Hidupgaya.co – Melek asuransi dipercaya dapat memutus fenomena generasi sandwich. Mungkin istilah generasi sandwich cukup dikenal, yakni sebutan bagi orang-orang tertentu yang umumnya berusia matang alias produktif (setengah tua) yang memiliki peran ganda, bukan hanya bertanggung jawab bagi anak-anaknya, namun juga orang tua/mertua.

Dengan demikian, orang-orang yang termasuk dalam generasi sandwich memiliki tanggung jawab besar, bukan semata mengurus diri sendiri atau pasangan: Mereka juga turut menanggung beban generasi sebelum dan sesudahnya. Posisi yang berada di antara dua generasi itulah yang kemudian membuat seseorang diibaratkan seperti sandwich (roti lapis).

Ilustrasi generasi sandwich (dok. istimewa)

Bonita Larope, praktisi dan certified financial planner mengatakan, masih banyak masyarakat kita yang belum memikirkan tentang perlunya proteksi/asuransi karena berbagai sebab, antara lain karena masih merasa muda dan sehat. “Ini pemahaman yang keliru. Proteksi asuransi bagi saya bisa memutus generasi sandwich. Banyak orang yang harus menanggung beban orang tua saat sakit, keluarga juga anak. Tiga komponen yang harus ditanggung. Dengan gencarkan pentingnya manfaat proteksi diharapkan anak-anak muda milenial mulai peduli soal ini,” terang Bonita menjawab pertanyaan Hidupgaya.co dalam temu media terbatas yang dihelat Perhimpunan Agen Asuransi Indonesia (PAAI) di Jakarta, Senin (14/3/3022).

Guna menggaungkan pentingnya proteksi di kalangan anak muda, Bonita menyebut sejumlah perusahaan asuransi mulai merekrut kalangan milenial yang akan mengedukasi teman-temannya tentang pentingnya merencanakan keuangan, termasuk asuransi, di media sosial.

“Menjadi generasi sandwich itu berat banget. Karenanya orang tua harus mandiri dan mengajarkan anak-anak hal yang sama agar saat menua tidak menjadi beban anak-anaknya. Hal ini yang harus diajarkan kepada generasi milenial sejak dini,” beber Bonita.

Kesempatan sama, Duta PAAI Deddy Karyanto mengakui mengedukasi masyarakat Indonesia, khususnya anak muda, bahwa proteksi itu penting. “Terlebih dalam kondisi pandemi saat ini, memiliki asuransi menjadi sebuah kebutuhan karena asuransi dapat memproteksi risiko finansial nasabah di masa depan,” terangnya.

Dikatakan Deddy, kaum milenial umumnya melek teknologi dan mengakses informasi melalui internet, tanpa perlu bertanya kepada orang tua. “Generasi milenial lebih gampang cari informasi khususnya terkait perencana keuangan, termasuk asuransi. Memiliki proteksi itu penting karena akan mengurangi bencana keuangan di tiap keluarga dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu,” urainya.

Wong Sandy Surya selaku pendiri PAAI sepakat bahwa kaum milenial mulai aktif mencari informasi keuangan melalui media sosial terutama Instagram. “Beberapa agensi bahkan mulai merekrut online dengan menyasar kalangan milenial. Kita harus beradaptasi mengikuti perubahan zaman,” ujarnya.

Sandy menambahkan, Perhimpunan Agen Asuransi Indonesia terus mendorong kompetensi dan profesionalisme agen asuransi sehingga pesan penting tentang asuransi sebagai proteksi finansial masa datang dapat tersosialisasikan dan diterima dengan baik di masyarakat. Untuk tujuan ini, PAAI akan selalu hadir sebagai wadah para agen untuk lebih profesional dalam memberikan layanan terbaik kepada nasabah. 

PAAI yang memasuki tahun keenam akan terus menggelar berbagai program dalam mencerdaskan para agen asuransi untuk lebih profesional, mengusung jargon ‘Profesi untuk kepentingan nasabah’. “Untuk mendukung hal ini kami akan membuat beragam program, seperti membuka kelas khusus, yang akan diisi oleh team training yang merupakan para praktisi berpengalaman,” terang Sandy.

Mengingat pentingnya asuransi dan besarnya manfaat yang diberikan, Sandy berharap semakin banyak agen yang akan bergabung dalam wadah PAAI. Sehingga secara bersama-sama berjuang dengan ritme yang sama dalam meningkatkan sumbangsih dan partisipasi industri asuransi dalam membangun perekonomian. (HG)