Hidupgaya.co – Diakui atau tidak, kaum muda dinilai payah dalam mengelola keuangan. Generasi milenial dan gen Z di Indonesia dikatakan memiliki kemampuan manajemen keuangan yang ‘memprihatinkan’ akibat gaya hidup yang cenderung lebih boros, sulit menabung, serta tidak terlalu mempedulikan investasi untuk kebutuhan mendatang.

Disampaikan influencer sekaligus investment storyteller, Felicia Putri Tjiasaka, ada beberapa faktor yang membuat kaum milenial dan gen Z ini boros dan sulit menabung, seperti akses internet yang memperbolehkan kita melihat dunia yang lebih luas dan juga e-commerce yang mendemokratisasi pembelian barang antar kota, provinsi dan bahkan negara. “Dengan dua kemudahan ini, milenial dan gen Z cenderung lebih banyak mau dan kemudian boros,” tuturnya di sela diskusi Sampoerna Mobile Banking (SMB), Kamis (27/1/2022).

Ilustrasi kelola keuangan (dok. istimewa)

Felicia menambahkan, tren seperti FOMO (Fear of Missing Out), YOLO (You Only Live Once) yang marak di media sosial, serta tantangan menjadi generasi sandwich (generasi yang harus menanggung hidup orang tua, diri sendiri, dan anak atau adik-adik), membelenggu banyak generasi muda.

Padahal, para generasi muda ini cenderung lebih paham dan teredukasi dengan investasi terkini. Namun, mereka lebih sulit mengatur mindset dan psikologis terkait tren seperti FOMO dan YOLO, jika dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.

Felicia berasumsi, mungkin hal itu terjadi karena faktor usia yang masih muda dan belum melewati banyak krisis ekonomi. Oleh karena itu, Gen Z dan Milenial perlu belajar menahan diri terhadap godaan sesaat, memperbaiki mindset investasi dengan menghargai proses dan juga belajar untuk konsisten.

“Salah satu cara untuk memastikan keuangan yang sehat serta masa depan finansial aman adalah dengan hidup secukupnya, membuat anggaran harian, bulanan, dan tentunya memiliki tabungan plus dana darurat,” saran Felicia.

Kesempatan sama, pelaku gaya hidup minimalis, Olga Agata berbagi pengalaman dalam menjalani hidup minimalis yang ia sebut sebagai mindful living. “Gaya hidup minimalis menurut saya bukan serta merta tentang memakai baju warna monokrom dan memiliki sedikit barang. Lebih dari itu, perlu kesadaran untuk mengenal kebutuhan diri sendiri, melepas keterikatan yang tidak diperlukan dan ‘hadir’ dalam setiap pengambilan keputusan,” tuturnya.

Dengan begitu, imbuh Olga, setiap pengeluaran menjadi lebih bijaksana dan setiap pemasukan senantiasa memberikan rasa cukup. “Dengan rasa cukup, kita jadi tidak mudah merasa iri dengan kehidupan orang lain yang kita lihat dari media sosial,” terangnya.

Menanggapi hal itu, Finance & Business Planning Director Bank Sampoerna, Henky Saputra, menyampaikan belajar dari krisis ekonomi yang mendadak terjadi, seperti pandemi Covid-19, pentingnya hidup terencana, seperti memiliki tabungan dan hidup hemat semakin terasa.

“Kami ingin membantu menyiapkan generasi milenial sebagai penggerak perkonomian di masa depan dengan memperkenalkan mereka kepada gaya hidup minimalis sebagai salah satu cara untuk belajar bijak dalam pengeluaran dan mengelola keuangan mereka tanpa perlu merasa takut ketinggalan tren.,” ujar Henky.

Henky berharap, pola pikir ini dapat meminimalikan risiko finansial akibat situasi ekonomi yang dapat memburuk kapan saja dan secara mendadak pada masa mendatang. Terkait dengan hal itu, Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) melakukan peningkatan layanan mobile banking sekaligus mempertegas identitas layanannya dengan memperkenalkan Sampoerna Mobile Banking (SMB).

“Sebelumnya layanan mobile banking ini bernama BSS Mobile. Peningkatan layanan ini dilakukan untuk mempermudah nasabah milenial dalam menabung serta melakukan berbagai transaksi perbankan,” terang Henky.

“Di era yang serba digital ini, kebutuhan nasabah akan transaksi digital semakin meningkat. Sampoerna Mobile Banking merupakan jawaban atas setiap kebutuhan transaksi digital generasi milenial,” tandas Henky seraya menambahkan nilai lebih yang ditawarkan berupa undian setiap bulan dan triwulanan melalui tabungan Sampoerna Mobile Saving diharapkan menumbuhkan kebiasaan menabung nasabah. (HG)