Hidupgaya.co – Mitos soal micin alias monosodium glutamat (MSG) masih marak dan beredar luas di masyarakat. Bahan penyedap ini banyak dipakai dalam beragam masakan karena dapat memberikan sensasi rasa lezat alias gurih. Karenanya, penggunaan MSG alias micin sesuai dengan takaran yang tepat merupakan tindakan penting yang harus diterapkan dalam industri makanan.

Ketua Bidang Komunikasi Perkumpulan Pabrik Mononatrium Glutamat dan Asam Glutamat Indonesia (P2MI) Satria Gentur Pinandita, mengakui masih ada berita berkonotasi negatif terkait MSG muncul di berbagai media massa dan sosial. “Berita-berita konotasi negatif mulai menurun meskipun masih ada, kami dapatkan di tahun 2021 hanya tinggal 6 persen. Inilah pentingnya mengedukasi media, karena dari media pulalah masyarakat teredukasi. Tugas P2MI adalah memberikan informasi yang benar, yakni bagaimana penggunaan MSG,” ujarnya dalam diskusi media Pentingnya Implementasi Food Safety Bagi UMKM di Jakarta, Senin (12/12/2022).

P2MI yang beranggotakan PT Ajinomoto Indonesia, PT Ajinex International, PT Sasa Inti, PT Daesang Ingredients Indonesia, berupaya untuk menepis hoax (kabar bohong) terkait pemakaian MSG di antaranya dengan melakukan edukasi melalui webinar, seminar dengan bekerja sama dengan media massa. “Edukasi juga kami lakukan di media sosial seperti IG, LinkedIn, FB, hingga TikTok. Kami hadirkan postingan-postingan yang bersifat edukasi bahkan P2MI mempunyai website yg memberikan informasi tentang hal baik MSG,” imbuh Satria.

Kesempatan sama, perwakilan dari Direktorat Gizi dan KIA Kementerian Kesehatan RI, Mursalim, mengatakan sejauh ini belum ada artikel yang menyatakan penyedap masakan menimbulkan berbagai masalah atau kasus. “Memang ada beberapa kasus namun ini biasanya terjadi pada orang yang rentan dan sensitif terhadap MSG,” ujarnya. 

Dia menambahkan, penggunaan bahan tambahan pangan – termasuk dalam hal ini mSG – telah mendapatkan izin edar dari BPOM dan terbukti halal. “Kami membenarkan bahwa selama ini penyedap MSG yang beredar di indonesia adalah,” beber Mursalim menjawab pertanyaan wartawan.

Mursalim menekankan, MSG tidak berbahaya jika dipergunakan dalam batas aturan yang telah ditentukan. “Penggunaan dalam takaran terbatas dan sesuai dengan aturan yang diatur oleh indonesia semua aman,” terangnya. “Sekali lagi saya tegaskan, selama pemerintah Indonesia menyatakan bahwa yang dikeluarkan telah mendapatkan izin edar maka tidak berbahaya dikonsumsi. Yang tidak sesuai itu adalah penggunaanya yang berlebihan atau tidak sesuai dengan aturan yang telah ditentukan.”

Bicara tentang penyedap masakan, pemilik Coto Mangkasara, Florentina Panti Rahayu, mengatakan pengetahuan keamanan pangan harus dimiliki bagi seluruh pengusaha bidang makanan, mulai golongan warung kaki 5 hingga hotel bintang 5.

“Saya yang hampir 15 tahun bergerak dalam bidang kuliner tentu sangat memperhatikan masalah food safety. Karena kita sebagai pengusaha harus berprinsip berdagang dengan beretika bermoral dan bertanggung jawab bagi masyarakat,” ujar Florentina.

Diskusi tentang MSG oleh Perkumpulan Pabrik Mononatrium Glutamat dan Asam Glutamat Indonesia (P2MI) di Jakarta – dok. Hidupgaya.co

Berkaitan dengan pembahasan MSG, menurut Florentina masyarakat  tidak perlu membabi buta berpandangan bahwa MSG itu mematikan. “MSG pada zamannya ditemukan oleh seorang profesor di Jepang. Artinya sudah melalui riset yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Menurut dia, hal terpenting adalah mengedukasi masyarakat apa itu MSG sampai sejauh mana aman dikonsumsi dengan takaran yang benar dan memberi alternatif bahan-bahan lain yang dapat memperkuat cita rasa gurih dalam masakan.

Tak kalah penting, Florentina menambahkan, dalam skala besar atau kecil usaha yang dijalankan harus memiliki Standard Operatiing Procedure (SOP). “itulah yang harus ditaati oleh pengusaha dan karyawannya. Dari mulai belanja bahan kita kan sudah tentukan apa saja yang harus kita belanja dan bagaimana takaran serta penyajiannya,” tandasnya.

Last but not least, atas nama P2MI, Satria berpesan agar masyarakat bijak dalam menggunakan MSG. “Pesan kami gunakan MSG secukupnya. Sesuai dengan kebutuhan. MSG tidak berbahaya dan aman digunakan. Perhatikan penyimpanan MSG  dan gunakan sesuai takaran, jangan berlebihan,” tandasnya. (HG)

Advertisement