Hidupgaya.co – Pertama kali bertemu dengan perempuan ini, yang terlintas adalah dia sosok optimistis meski dalam situasi sulit. Saat berbincang dengannya beberapa hari silam, ketika itu saya bahkan tak menyadari dia duduk di kursi roda hingga perbincangan berlangsung beberapa menit kemudian.

“Delapan tahun terakhir hidup saya bergantung pada kursi roda. Semua kegiatan saya lakukan di sini, termasuk bekerja,” cetus Ria R Christiana, perempuan tangguh yang menapak usia 50 tahun Mei silam dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di sebuah kafe bergaya Parisian chic di sebuah pusat belanja berlokasi di area Jakarta Selatan.

Ria R Christiana, pendiri Dbrandcom (dok. Hidupgaya.co)

Rupanya perempuan yang selama puluhan tahun malang melintang di bidang merek dan komunikasi ini didiagnosis kanker ovarium dan penyakit autoimun rheumatoid arthritis sejak 2014. Divonis dua penyakit ‘serius’ dalam kurun waktu hampir bersamaan tak membuat perempuan yang memiliki pengalaman profesional 25 tahun ini patah semangat. Justru dia merasa inilah bukti Allah menyayanginya. “Sempat divonis lumpuh, tapi atas kemurahan Allah saya bisa tetap berkarya hingga kini, bahkan menerbitkan buku. Jadi saya ini sakit produktif,” ujar Ria yang memutuskan hijrah dan lebih mendalami Islam sejak 2011.

Bagi yang belum tahu, rheumatoid arthritis merupakan gangguan peradangan kronis yang mempengaruhi banyak sendi, termasuk di tangan dan kaki. Pada kasus ini, sistem kekebalan tubuh menyerang jaringannya sendiri, termasuk sendi. Dalam kasus yang parah, penyakit ini bahkan menyerang organ internal.

Sejumlah literatur menyebut, rheumatoid arthritis mempengaruhi lapisan sendi, menyebabkan pembengkakan yang menyakitkan. Dalam jangka waktu yang lama, peradangan yang terkait dengan kondisi ini dapat menyebabkan erosi tulang dan deformitas sendi. Meskipun tidak ada obat untuk artritis reumatoid, fisioterapi dan pengobatan dapat membantu memperlambat perkembangan penyakit

“Dokter yang merawat selalu wanti-wanti agar saya bergembira, mengelola emosi agar penyakit tidak kumat,” tutur Ria yang dibantu dengan teknik healing, selain saran medis, untuk mengelola penyakitnya.

Meski harus menjalani hidup di kursi roda, namun Ria justru terlecut untuk membantu orang lain untuk memahami tentang proses branding dan membuat strategi untuk ‘Live the Brand Story’ dengan menulis 3 buku. Dalam salah satu bukunya, True Self My Brand Stories, Ria membantu para pemilik brand/merek, korporasi, hingga individu untuk memahami proses dalam melakukan pengembangan dan integrasi branding, membantu semua orang untuk menghidupkan brandnya.

“Setiap individu itu memiliki brandnya sendiri. Ria misalnya, meski sakit tapi happy, itu brand saya,” tuturnya dengan mata berbinar.

Ilustrasi buku True Self My Brand Stories (dok. HIdupgaya.co)

Konsep Bahagia dan Berguna Bagi Orang Lain

Bicara tentang bahagia, Ria mengakui masih banyak persepsi keliru soal ini. “Bahagia masih dipersepsikan datang dari sisi eksternal berupa materi seperti mobil, rumah, punya berlian dan karir yang maju. Padahal bahagia itu berasal dari internal diri, menjalankan misi hidup dengan kesadaran dan bermanfaat bagi orang lain. Happiness (kebahagiaan) itu sifatnya choice (pilihan),” tutur pendiri Dbrandcom, perusahaan strategi brand consulting, yang memiliki passion tentang merek dan perkembangan individu.

“Menjalankan peran dengan kesadaran bisa mendatangkan bahagia, dan semua itu tidak bergantung pada materi. Bahkan kita punya kendali, hari ini akan bahagia apa tidak, apapun situasinya. Ini yang kerap tidak kita sadari,” tutur pendiri Indonesia Syiar Network (ISN) yang juga aktif di organisasi nirlaba Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) untuk mengkampanyekan gerakan gaya hidup halal secara global dan mengembangkan literasi gaya hidup halal di Indonesia.

Ria mengakui, buku  True Self My Brand Stories, berisi tentang pengalaman dan proses kreatif yang dijalani selama malang melintang di dunia merek dan komunikasi selama puluhan tahun. “Buku ini dibuat tahun 2018, namun belum diterbitkan karena saya ingin mengujinya. Saat terbukti berhasil, setahun kemudian saya percaya diri buku ini diterbitkan untuk dinikmati khalayak umum,” terangnya.

Pendiri perusahaan konsultan merek strategis Dbrandcom, yang berfokus pada manajemen merek & pengembangan sumber daya manusia, untuk membangun merek sendiri, kita harus mengenali dulu siapa kita, apa passion yang kita miliki dan sebagainya. “Personal branding itu perlu agar orang kenal kita dan selanjutnya bermanfaat bagi orang lain. Misalnya, kita jago menulis atau fotografi. Itulah brang yang perlu dikembangkan. Di buku, saya gunakan EDA Framework (Embrace myself, Design my brand, Act upon it). Embrace myself memiliki makna, kita ini spesial namun orang lain juga spesial namun kita unik dan autentik. Selanjutnya berani mempelajari value yang unik yang akhirnya akan menjadi kita lebih percaya diri,” ujarnya.

Dukungan Pasangan Tanpa Batas

Di sela passionnya yang tinggi dalam diskusi brand dan komunikasi, Ria bersyukur memiliki suami yang mencurahkan waktu nyaris 24 jam mengurus dirinya yang 8 tahun harus mengandalkan kursi roda. “Saat divonis kanker dan penyakit autoimun 8 tahun lalu, saya bahkan sempat bilang tak mengapa kalau suami mau menikah lagi. Saya pasrahkan semua ketentuan kepada Allah. Tapi rupanya dengan bersikap pasrah dan tawakal, Allah justru menjaga hati suami saya dan hingga detik ini masih membersamai saya. Jadi selama 19 tahun menikah, 8 tahun ini saya habiskan di kursi roda dan suami saya dengan ikhlas mengurus semua hal untuk saya, termasuk urusan mandi. Terima kasih ya Akang,” ujar Ria seraya menatap sang suami yang sore itu mendampinginya.

Terdorong rasa penasaran, saya memutuskan bertanya kepada Mirza Muhamad, suami Ria, yang menjadi Direktur PT Mada Indones Semesta, yang menaungi Dbrandcom. “Ria itu hadiah dari Allah buat saya. Ria sabar ngadepin sakitnya. Dulu kami selalu sibuk dengan agenda masing-masing. Saat Ria sakit, hikmahnya justru kami ketemu terus setiap hari selama 24 jam. Saat meeting ke Bandung selama satu hari saja saya merasa ada yang hilang saat tidak bersamanya,” tuturnya.

Ilustrasi buku True Self My Brand Stories (dok. HIdupgaya.co)

Mirza mengaku, sang istri mengajarkan untuk hijrah. “Saya mendapat semangatnya. Merasa lebih dekat dan connected. Itulah yang membuat saya ingin selalu bersamanya, apapun situasinya,” tuturnya mantap.

Hijrah bagi Ria dan Mirza menjadi semacam ‘pembebasan jiwa’ untuk memberi manfaat lebih bagi orang lain. “Dakwah itu membebaskan jiwa karena mengajak dalam kebaikan. Saya ingin mengajak kaum profesional kreatif lebih mengenal Islam melalui dakwah yang menyejukkan. Saya bahkan melakukan syiar (bersama Indonesia Syiar Network) sampai ke London, membawa napas Islam itu rahmatan lil alamin. Berharap akan lebih banyak orang mengenal Islam,” tandas Ria mengakhiri perbincangan kami sore itu. (HG)