Hidupgaya.co – Keguguran adalah komplikasi kehamilan yang paling umum dan terjadi pada sekitar satu dari lima kehamilan. Sebuah studi baru menemukan hal menarik, yaitu perubahan mikrobioma vagina ibu mungkin terkait dengan keguguran. Para peneliti mengatakan masuk akal bahwa peradangan yang disebabkan oleh perubahan bakteri ini dapat menyebabkan keguguran, menurut studi baru yang dipublikasikan di BMC Medicine.

Penulis pertama studi tersebut, Dr. Karen Grewal, dari Imperial’s Department of Metabolism, Digestion and Reproduction, menyampaikan bahwa temuan itu dapat memberikan perspektif baru tentang penyebab keguguran. “Ada banyak gagasan tentang bagaimana peradangan ini dapat menyebabkan keguguran, seperti organisme bakteri vagina tertentu yang memicu peradangan hulu yang menyebabkan kerusakan di dalam lapisan rahim,” terangnya.

Ilustrasi kehamilan (dok. istimewa)

Memahami penyebab keguguran dapat membantu mencegah kejadian ini serta meringankan beban orang yang mengalaminya, yang pada gilirannya meningkatkan hasil kesehatan mental mereka. 

Namun, sementara setengah dari semua kasus terjadi karena kelainan kromosom pada embrio, sedikit yang diketahui tentang penyebab keguguran pada kehamilan tanpa kelainan ini.

Salah satu penyebab potensial bisa jadi adanya perubahan mikrobioma vagina ibu, seperti yang ditunjukkan dalam studi baru. Secara umum, mikrobioma vagina yang sehat kaya akan Lactobacilli penghasil asam yang membantu mencegah pertumbuhan bakteri berbahaya lainnya. Namun, ketika ada ketidakseimbangan dalam mikrobioma, bakteri lain ini dapat berkembang biak.

Penelitian ini melibatkan 167 wanita hamil yang direkrut dari Unit Kehamilan Dini di Rumah Sakit Queen Charlotte’s & Chelsea antara Maret 2014 hingga Februari 2019. Pasien direkrut setelah keguguran atau jika mereka mengalami rasa sakit dan/atau pendarahan selama trimester pertama kehamilan. 

Peserta yang telah mengambil antibiotik, probiotik atau suplemen progesteron ketika sampel diambil tidak dimasukkan dalam penelitian karena ini mungkin telah mengubah mikrobioma vaginanya.

Secara total, 93 wanita dalam penelitian ini mengalami keguguran dan 74 tidak dan melahirkan cukup bulan. Dari wanita yang mengalami keguguran, 54 tidak memiliki kelainan kromosom pada embrio.

Para peneliti memeriksa bakteri vagina yang ada pada semua wanita ini, serta mencari tanda-tanda peradangan molekuler. Pada wanita yang keguguran dengan kromosom ‘normal’ para peneliti menemukan ada pengurangan jumlah Lactobacilli dalam mikrobioma vagina dibandingkan dengan wanita dengan keguguran kromosom abnormal.

Para peneliti juga menemukan tingkat peradangan yang tinggi pada pasien dengan keguguran dengan kromosom normal yang memiliki bakteri seperti Prevotella dan Streptococcus, bukan Lactobacilli.

Dalam studi tersebut, beberapa wanita yang melahirkan cukup bulan mengalami penurunan Lactobacilli, tetapi sistem kekebalan mereka tidak bereaksi terhadap hal ini dan tidak menyebabkan peradangan.

Para peneliti mengatakan temuan mereka menunjukkan penyebab keguguran yang berpotensi dapat diobati, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi hubungan tersebut terlebih dahulu. Ini termasuk penelitian untuk memahami jenis bakteri lain yang berkembang biak ketika ada ketidakseimbangan dan seberapa spesifik mereka menyebabkan peradangan untuk beberapa – namun tidak semua wanita.

Para peneliti juga sedang mengerjakan tes baru untuk menganalisis mikrobioma vagina dengan cepat, karena mereka percaya hal ini dapat membantu mengidentifikasi wanita yang dapat mengambil manfaat pengobatan untuk mengurangi risiko keguguran. 

Namun demikian peneliti mengakui belum jelas rezim intervensi mana yang dapat mengubah mikrobioma vagina dan meningkatkan hasil kehamilan.

Penulis utama Profesor Phillip Bennett, dari Imperial’s Department of Metabolism, Digestion and Reproduction, mengatakan apabila dikonfirmasi oleh penelitian lebih lanjut, hal ini menunjukkan bahwa mikrobioma vagina mungkin berperan dalam keguguran.

Dia menjelaskan, hal ini dapat menyoroti peran penting kebersihan vagina yang baik di awal kehamilan. Misalnya, mencuci vagina secara teratur, menghindari sabun wangi, gel dan antiseptik yang dapat mempengaruhi keseimbangan bakteri dan kadar asam yang sehat di vagina. “Sebaiknya jangan menggunakan pembersih vagina karena ini dapat mengganggu flora normal di area itu,” kata peneliti.

“Temuan awal tidak memberikan informasi yang cukup bagi kami untuk mengatakan bahwa ada hubungan antara produk semacam ini dan keguguran, tetapi studi menyarankan kita perlu melihat lebih dekat pada peran mikrobioma vagina,” tandas Profesor Phillip Bennett dikutip dari MedicalXpress. (HG)