Tantangan Pembelajaran Jarak Jauh: Guru dan Orangtua Harus Tangguh

on

Hidupgaya – Di masa pandemi COVID-19, Indonesia berada pada satu perubahan besar yang berkaitan erat dengan ekonomi, politik, dunia kerja dan pola kehidupan dalam masyarakat. Tak terkecuali dengan pendidikan, yang berubah dari tatap muka langsung menjadi bersekolah di rumah dengan memanfaatkan platform digital.

Terkait dengan pembelajaran jarak jauh ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Siberkreasi dan tim Komunikasi Sosial Politik Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) menghelat Webinar Digital Society yang membahas mengenai Tantangan dan Solusi Menghadapi Pembelajaran Jarak Jauh.

Webinar menghadirkan dua narasumber yaitu psikolog klinis Liza M. Djaprie, dan Wijaya Kusumah dari IG TIK – PGRI. Webinar yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut diikuti oleh 400 peserta yang tergabung di aplikasi Zoom dan disiarkan secara langsung melalui kanal youtube Siberkreasi dan Lawan Covid19 ID. 

Mengenai pembelajaran jarak jauh yang dihadapi anak usia sekolah, Liza mengatakan bahwa tantangan yang dihadapi anak-anak di era pandemi ini bisa jauh lebih berat karena fase kanak-kanak adalah fase bermain, juga kemampuan analisa dan verbal anak masih terbatas serta anak belum memiliki kemampuan regulasi stres yang baik.

Selain itu, anak juga masih sangat bergantung pada lingkungan dan anak adalah ‘penyerap lingkungan’ yang baik. “Kalau di psikologi ada satu teori ‘children see, children do’, apapun yang anak lihat, anak lakukan, dalam konsep ini berarti sebelum mencetak anak tangguh, orangtua dan guru dulu yang harus tangguh,” ujar Liza.

Pengajar juga mengalami tantangan pembelajaran jarak jauh. Menurut penuturan Wijaya Kusumah, guru-guru harus lebih banyak belajar beradaptasi dan berinovasi. Peran pendidik sangat penting dalam terciptanya pembelajaran daring yang efektif dan menyenangkan.  “Memang internet menjadi salah satu kendala dalam pembelajaran jarak jauh, tapi esensinya sebenarnya bapak ibu guru harus bisa menggunakan berbagai media seperti sms, telepon, email, atau untuk daerah yang sudah hijau dan bisa bertemu. Bapak ibu bisa berkunjung, nama istilahnya ‘guling’ atau guru keliling,” ujar Wijaya.  (HG)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s