Hidupgaya.co – Zayed Sustainability Prize (ZSP) merupakan penghargaan terhadap program berkelanjutan dari Uni Emirat Arab, yang mengajak Usaha Kecil Menengah (UKM), Organisasi Nirlaba dan Sekolah Menengah yang memiliki solusi keberlanjutan untuk mendaftarkan diri di lima kategori yaitu Kesehatan (Health), Pangan (Food), Energi (Energy), Air (Water), dan Sekolah Menengah Dunia (Global High Schools. Pendataran ZSP 2023 telah dibuka hingga 6 Juli 2022 melalui portal daring https://zayedsustainabilityprize.com.

Salah satu peserta yang pernah mengikuti ZSP dari Indonesia, Riyadno, seorang socialpreneur dan pendiri Smart Farm Academy berbagi pengalamannya saat harus bersaing dengan peserta dari beberapa negara lain. Meskipun belum menang, namun pria kelahiran Purworejo, Jawa Tengah mengakui banyak hal berharga yang bisa dia petik.

Ilustrasi Live IG @AsahKebaikan x Zayed Sustainability Prize (ZSP)

ZSP bukan sekadar meraih kemenangan, sebut Riyadno, melainkan ajang mentoring untuk pengembangan kegiatannya. “Sejak awal kita sebenarnya belum pantas untuk ikut ajang perlombaan secara internasional. Tapi, saya berpikir tujuannya bukan menang, tujuan kita belajar,” ujar Riyadno yang melakukan pembinaan dan ketrampilan teknik bertani bagi anak muda di lingkungannya dalam live Instagram #Asahkebaikan, baru-baru ini.

Setelah mengikuti lomba ZSP, Riyadno mengaku memiliki sudut pandang yang lebih luas. “Setidaknya dari situ kita mempunyai kerangka berfikir bagaimana mengubah suatu masyarakat serta prosesnya,” ujarnya.

Banyak keuntungan yang didapat Riyadno setelah mendaftar ke ZSP yakni banyak donatur yang ‘mengantre’ untuk membiayai kegiatannya. “Alhamdulillah jadi semakin dikenal dan banyak donatur,” tuturnya.

Tahun ini, Riyadno berencana akan mengikuti ZSP lagi. Kali ini persiapannya lebih matang dibanding tahun sebelumnya. “Kali ini saya akan fokus dalam satu masalah untuk diperdalam hingga informasi dan serta presentasi yang disampaikan bisa dimengerti oleh juri dalam bentuk video berdurasi 2 menit,” ujarnya.

Untuk ajang ZSP tahun ini, Riyadno bakal mengedepankan inovasi kegiatan yang selama ini dilakukannya melalui Smart Farm Academy, pelatihan petani cerdas. Inovasi pelatihan petani cerdas dari hulu sampai hilir, baik sumber daya manusia, teknologi pertanian, maupun spiritual petani. “Tiga itu yang akan kita tonjolkan,” jelasnya.

Selama ini, Riyadno mengelola Smart Farm Academy yang merupakan pelatihan petani untuk anak muda. Kegiatan ini berdasarkan dorongan spiritual mengajak anak muda untuk menjadi petani. Ia menargetkan dapat menghasilkan 74 ribu patriot pangan atau petani dalam 10 tahun. “Saat ini baru mencapai 300-500 petani, jauh dari target yang dituju,” dia mengakui.

Kamal Fitrianto, perwakilan ZSP Indonesia, menilai bahwa selama ini peserta dari Indonesia belum mempersiapkan perlombaan secara maksimal. Banyak ide-ide peserta dari Indonesia yang tidak kalah dengan peserta dari luar negeri. Sayangnya teknis perlombaan kerap menjadi penghalang untuk meraih kemenangan, seperti dalam pembuatan video.

“Video (Indonesia) isinya sambutan-sambutan kepala desa. Padahal, video yang dilombakan mestinya berupa kegiatan. Terutama, kondisi sebelum adanya inovasi dan hasil yang dicapai setelah adanya inovasi. Hal itulah yang akan dilihat oleh para juri,” tandas Kamal. (HG)