Hidupgaya – Indonesia belakangan ini banyak ditimpa bencana, mulai dari gunung meletus hingga banjir. Dompet Dhuafa termasuk salah satu lembaga kemanusiaan yang turun tangan dalam penanganan korban Gunung Semeru, Lumajang Jawa Timur.

Dompet Dhuafa turun ke lapangan menyelamatkan korban mulai hari pertama terjadinya guguran awan panas Gunung Semeru, Sabtu (4/12/2021). “Dompet Dhuafa hadir sejak hari pertama, teman-teman dari Dompet Dhuafa Jawa Timur bergerak melakukan respons pertama, melakukan assessment dengan menerjunkan 43 personil, 2 kendaraan taktis, 4 ambulan yang siaga memberikan layanan kesehatan,” beber Kepala Disaster Management Center Dompet Dhuafa, Haryo Mojopahit, dalam IG Live @AsahKebaikan dengan tema Meminimalisasi Korban Bencana Alam, baru-baru ini.

Ilustrasi tanggap bencana Dompet Dhuafa (dok. istimewa)

Selain itu, imbuh Haryo, bersama Dinas Peternakan, Dompet Dhuafa menyelamatkan hewan ternak yang menjadi aset masyarakat. Hewan ternak juga sebagai pemancing supaya masyarakat mau meninggalkan rumah untuk mengungsi di tempat yang aman. Upaya yang dilakukan termasuk memberikan pakan ternak.

Tim Dompet Dhuafa juga ikut membersihkan sampah supaya tidak menjadi sarang penyakit. Hingga saat ini, bencana alam Gunung Semeru masih dalam tahap tanggap darurat. “Tanggap darurat sampai 3 Januari. Selama satu bulan kita masih melakukan pencaharian (korban),” ujar Haryo.

Korban luka-luka termasuk luka bakar telah ditangani. Korban dirujuk di rumah sakit di Malang. Nanti jika penuh, maka korban akan dirujuk di rumah sakit di sekitar Malang. “Sebanyak 6.500 orang dapat tertangani dengan baik karena adanya kerja sama pemerintah, lembaga kemanusiaan dan berbagai pihak,” terang Haryo.

Haryo menyampaikan, dalam menangani korban bencana, Dompet Dhuafa tidak hanya menangani saat tanggap bencana namun juga pemulihan bahkan sampai memulihkan ekonomi. “Upaya pemulihan trauma psikis dilakukan dengan menyelenggarakan beberapa aktivitas. Untuk anak- anak, Dompet Dhuafa membuka Sekolah Ceria,” bebernya.

Untuk melihat apakah anak ada yang menarik diri bisa diamati saat mereka bermain. “Jika, ada anak yang menarik diri sebagai indikator bahwa anak tersebut memerlukan penanganan khusus. Jika perlu penanganan khusus dapat dirujuk ke psikiater,” ujarnya.

Haryo menambahkan, dapur umum yang biasa sebagai sarana penyedia logistik juga berfungsi sebagai ruang aktivitas para ibu guna memulihkan psikis usai terkena bencana. “Ibu-ibu dapat memasak bersama. Sedangkan, bapak-bapak dapat ikut membantu membuat hunian sementara. Ini aktivitas untuk menghilangkan ketegangan dan kecemasan,” bebernya.

Tahap pemulihan, sebut Haryo, dilakukan supaya korban bencana dapat memulihkan kondisi emosinya setelah bencana. “Sehingga, mereka dapat kembali bersekolah atau melakukan aktiftas seperti sebelum terjadinya bencana,” tandasnya. (HG)