From Grass to Glass memperingati Hari Susu Sedunia/Hari Susu Nusantara di Kampus IPB Dramaga Bogor (dok. ist)

Melalui program Dairy Development, FFI telah mendampingi dan memperkuat kapasitas puluhan ribu peternak sapi perah lokal.

Sementara itu, transfer pengetahuan dan teknologi yang disampaikan FFI melalui program Dairy Development membantu dunia pendidikan dalam menyampaikan tips-tips praktis kepada peternak muda.

Melalui Hari Susu Sedunia dan Hari Susu Nusantara yang diperingati setiap 1 Juni, FFI mengajak generasi muda untuk berpartisipasi aktif mendorong transformasi peternakan sapi perah moderen dan berkelanjutan.

“Selain merayakan kebaikan susu, FFI juga mengajak generasi muda agar bersemangat menjadi bagian dari solusi kemandirian Indonesia memasok susu segar di masa depan,” pungkas Andrew. (HG)